MODEL PEMBELAJARAN
Berikut akan di paparkan macam-macam
metode pembelajaran yang efektif untuk dapat dilaksanakan. Khususnya para pendidik atau juga para calon pendidik. Selama ini kita
hanya familiar bahkan
selalu menggunakan metode seperti ceramah. padahal banyak selain metode tersebut yang dapat digunakan
dan efektif dalam usaha meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap
materi yang kita sampaikan dan pada akhirnya tujuan dari pembelajaran yang
sudah kita tetapkan di awal tercapai dengan baik dan akan tecipta pembelajaran
yang berkualitas serta tercipta pengalaman-pengalaman yang menarik.
Selanjutnya anda dapat mengklik
metode di bawah ini, karena dalam micro teaching di daftar mata kuliah saya dan
termasuk kedalam pembahasan kependidikan jadi disini akan dijelaskan secara
singat untuk masing-masing metode tersebut.
Model
Pembelajaran EXAMPLE NON EXAMPLE
- Pengertian
Model
Pembelajaran Example Non Example atau juga biasa di sebut example and
non-example merupakan model pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media
pembelajaran. Metode Example non Example adalah metode yang
menggunakan media gambar dalam penyampaian materi pembelajaran yang bertujuan
mendorong siswa untuk belajar berfikir kritis dengan jalan memecahkan
permasalahan-permasalahan yang terkandung dalam contoh-contoh gambar yang
disajikan.
Penggunaan media gambar ini disusun dan dirancang agar anak dapat menganalisis
gambar tersebut menjadi sebuah bentuk diskripsi singkat mengenai apa yang ada
didalam gambar. Penggunaan Model Pembelajaran Example Non Example ini lebih
menekankan pada konteks analisis siswa. Biasa yang lebih dominan digunakan di
kelas tinggi, namun dapat juga digunakan di kelas rendah dengan menenkankan
aspek psikoligis dan tingkat perkembangan siswa kelas rendah seperti :
a. kemampuan berbahasa tulis dan
lisan,
b. kemampuan analisis ringan, dan
c. kemampuan berinteraksi dengan siswa lainnya
Model Pembelajaran Example Non
Example menggunakan gambar dapat melalui OHP, Proyektor, ataupun yang paling
sederhana adalah poster. Gambar yang kita gunakan haruslah jelas dan kelihatan
dari jarak jauh, sehingga anak yang berada di belakang dapat juga melihat
dengan jelas.
B. Ciri-ciri
Metode Example non Example juga
merupakan metode yang mengajarkan pada siswa untuk belajar mengerti dan
menganalisis sebuah konsep. Konsep pada umumnya dipelajari melalui dua cara.
Paling banyak konsep yang kita pelajari di luar sekolah melalui pengamatan dan
juga dipelajari melalui definisi konsep itu sendiri. Example and Nonexample
adalah taktik yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi konsep.
Strategi yang diterapkan dari metode ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa
secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang terdiri dari example dan non-example
dari suatu definisi konsep yang ada, dan meminta siswa untuk mengklasifikasikan
keduanya sesuai dengan konsep yang ada.
– Example memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu
materi yang sedang dibahas, sedangkan
– non-example memberikan gambaran akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu
materi yang sedang dibahas.
Metode Example non Example penting dilakukan karena suatu definisi konsep
adalah suatu konsep yang diketahui secara primer hanya dari segi definisinya
daripada dari sifat fisiknya. Dengan memusatkan perhatian siswa terhadap
example dan non-example diharapkan akan dapat mendorong siswa untuk menuju
pemahaman yang lebih dalam mengenai materi yang ada.
C Kelebihan dan Kekurangan.
Menurut Buehl (1996) keuntungan dari metode Example non Example antara lain:
1. Siswa berangkat dari satu definisi yang selanjutnya digunakan untuk
memperluas pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih komplek.
2. Siswa terlibat dalam satu proses discovery (penemuan), yang mendorong mereka
untuk membangun konsep secara progresif melalui pengalaman dari Example non
Example
3. Siswa diberi sesuatu yang berlawanan untuk mengeksplorasi karakteristik dari
suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non example yang dimungkinkan masih
terdapat beberapa bagian yang merupakan suatu karakter dari konsep yang telah
dipaparkan pada bagian example.
Kebaikan:
1. Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar.
2. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.
3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.
Kekurangan:
1. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.
2. Memakan waktu yang lama.
- Langkah-langkah :
- Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan
pembelajaran
- Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan
melalui OHP
- Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa
untuk memperhatikan/menganalisa gambar
- Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi
dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
- Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil
diskusinya
- Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai
menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
- Kesimpulan
MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND
PICTURE
Salah satu model yang saat ini
populer dalam pembelajaran adalah Model Pembelajaran Picture and Picture ini
merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran
kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya
kelompok-kelompok. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara
sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling asah, silih asih, dan
silih asuh. Model pembelajaran Picture and Picture adalah suatu metode belajar
yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis.
Pembelajaran ini memiliki ciri Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan.
Model apapun yang digunakan selalu menekankan aktifnya peserta didik dalam
setiap proses pembelajaran. Inovatif setiap pembelajaran harus memberikan
sesuatu yang baru, berbeda dan selalu menarik minat peserta didik. Dan Kreatif,
setiap pembelajarnya harus menimbulkan minat kepada peserta didik untuk
menghasilkan sesuatu atau dapat menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan
metoda, teknik atau cara yang dikuasai oleh siswa itu sendiri yang diperoleh
dari proses pembelajaran.
Model Pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses
pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi factor utama dalam proses pembelajaran.
Sehingga sebelum proses pembelajaran guru sudah menyiapkan gambar yang akan
ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam bentuk carta dalam ukuran besar.
Atau jika di sekolah sudah menggunakan ICT dalam menggunakan Power Point atau
software yang lain.
Menurut Johnson & Johnson , prinsip dasar dalam model pembelajaran
kooperatif picture and picture adalah sebagai berikut:
1. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang
dikerjakan dalam kelompoknya.
2. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota
kelompok mempunyai tujuan yang sama.
3. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang
sama di antara anggota kelompoknya.
4. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
5. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan
keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
6. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara
individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Sesuai dengan namanya, tipe ini menggunakan media gambar dalam proses
pembelajaran yaitu dengan cara memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi
urutan yang logis. Melalui cara seperti ini diharapkan siswa mampu berpikir
dengan logis sehingga pembelajaran menjadi bermakna.
Langkah-langkah dalam Model Pembelajaran Picture and Picture adalah sebagai
berikut:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
Di langkah ini guru diharapkan untuk menyampaikan apakah yang menjadi
Kompetensi Dasar mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian maka siswa
dapat mengukur sampai sejauh mana yang harus dikuasainya. Disamping itu guru
juga harus menyampaikan indicator-indikator ketercapaian KD, sehingga sampai
dimana KKM yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik.
2. Menyajikan materi sebagai pengantar.
Penyajian materi sebagai pengantar sesuatu yang sangat penting, dari sini guru
memberikan momentum permulaan pembelajaran. Kesuksesan dalam proses
pembelajaran dapat dimulai dari sini. Karena guru dapat memberikan motivasi
yang menarik perhatian siswa yang selama ini belum siap. Dengan motivasi dan
teknik yang baik dalam pemberian materi akan menarik minat siswa untuk belajar
lebih jauh tentang materi yang dipelajari.
3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan
materi.
Dalam proses penyajian materi, guru mengajar siswa ikut terlibat aktif dalam
proses pembelajaran dengan mengamati setiap gambar yang ditunjukan oleh guru
atau oleh temannya. Dengan Picture atau gambar kita akan menghemat energy kita
dan siswa akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Dalam perkembangakan
selanjutnya sebagai guru dapat memodifikasikan gambar atau mengganti gambar
dengan video atau demontrasi yang kegiatan tertentu.
4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan
gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
Di langkah ini guru harus dapat melakukan inovasi, karena penunjukan secara
langsung kadang kurang efektif dan siswa merasa terhukum. Salah satu cara
adalah dengan undian, sehingga siswa merasa memang harus menjalankan tugas yang
harus diberikan.
Gambar-gambar yang sudah ada diminta oleh siswa untuk diurutan, dibuat, atau
dimodifikasi.
5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
Setelah itu ajaklah siswa menemukan rumus, tinggi, jalan cerita, atau tuntutan
KD dengan indicator yang akan dicapai. Ajaklah sebanyak-banyaknya peran siswa
dan teman yang lain untuk membantu sehingga proses diskusi dalam PBM semakin
menarik.
6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi
sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
Dalam proses diskusi dan pembacaan gambar ini guru harus memberikan
penekanan-penekanan pada hal ini dicapai dengan meminta siswa lain untuk
mengulangi, menuliskan atau bentuk lain dengan tujuan siswa mengetahui bahwa
hal tersebut penting dalam pencapaian KD dan indicator yang telah ditetapkan.
Pastikan bahwa siswa telah menguasai indicator yang telah ditetapkan.
7. Kesimpulan/rangkuman
Di akhir pembelajaran, guru bersama siswa mengambil kesimpulan sebagai
penguatan materi pelajaran
Kelebihan dan kekurangan model
pembelajaran Picture and Picture:
Kelebihan:
1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
2. Melatih berpikir logis dan sistematis.
3. Membantu siswa belajar berpikir berdasarkan sudut pandang suatu subjek
bahasan dengan memberikan kebebasan siswa dalam praktik berpikir,
4. Mengembangkan motivasi untuk belajar yang lebih baik.
5. Siswa dilibatkan daiam perencanaan dan pengelolaan kelas
Kekurangan:
1. Memakan banyak waktu
2. Banyak siswa yang pasif.
3. Guru khawatir bahwa akan terjadi kekacauan dikelas.
4. Banyak siswa tidak senang apabila disuruh bekerja sama dengan yang lain
5. Dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai
KESIMPULAN
Model pembelajaran Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang
menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis.
Pembelajaran ini memiliki ciri Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan.
Model Pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses
pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi factor utama dalam proses pembelajaran.
Menurut Johnson & Johnson , prinsip dasar dalam model pembelajaran
kooperatif picture and picture adalah sebagai berikut:
1. Setiap anggota kelompok (siswa)
bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
2. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota
kelompok mempunyai tujuan yang sama.
3. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang
sama di antara anggota kelompoknya.
4. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
5. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan
keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
6. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara
individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Langkah-langkah dalam Model Pembelajaran Picture and Picture adalah sebagai
berikut:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Menyajikan materi sebagai pengantar.
3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan
materi.
4. Guru menunjuk siswa secara bergantian untuk mengurutkan gambar-gambar secara
logis
5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi
sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
7. Kesimpulan/rangkuman

Model Pembelajaran Numbered Head
Together (NHT)
Model Pembelajaran Numbered Head
Together (NHT)
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
NHT, Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan
adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk
mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok
kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat
secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam
hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni
mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran
kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk
mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan
penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000: 28)
dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu
pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran
kooperatif dengan tipe NHT yaitu :
- Hasil belajar akademik stuktural
Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
2. Pengakuan adanya keragaman
Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai
latar belakang.
3. Pengembangan keterampilan social
Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.
Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya,
menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat,
bekerja dalam kelompok dan sebagainya.
Kelebihan dan kekurangan model
pembelajaran Numbered Heads Together adalah sebagai berikut :
Kelebihan:
– Setiap siswa menjadi siap semua
– Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
– Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.
Kelemahan:
– Tidak terlalu cocok untuk jumlah siswa yang banyak karena membutuhkan waktu
yang lama..
– Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru
Penerapan pembelajaran kooperatif
tipe NHT merujuk pada konsep Kagen dalam Ibrahim (2000: 29), dengan tiga
langkah yaitu :
a) Pembentukan kelompok;
b) Diskusi masalah;
c) Tukar jawaban antar kelompok
Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh Ibrahim (2000: 29) menjadi
enam langkah sebagai berikut :
Langkah 1. Persiapan
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario
Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model
pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Langkah 2. Pembentukan kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif
tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan
3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama
kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang
ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan
belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal
(pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.
Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan
Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku
panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang
diberikan oleh guru.
Langkah 4. Diskusi masalah
Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan
yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk
menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari
pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh
guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang
bersifat umum.
Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok
dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di
kelas.
Langkah 6. Memberi kesimpulan
Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang
berhubungan dengan materi yang disajikan.
Ada beberapa manfaat pada model
pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang
dikemukakan oleh Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18), antara lain adalah :
Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
1. Memperbaiki kehadiran
2. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar
3. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
4. Konflik antara pribadi berkurang
5. Pemahaman yang lebih mendalam
6. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
7. Hasil belajar lebih tinggi
KESIMPULAN
Model pembelajaran ini baik digunakan karena model ini mengajarkan kepada siswa
untuk lebih siap dalam menguasai materi serta belajar menerima keanekaragaman
dengan kelompok lain, karna dalam model ini siswa dituntut untuk berdiskusi untuk
memecahkan suatu masalah.
Pada dasarnya tidak ada model pembelajaran yang cocok untuk setiap pokok
bahasan, karena setia model atau metode mengajar masing-masing memiliki
kelebihan dan kekurangan oleh karenanya guru dituntut untuk pandai memilih
model pembelajaran yang sesuai.
Metode Belajar Cooperative script
metode belajar Cooperative script
Skrip kooperatif adalah metode
belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan
bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
Langkah-langkah:
- Guru membagi siswa untuk berpasangan.
- Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca
dan membuat ringkasan.
- Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan
sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
- Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin,
dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar
menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan
membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi
sebelumnya atau dengan materi lainnya.
- Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar
menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas.
- Kesimpulan guru.
Kelebihan:
- Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan.
- Setiap siswa mendapat peran.
- Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan
lisan.
Kekurangan:
- Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu
- Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh
kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut).
Model pembelajaran Kepala bernomor
struktur
- Pengertian
Untuk mengembangkan potensi to live together salah satunya melalui model
pembelajaran kooperatif. Aktivitas pembelajaran kooperatif menekankan pada
kesadaran siswa perlu belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan, konsep,
keterampilan kepada siswa yang membutuhkan atau anggota lain dalam
kelompoknya, sehingga belajar kooperatif dapat saling menguntungkan antara
siswa yang berprestasi rendah dan siswa yang berprestasi tinggi.
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan Slavin (Ibrahim, 2000:16) tentang pengaruh pembelajaran kooperatif
terhadap hasil belajar pada semua tingkat kelas dan semua bidang
studi menunjukkan bahwa kelas kooperatif menunjukkan hasil belajar akademik
yang signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
Salah satu model pembelajaran kooperatif yaitu tipe NHT (Numbered Heads
Together). Model ini dapat dijadikan alternatif variasi model pembelajaran
sebelumnya. Dibentuk kelompok heterogen, setiap kelompok beranggotakan 3-5
siswa, setiap anggota memiliki satu nomor, guru mengajukan pertanyaan untuk
didiskusikan bersama dalam kelompok. Guru menunjuk salah satu nomor untuk
mewakili kelompoknya. Menurut Muhammad Nur (2005) model pembelajaran kooperatif
tipe NHT pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok dengan ciri
khasnya adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya
tanpa memberitahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya
tersebut. Sehingga cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa. Cara ini
upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam dalam
diskusi kelompok.
Number Head Together adalah suatu
Model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam
mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya
dipresentasikan di depan kelas (Rahayu, 2006). NHT pertama kali dikenalkan oleh
Spencer Kagan dkk (1993). Model NHT adalah bagian dari model pembelajaran
kooperatif struktural, yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang
dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur Kagan menghendaki
agar para siswa bekerja saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara
kooperatif. Struktur tersebut dikembangkan sebagai bahan alternatif dari
sruktur kelas tradisional seperti mangacungkan tangan terlebih dahulu untuk
kemudian ditunjuk oleh guru untuk menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan.
Suasana seperti ini menimbulkan kegaduhan dalam kelas, karena para siswa saling
berebut dalam mendapatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan peneliti
(Tryana, 2008). Menurut Kagan (2007) model pembelajaran NHT ini secara tidak
langsung melatih siswa untuk saling berbagi informasi, mendengarkan dengan
cermat serta berbicara dengan penuh perhitungan, sehingga siswa lebih produktif
dalam pembelajaran.
2. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
(Dalam model Pembelajaran Kepala bernomor struktur)
Sebagai seorang guru dalam memberikan pelajaran kepada siswa tentu ia akan
memilih manakah model pembelajaran yang tepat diberikan untuk materi pelajaran
tertentu.
Ciri-ciri pembelajaran kepala bernomer struktur sebagai berikut:
1) Penomoran
Penomoran adalah hal yang utama di dalam NHT, dalam tahap ini guru membagi
siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan tiga sampai lima
orang dan memberi siswa nomor sehingga setiap siswa dalam tim mempunyai nomor
berbeda-beda, sesuai dengan jumlah siswa di dalam kelompok.
2) Pengajuan Pertanyaan
Langkah berikutnya adalah pengajuan pertanyaan, guru mengajukan pertanyaan
kepada siswa. Pertanyaan yang diberikan dapat diambil dari materi pelajaran
tertentu yang memang sedang di pelajari, dalam membuat pertanyaan usahakan
dapat bervariasi dari yang spesifik hingga bersifat umum dan dengan tingkat
kesulitan yang bervariasi pula.
3) Berpikir Bersama
Setelah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari guru, siswa berpikir bersama
untuk menemukan jawaban dan menjelaskan jawaban kepada anggota dalam timnya
sehingga semua anggota mengetahui jawaban dari masing-masing pertanyaan.
4) Pemberian Jawaban
Langkah terakhir yaitu guru menyebut salah satu nomor dan setiap siswa dari
tiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk
seluruh kelas, kemudian guru secara random memilih kelompok yang harus menjawab
pertanyan tersebut, selanjutnya siswa yang nomornya disebut guru dari kelompok
tersebut mengangkat tangan dan berdiri untuk menjawab pertanyaan. Kelompok lain
yang bernomor sama menanggapi jawaban tersebut.
3. Langkah – langkah Kepala bernomor
struktur
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat
nomor
2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan terhadap tugas
yang berangkai Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor
dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan
seterusnya
3. Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh
keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari
kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling
membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka
4. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
5. Kesimpulan
4. Kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kepala bernomor struktur
5. Kelebihan dan kekurangan
1) Kelebihan
a. Dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
b. Mampu memperdalam pamahaman siswa.
c. Melatih tanggung jawab siswa.
d. Menyenangkan siswa dalam belajar.
e. Mengembangkan rasa ingin tahu siswa.
f. Meningkatkan rasa percaya diri siwa.
g. Mengembangkan rasa saling memiliki dan kerjasama.
h. Setiap siswa termotivasi untuk menguasai materi.
i. Menghilangkan kesenjangan antara yang pintar dengan tidak pintar.
j. Tercipta suasana gembira dalam belajar. Dengan demikian meskipun saat
pelajaran menempati jam terakhir pun,siswa tetap antusias belajar.
2) Kelemahan
a. Ada siswa yang takut diintimidasi bila Memberi nilai jelek kepada anggotanya
(bila kenyataannya siswa lain kurang mampu menguasai materi)
b. Ada siswa yang mengambil jalan pintas dengan meminta tolong pada temannya
untuk mencarikan jawabnya.Solusinya mengurangi poin pada siswa yang membantu
dan dibantu .
c. Apabila pada satu nomer kurang maximal mengerjakan tugasnya, tentu saja
mempengaruhi pekerjaan pemilik tugas lain pada nomer selanjutnya.
Model Pembelajaran STUDENT TEAMS-
ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD)
Model Pembelajaran STUDENT
TEAMS- ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD)
Model pembelajaran STAD termasuk
model pembelajaran kooperatif. Semua model pembelajaran kooperatif ditandai
dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Dalam
proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatifsiswa didorong untuk
bekerjasama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan
usahanya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Tujuan model
pembelajaran kooperaif adalah prestasi belajar akademik siswa meningkat dan
siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan
keterampilan sosial.
- PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN TIPE STAD
1. Menurut
wina (2008:242) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan model
pembelajaran menggunakan sistem pengelompokkan atau tim kecil,yaitu antara 4-5
orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik,jenis kelamin,ras atau
suku yang berbeda (heterogen)
2. Johnson
(dalam Etin Solihatin,2005 :4 ) menyatakan bahwa :pembelajaran kooperatif
adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa
bekerja sama.
3. Slavin (
dalam Wina,2008:242) mengemukakan dua alasan bahwa : pembelajaran
kooperatif merupakan bentuk pembelajaran yang dapat memperbaiki pembelajaran
selama ini. Pertama,beberapa penelitian membuktikan bahwa penggunaan
pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus
dapat menngkatkan kemampuan hubungan sosial,menumbuhkan sikap menerima
kekurangan diri dan orang lain,serta dapat meningkatkan harga
diri.kedua,pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam
belajar,berfikir,memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dengan
keterampilan.
- Prinsip Pembelajaran Kooperatif sebagai berikut.
a. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala
sesuatu yang dikerjakan
dalam kelompoknya.
b. Setiap anggota kelompok
(siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok
mempunyai tujuan yang sama.
c. Setiap anggota kelompok
(siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama
diantara anggota kelompoknya.
d. Setiap anggota kelompok
(siswa) akan dikenai evaluasi.
e. Setiap anggota kelompok
(siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan
untuk belajar bersama selama proses
belajarnya.
f. Setiap anggota
kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara
individual materi yang ditangani
dalam kelompok kooperatif.
- Ciri Pembelajaran Kooperatif
Masih menurut Nur dalam Chotimah
(2007), ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai
a. Siswa dalam kelompok
secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi
dasar yang akan dicapai.
b. Kelompok dibentuk dari
siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi,
sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku
yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan gender.
c. Penghargaan menekankan
pada kelompok dari pada masing-masing individu.
- Sintaks Model Pembelajaran STAD
Langkah-langkah model
pembelajaran STAD dapat dilihat pada tabel 2.1 seperti
Tabel 2.1 Enam Langkah Model
Pembelajaran STAD
|
Langkah
|
Indikator
|
Tingkah laku guru
|
|
Langkah 1
Langkah 2
Langkah 3
Langkah 4
Langkah 5
Langkah 6
|
Menyampaikan tujuan dan
memotivasi siswa
Menyajikan informasi
Mengorganisasikan siswa ke
dalam kelompok- kelompok belajar
Membimbimg kelompok belajar
Evaluasi
Memberikan penghargaan
|
Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran dan mengkomunikasikan kompetensi dasar
yang akan dicapai serta memotivasi
siswa
Guru menyajikan informasi kepada
siswa
Guru menginformasikan pengelom-pokkan
Siswa
Guru memotivasi serta
memfasilitasi kerja siswa dalam kelompok-kelompok belajar
Guru mengevaluasi hasil belajar
tentang
materi pembelajaran yang telah
dilaksanakan
Guru memberi penghargaan hasil
belajar
individual dan kelompok
|
Model pembelajaran STAD dikembangkan
oleh Robert Slavin dan temantemannya di Universitas John Hopkins. Siswa dalam
suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap
kelompok haruslah heterogen, terdiri atas laki-laki dan perempuan, berasal dari
berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Anggota tim
menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk
menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain
untuk memahami bahan pelajaran melalui diskusi dan kuis.
Sintaks model Pembelajaran STAD dalam
Chotimah (2007) antara lain :
a. Guru membentuk kelompok yang
anggotanya 4 orang secara heterogen.
b. Guru menyajikan pelajaran.
c. Guru memberi tugas pada kelompok
untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok
d. Peserta didik yang bisa
mengerjakan tugas/soal menjelaskan kepada anggota kelompok
lainnya
sehingga semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
e. Guru memberi kuis/pertanyaan
kepada seluruh peserta didik. Pada saat menjawab
kuis/pertanyaan
peserta didik tidak boleh saling membantu.
f. Guru memberi penghargaan (rewards)
kepada kelompok yang memiliki nilai/poin
g. Guru memberikan evaluasi.
h. Penutup.
Dalam STAD, penghargaan
kelompok didasarkan atas skor yang didapatkan oleh
kelompok dan skor kelompok ini
diperoleh dari peningkatan individu dalam setiap kuis.
Sumbangan poin peningkatan siswa
terhadap kelompoknya didasarkan atas ketentuan
pada tabel 2.2 berikut.
Tabel 2.2 Kriteria Pemberian Skor
Peningkatan STAD
|
Skor Kuis
|
Poin peningkatan
|
|
Lebih dari 10 point di bawah skor
dasar
1-10 point di bawah skor dasar
Skor dasar sampai 10 poin di atas
skor dasar
Lebih dari 10 poin di atas skor
dasar
Hasil sempurna (tidak
mempertimbangkan skor dasar
|
5
10
20
30
30
|
Catatan: Nilai kuis sebelumnya dapat
digunakan sebagai skor dasar
(Sumber:Slavin, 1995 dalam Parlan,
2006:17)
Skor kelompok untuk setiap kelompok
didasarkan pada sumbangan poin peningkatan
yang diperoleh oleh setiap anggota
kelompok yaitu dengan menjumlah seluruh poin
peningkatan anggota kelompok dibagi
dengan jumlah anggota kelompok. Penghargaan
kelompok diberikan dengan empat
kriteria seperti pada tabel 2.3 berikut.
Tabel 2.3 Predikat Keberhasilan
Kelompok
|
Kriteria
|
Nilai Perkembangan
|
|
Excellent
The best teams
Good teams
General teams
|
22,6 – 30
15,1 – 22,5
7,6 – 15,0
≥7,5
|
(Sumber: Slavin, 1995 dalam
Supriyo, 2008:50)
- Kelebihan dan Kekurangan pembelajaran Tipe STAD
A) Kelebihan
model pembelajaran Kooperatif STAD
Menurut Davidson (dalam
Nurasma,2006:26) :
a) Meningkatkan
kecakapan individu
b) Meningkatkan
kecakapan kelompok
c) Meningkatkan
komitmen
d) Menghilangkan
prasangka buruk terhadap teman sebaya
e) Tidak
bersifat kompetitif
f) Tidak
memiliki rasa dendam
B) Kekurangan
model pembelajaran kooperatif STAD
a) Menurut
Slavin (dalam Nurasma 2006:2007 )yaitu:
b) Konstribusi
dari siswa berprestasi rendah menjadi kurang
c) Siswa
berprestasi tinggi akan mengarah pada kekecewaan karena peran anggota yang
pandai lebih dominan.
- Hubungan Penerapan Model STAD dengan
Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa
Dalam proses belajar mengajar guru
sebagai pelaksana pengajaran harus dapat menciptakan kondisi yang dapat
melibatkan siswa secara aktif. Dengan demikian diharapkan terjadi interaksi
antara guru dan siswa yang pada umumnya akan merasa mendapat motivasi yang
tinggi apabila guru melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar
mengajar. Selain itu siswa akan lebih memahami dan mengerti konsep-konsep
fisika secara benar.
Pembelajaran kooperatif dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa secara konsisten baik bagi siswa yang
memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah, dan resistensi (daya lekat)
terhadap materi pelajaran menjadi lebih panjang (Ellyana, 2007). Pembelajaan
kooperatif yang dikemas dalam kegiatan pembelajaran yang bervariasi dengan
model STAD dapat menumbuhkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Pengajaran
fisika yang disajikan dengan model pembelajaran STAD memungkinkan
untuk memberikan pengalaman-pengalaman sosial sebab mereka akan bertanggung
jawab pada diri sendiri dan anggota kelompoknya. Keberhasilan anggota kelompok
merupakan tugas bersama.
Dalam pembelajaran STAD ini
anggota kelompok berasal dari tingkat prestasi yang berbeda-beda, sehingga
melatih siswa untuk bertoleransi atas perbedaan dan kesadaran akan perbedaan.
Disamping itu pembelajaran yang disajikan dengan model STAD akan
melatih siswa untuk menceriterakan, menulis secara benar apa yang diteliti dan
diamati. Apabila ditinjau dari proses pelaksanaannya, kegiatan model
pembelajaran STAD lebih membawa siswa untuk memahami materi
yang disajikan oleh guru, karena siswa aktif dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan uraian di atas, pengajaran fisika yang disajikan dengan dengan
penerapan model pembelajaran STADakan dapat meningkatkan motivasi
dan prestasi belajar siswa.
Model Pembelajaran Jigsaw
- Pengertian
Jigsaw adalah tipe pembelajaran
kooperatif yang dikembangkan oleh Elliot Aronson’s. Model pembelajaran ini
didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya
sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi
yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi
tersebut kepada kelompoknya.Pada model
pembelajaran jigsaw ini keaktifan siswa (student
centered) sangan dibutuhkan, dengan dibentuknya kelompok-kelompok
kecil yang beranggotakan 3-5 orang yang terdiri dari kelompok asal dan kelompok
ahli.
Dalam Pembelajaran Kooperatif Model
Jigsaw, siswa dibagi dalam beberapa kelompok belajar yang heterogen yang
beranggotakan 3-5 orang dengan menggunakan pola kelompok asal dan kelompok
ahli. Kelompok asal adalah kelompok awal siswa terdiri dari berapa anggota
kelompok ahli yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang.
Guru harus trampil dan mengetahui latar belakang siswa agar terciptanya suasana
yang baik bagi setiap angota kelompok. Sedangkan kelompok ahli, yaitu kelompok
siswa yang terdiri dari anggota kelompok lain (kelompok asal) yang ditugaskan
untuk mendalami topik tertentu untuk kemudian dijelaskan kepada anggota
kelompok asal.
Para anggota dari kelompok asal yang
berbeda, bertemu dengan topik yang sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi
dan membahas materi yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta
membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka tersebut. Disini, peran
guru adalah mefasilitasi dan memotivasi para anggota kelompok ahli agar mudah
untuk memahami materi yang diberikan. Setelah pembahasan selesai, para anggota
kelompok kemudian kembali pada kelompok asal dan mengajarkan pada teman
sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di kelompok
ahli.Para kelompok ahli harus mampu untuk membagi pengetahuan yang di dapatkan
saat melakuakn diskusi di kelompok ahli, sehingga pengetahuan tersebut diterima
oleh setiap anggota pada kelompok asal. Kunci tipe Jigsaw ini adalah
interdependence setiap siswa terhadap anggota tim yang memberikan informasi
yang diperlukan. Artinya para siswa harus memiliki tanggunga jawab dan kerja
sama yang positif dan saling ketergantungan untuk mendapatkan informasi dan
memecahkan masalah yang biberikan.
- Langkah- Langkah dalam metode jigsaw
Sesuai dengan namanya, teknis
penerapan tipe pembelajaran ini maju mundur seperti gergaji. Menurut Arends
(1997), langkah-langkah penerapan model pembelajaran Jigsaw, yaitu:
- Awal kegiatan pembelajaran
a. Persiapan
1. Melakukan Pembelajaran Pendahuluan
Guru dapat menjabarkan isi topik secara umum, memotivasi siswa dan
menjelaskan tujuan dipelajarinya topik tersebut.
2. Materi
Materi pembelajaran kooperatif model jigsaw dibagi menjadi beberapa bagian
pembelajaran tergantung pada banyak anggota dalam setiap kelompok serta
banyaknya konsep materi pembelajaran yang ingin dicapai dan yang akan
dipelajari oleh siswa.
3. Membagi Siswa Ke Dalam Kelompok Asal Dan Ahli
Kelompok dalam pembelajarn kooperatif model jigsaw beranggotakan 3-5 orang
yang heterogen baik dari kemampuan akademis, jenis kelamin, maupun latar
belakang sosialnya
4. Menentukan Skor Awal
Skor awal merupakan skor rata-rata siswa secara individu pada kuis
sebelumnya atau nilai akhir siswa secara individual pada semester
sebelumnya.
- Rencana Kegiatan
1. Setiap kelompok membaca dan mendiskusikan sub topik masing-masing dan
menetapkan anggota ahli yang akan bergabung dalam kelompok ahli.
2. Anggota ahli dari masing-masing kelompok berkumpul dan mengintegrasikan
semua sub topik yang telah dibagikan sesuai dengan banyaknya kelompok.
3. Siswa ahli kembali ke kelompok masing-masing untuk menjelaskan topik
yang didiskusikannya.
4. Siswa mengerjakan tes individual atau kelompok yang mencakup semua
topik.
5. Pemberian penghargaan kelompok berupa skor individu dan skor kelompok
atau menghargai prestasi kelompok.
- Sistem Evaluasi
Dalam evaluasi ada tiga cara yang dapat dilakukan:
1. Mengerjakan kuis individual yang mencaukup semua topik.
2. Membuat laporan mandiri atau kelompok.
3. Presentasi
Materi Evaluasi
– Pengetahuan (materi ajar) yang difahami dan dikuasai oleh mahasiswa.
– Proses belajar yang dilakukan oleh mahasiswa.
- Kelebihan
Bila dibandingkan dengan metode
pembelajaran tradisional, model pembelajaran Jigsaw memiliki beberapa kelebihan
yaitu:
1. Mempermudah pekerjaan guru dalam
mengajar,karena sudah ada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya
2. Pemerataan penguasaan materi dapat
dicapai dalam waktu yang lebih singkat
3. Metode pembelajaran ini dapat
melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat.
- Kelemahan
Dalam penerapannya sering dijumpai
beberapa permasalahan yaitu :
1. Siswa yang aktif akan lebih
mendominasi diskusi, dan cenderung mengontrol jalannya diskusi. Untuk
mengantisipasi masalah ini guru harus benar-benar memperhatikan jalannya
diskusi. Guru harus menekankan agar para anggota kelompok menyimak terlebih
dahulu penjelasan dari tenaga ahli. Kemudian baru mengajukan pertanyaan apabila
tidak mengerti.
2. Siswa yang memiliki kemampuan
membaca dan berfpikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi
apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus
memilih tenaga ahli secara tepat, kemudian memonitor kinerja mereka dalam
menjelaskan materi, agar materi dapat tersampaikan secara akurat.
3. Siswa yang cerdas cenderung
merasa bosan.
Untuk mengantisipasi hal ini guru
harus pandai menciptakan suasana kelas yang menggairahkan agar siswa yang
cerdas tertantang untuk mengikuti jalannya diskusi.
4. Siswa yang tidak terbiasa
berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran.
MODEL
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED INTRODUCTION)
PROBLEM BASED INTRODUCTION (PBI)
MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS
MASALAH
Sejarah Metode Pembelajaran Berbasis
Masalah
Pembelajaran Berbasis Masalah dirintis dalam ilmu kesehatan di McMaster
University di Kanada pada tahun 1960-an yang diresmikan pada tahun 1968.
(Neufeld & Barrows, 1974), karena siswa tidak mampu menerapkan sejumlah
besar mereka pengetahuan ilmiah dasar untuk situasi klinis. Tak lama kemudian,
tiga sekolah medis lain – University of Limburg di Maastricht (Belanda),
University of Newcastle (Australia), dan University of New Mexico (Amerika)
mengambil McMaster model pembelajaran berbasis masalah. (diadopsi oleh lain
program-program sekolah kedokteran (Barrows, 1996) dan juga telah diadaptasi
untuk instruksi sarjana (Boud dan Feletti, 1997; Duch et al, 2001. ; Amador et
al, 2006))
Landasan Teoretik Model Pembelajaran
Berbasis Masalah
Temuan-temuan dari psikologi kognitif menyediakan landasan teoretis untuk
meningkatkan pengajaran secara umum dan khsususnya problem based learning
(PBL). Premis dasar dalam psikologi kognitif adalah belajar merupakan proses
konstruksi pengetahuan baru yang berdasarkan pada pengetahuan terkini.
Mengikuti Glaser (1991) secara umum diasumsikan bahwa belajar adalah proses
yang konstruktif dan bukan penerimaan. Proses-proses kognitif yang disebut
metakognisi mempengaruhi penggunaan pengetahuan, dan faktor-faktor sosial dan
kontektual mempengaruhi pembelajaran.
A. Pengertian Metode Pembelajaran
Berbasis Masalah
Menurut Suherman (2003: 7)
Model pembelajaran dimaksudkan sebagai pola interaksi siswa dengan guru di
dalam kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, metode, dan teknik
pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di
kelas.
Konsep yang dikemukakan Suherman
menjelaskan bahwa model pembelajaran adalah suatu bentuk bagaimana interaksi
yang tercipta antara guru dan siswa berhubungan dengan strategi, pendekatan,
metode, dan teknik pembelajaran yang digunkan dalam proses pembelajaran.
Gijselaers ( 1996)
Pembelajaran berbasis masalah diturunkan dari teori bahwa belajar adalah proses
dimana pembelajar secara aktif mengkontruksi pengetahuan.
Konsep ini menjelaskan bahwa belajar
terjadi dari aksi siswa, dan pendidik hanya berperan dalam memfasilitasi
terjadinya aktivitas kontruksi pengetahuan oleh pembelajar. Pendidik harus
memusatkan perhatiannya untuk membantu siswa dalam mencapai keterampilan self
directed learning.
Tujuan Metode Pembelajaran Berbasis
Masalah
Departemen Pendidikan Nasional
(2003)
Pembelajaran berbasis masalah membuat siswa menjadi pembelajar yang mandiri,
artinya ketika siswa belajar, maka siswa dapat memilih strategi belajar yang
sesuai, terampil menggunakan strategi tersebut untuk belajar dan mampu
mengontrol proses belajarnya, serta termotivasi untuk menyelesaikan belajarnya
itu.
Dari pengertian ini, dikatakan bahwa
tujuan utama pembelajaran berbasis masalah adalah untuk menggali daya
kreativitas siswa dalam berpikir dan memotivasi siswa untuk terus belajar.
Muslimin Ibrahim (2000:7)
Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan
informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa, akan tetapi pembelajaran berbasis
masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berfikir,
pemecahan masalah, dan ketrampilan intelektual, belajar berbagai peran orang
dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi dan
menjadi pembelajar yang mandiri.
Dari pengertian ini kita dapat
mngetahui bahwa pembelajaran berbasis masalah ini difokuskan untuk perkembangan
belajar siswa, bukan untuk membantu guru mengumpulkan informasi yang nantinya
akan diberikan kepada siswa saat proses pembelajaran.
Dari beberapa definisi di atas,
dapat ditarik kesimpulan bahwa Pembelajaran berbasis masalah (problem based
learning) bertujuan untuk:
1. membantu siswa mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrampilan pemecahan
masalah,
2. belajar peranan orang dewasa yang otentik,
3. menjadi siswa yang mandiri,
4. untuk bergerak pada level pemahaman yang lebih umum, membuat kemungkinan
transfers pengetahuan baru,
5. mengembangkan pemikiran kritis dan keterampilan kreatif
6. meningkatkan kemampuan memecahkan masalah
7. meningkatkan motivasi belajar siswa
8. membantu siswa belajar untuk mentransfer pengetahuan dengan situasi baru
B. Prinsip-Prinsip Metode
Pembelajaran Berbasis Masalah
Berdasar pada pandangan psikologi
kognitif terdapat tiga prinsip pembelajaran yang berkaitan dengan PBL
1. Belajar adalah proses konstruktif
dan bukan penerimaan. Pembelajaran tradisional didominasi oleh pandangan bahwa
belajar adalah penuangan pengetahuan ke kepala pebelajar. Kepala pebelajar
dipandang sebagai kotak kosong yang siap diisi melalui repetisi dan penerimaan.
Pengajaran lebih diarahkan untuk penyimpanan informasi oleh pebelajar pada
memorinya seperti menyimpan buku-buku di perpustakaan. Pemanggilan kembali
informasi bergantung pada kualitas nomer panggil(call number) yang digunakan
dalam mengklasifikasikan informasi. Namun, psikologi kognitif modern menyatakan
bahwa memori merupakan struktur asosiatif. Pengetahuan disusun dalam jaringan
antar konsep, mengacu pada jalinan semantik. Ketika belajar terjadi informasi
baru digandengkan pada jaringan informasi yang telah ada. Jalinan semantik
tidak hanya menyangkut bagaimana menyimpan informasi, tetapi juga bagaimana
informasi itu diinterpretasikan dan dipanggil.
2. Knowing About Knowing
(metakognisi) Mempengaruhi Pembelajaran.
Prinsip kedua yang sangat penting adalah belajar adalah proses cepat, bila
pebelajar mengajukan keterampilan-keterampilan self monitoring, secara umum
mengacu pada metakognisi (Bruer, 1993 dalam Gijselaers, 1996). Metakognisi
dipandang sebagai elemen esensial keterampilan belajar seperti setting tujuan
(what am I going to do), strategi seleksi (how am I doing it?), dan evaluasi
tujuan (did it work?). Keberhasilan pemecahan masalah tidak hanya bergantung
pada pemilikan pengetahuan konten (body of knowledge), tetapi juga penggunaan
metode pemecahan masalah untuk mencapai tujuan. Secara khusus keterampilan
metokognitif meliputi kemampuan memonitor prilaku belajar diri sendiri, yakni
menyadari bagaimana suatu masalah dianalisis dan apakah hasil pemecahan masalah
masuk akal?
3. Faktor-faktor Kontekstual dan
Sosial Mempengaruhi Pembelajaran. Prinsip ketiga ini adalah tentang penggunaan
pengetahuan. Mengarahkan pebelajar untuk memiliki pengetahuan dan untuk mampu
menerapkan proses pemecahan masalah merupakan tujuan yang sangat ambisius.
Pembelajaran biasanya dimulai dengan penyampaian pengetahuan oleh pembelajar
kepada pebelajar, kemudian disertai dengan pemberian tugas-tugas berupa masalah
untuk meningkatkan penggunaan pengetahuan. Namun studi-studi menunjukkan bahwa
pebelajar mengalami kesulitan serius dalam menggunakan pengetahuan ilmiah
(Bruning et al, 1995). Studi juga menunjukkan bahwa pendidikantradisional tidak
memfasilitasi peningkatan peman masalah-maslah fisika walaupun secara formal
diajarkan teori fisika ( misalnya, Clement, 1990).
Bridges (1992) dan Charlin (1998)
Dalam melaksanakan proses pembelajaran PBM ini, Bridges dan Charlin telah
menggariskan beberapa ciri-ciri utama seperti berikut.
1. Pembelajaran berpusat dengan masalah.
2. Masalah yang digunakan merupakan masalah dunia sebenarnya yang mungkin akan
dihadapi oleh siswa dalam kerja profesional mereka di masa depan.
3. Pengetahuan yang diharapkan dicapai oleh siswa saat proses pembelajaran
disusun berdasarkan masalah.
4. Para siswa bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran mereka sendiri.
5. Siswa aktif dengan proses bersama.
6. Pengetahuan menyokong pengetahuan yang baru.
7. Pengetahuan diperoleh dalam konteks yang bermakna.
8. Siswa berpeluang untuk meningkatkan serta mengorganisasikan pengetahuan.
9. Kebanyakan pembelajaran dilaksanakan dalam kelompok kecil.
Kriteria Pemilihan Bahan
Pembelajaran Berbasis Masalah
1. Bahan pelajaran harus mengandung isu-isu yang mengandung konflik yang bisa
bersumber dari berita,rekaman,video dan lain sebagainya.
2. Bahan yang dipilih adalah bahan yang bersifat familiar dengan siswa,sehingga
setiap siswa dapat mengikutinya dengan baik.
3. Bahan yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang
banyak,sehingga terasa manfaatnya.
4. Bahan yang dipilih adalah bahan yang mendukung tujuan atau kompetensi yang
harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
5. Bahan yang dipilih sesuai dengan minat siswa sehingga setiap siswa merasa
perlu untuk mempelajarinya.
Langkah-langkah Pembelajaran
Berbasis Masalah
Pannen (2001)
Langkah-langkah pemecahan masalah dalam pembelajaran PBL paling sedikit ada
delapan tahapan, yaitu:
1. mengidentifikasi masalah,
2. mengumpulkan data,
3. menganalisis data,
4. memecahkan masalah berdasarkan pada data yang ada dan analisisnya,
5. memilih cara untuk memecahkan masalah,
6. merencanakan penerapan pemecahan masalah,
7. melakukan ujicoba terhadap rencana yang ditetapkan, dan
8. melakukan tindakan (action) untuk memecahkan masalah.
Arends (2004)
Ada 5 fase (tahap) yang perlu dilakukan untuk mengimplementasikan PBL.
Fase Aktivitas guru
Fase 1: Mengorientasikan mahasiswa pada masalah. Menjelaskan tujuan
pembelajaran, logistik yang diperlukan, memotivasi mahasiswa terlibat aktif
pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih
Fase 2: Mengorganisasi mahasiswa untuk belajar. Membantu mahasiswa membatasi
dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi
Fase 3: Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok. Mendorong mahasiswa
mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, dan mencari untuk
penjelasan dan pemecahan
Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Membantu mahasiswa
merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model,
dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
Fase 5: Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Membantu
mahasiswa melakukan refleksi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang
digunakan selama berlangusungnya pemecahan masalah.
Berikut langkah-langkah PBM.
1. Guru memulai sesi awal PBM dengan presentasi permasalahan yang akan dihadapi
oleh siswa.
2. Siswa terstimulus untuk berusaha menyelesaikan permasalahan di lapangan.
3. Siswa mengorganisasikan apa yang telah mereka pahami tentang permasalahan
dan mencoba mengidentifikasi hal-hal terkait.
4. Siswa berdiskusi dengan mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang tidak
mereka pahami.
5. Guru mendampingi siswa untuk fokus terhadap pertanyaan yang dianggap
penting.
6. Setelah periode self-study, sesi kedua dilakukan.
7. Pada awal sesi ini siswa diharapkan dapat membagi pengetahuan baru yang
mereka peroleh.
8. Siswa menguji validitas dari pendekatan awal dan menyaringnya.
9. Siswa berlatih mentransfer pengetahuan dalam konteks nyata melalui pelaporan
di kelas.
Dalam penyelidikan suatu masalah,
hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
1. Membaca dan menganalisis skenario dan situasi masalah.
Periksa pemahaman Anda tentang skenario dengan mendiskusikan hal itu dalam
kelompok Anda. Sebuah upaya kelompok mungkin akan lebih efektif dalam
menentukan apa faktor-faktor kunci dalam situasi ini. Karena ini adalah situasi
pemecahan masalah nyata, grup Anda akan harus secara aktif mencari informasi
yang diperlukan untuk memecahkan masalah.
2. Daftar hipotesis, ide, atau
firasat
Tulis dalam daftar teori atau hipotesis tentang penyebab masalah atau ide-ide
tentang bagaimana untuk memecahkan masalah. Anda juga akan mendukung atau
menolak ide-ide sebagai hasil penyelidikan Anda. Daftar ide yang berbeda lain
yang perlu ditangani.
3. Daftar apa yang dikenal.
Buat pos berjudul “Apa yang kita ketahui?” pada selembar kertas. Kemudian
temukan informasi yang terkandung dalam skenario.
4. Mengembangkan sebuah pernyataan
masalah.
Suatu pernyataan masalah harus berasal dari analisis Anda apa yang Anda
ketahui. Dalam satu atau dua kalimat Anda harus dapat menjelaskan apa yang grup
Anda sedang mencoba untuk menyelesaikan, memproduksi, menanggapi, tes, atau
mencari tahu. Pernyataan masalah mungkin harus direvisi sebagai informasi baru
ditemukan dan dibawa ke menanggung pada situasi.
5. Daftar apa yang dibutuhkan.
Siapkan daftar pertanyaan Anda pikir perlu dijawab untuk memecahkan masalah.
Rekam mereka di bawah daftar kedua berjudul: “Apa yang kita perlu tahu?”
Beberapa jenis pertanyaan yang mungkin sesuai. Beberapa orang mungkin alamat
konsep atau prinsip-prinsip yang perlu dipelajari untuk mengatasi situasi.
Pertanyaan lain mungkin dalam bentuk permintaan untuk informasi lebih lanjut.
Pertanyaan-pertanyaan ini akan membimbing pencarian yang mungkin akan terjadi
on-line, di perpustakaan, atau dalam pencarian out-of-kelas yang lain.
6. Daftar tindakan yang mungkin.
Daftar rekomendasi, solusi, atau hipotesis di bawah judul: “Apa yang harus kita
lakukan?”. Daftar rencana Anda untuk penyelidikan. Rencana ini mungkin termasuk
mempertanyakan ahli, mendapatkan data online, atau mengunjungi perpustakaan.
7. Mengumpulkan dan Menganalisis
informasi.
Bagilah tanggung jawab untuk mengumpulkan, mengorganisir, menganalisis, dan
menafsirkan informasi dari banyak sumber. Menganalisis informasi yang anda
kumpulkan. Anda mungkin perlu merevisi pernyataan masalah. Anda dapat
mengidentifikasi laporan masalah yang lebih. Pada titik ini, grup Anda mungkin
akan merumuskan dan menguji hipotesis untuk menjelaskan masalah. Beberapa
masalah mungkin tidak memerlukan hipotesis, bukan solusi yang dianjurkan atau
pendapat (berdasarkan data riset Anda) mungkin tepat.
8. Menyajikan temuan-temuannya.
Siapkan laporan di mana Anda membuat rekomendasi, prediksi, kesimpulan, atau
solusi lainyang tepat untuk masalah berdasarkan data Anda dan latar belakang.
Bersiaplah untuk mendukung rekomendasi Anda. Jika sesuai, pertimbangkan
presentasi multimedia dengan menggunakan gambar, grafik, atau suara.
Pelaksanaan Pembelajaran Bedasarkan
Masalah
Pierce dan Jones (Ratnaningsih,
2003)
Mereka mengemukakan bahwa kejadian-kejadian yang harus muncul pada waktu
pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:
a. Keterlibatan (engagement) meliputi mempersiapkan siswa untuk berperan
sebagai pemecah masalah yang bisa bekerja sama dengan pihak lain, menghadapkan
siswa pada situasi yang mendorong untuk mampu menemukan masalah dan meneliti
permasalahan sambil mengajukkan dugaan dan rencana penyelesaian.
b. Inkuiri dan investigasi (inquiry dan investigation) yang mencakup kegiatan
mengeksplorasi dan mendistribuskan informasi.
c. Performansi (performnace) yaitu menyajikan temuan.
d. Tanya jawab (debriefing) yaitu menguji keakuratan dari solusi dan melakukan
refleksi terhadap proses pemecahan masalah.
A. Tugas Perencanaan.
Pembelajaran Bedasarkan Masalah memerlukan banyak perencanaan seperti halnya
model-model pembelajaran yang berpusat pada siswa lainnya.
1. Penetapan Tujuan.
Pertama mendiskripsikan bagaimana pembelajaran berdasarkan masalah direncanakan
untuk membantu tercapainya tujuan-tujuan tertentu misalnya ketrampilan
menyelidiki, memahami peran orang dewasa dn membantu siswa menjadi pebelajar
yang mandiri Hendaknya difikirkan dahulu dengan matang tujuan yang hendak
dicapai sehingga dapat dikomunikasikan dengan jelas kepada siswa
2. Merancang situasi masalah yang
sesuai
Dalam pembelajaran berdasarkan masalah guru memberikan kebebasan siswa untuk
memilih masalah yang akan diselidiki, karena cara ini meningkatkan motivasi
siswa. Masalah sebaiknya otentik ( berdasarkan pada pengalaman dunia nyata
siswa ), mengandung teka-teki dan tidak terdefinisikan secara ketat,
memungkinkan kerjasama, bermakna bagi siswa dan konsisten dengan tujuan
kurikulum.
3. Organisasi sumber daya dan
rencana logistik.
Dalam pembelajaran berdasarkan masalah guru mengorganisasikan sumber daya dan
merencanakan kebutuhan untuk penyelidikan siswa karena dalam model pembelajaran
ini dimungkinkan siswa bekerja dengan beragam material dan peralatan,
pelaksanaan dapat dilakukan didalam maupun diluar kelas.
B. Tugas interaktif
1. Orientasi siswa pada masalah.
Siswa perlu memahami bahwa pembelajaran berdasarkan masalah tidak untuk
memperoleh informasi baru dalam jumlah besar, tetapi pembelajaran ini adalah
kegiatan penyelidikan terhadap masalah-masalah yang penting dan untuk menjadi
pelajar yang mandiri. Oleh karena itu cara yang baik dalam menyajikan masalah
adalah dengan menggunakan kejadian-kejadian yang mencengangkan dan menimbulkan
misteri sehingga merangsang untuk memecahkan masalah tersebut.
2. Mengorganisasikan siswa untuk
belajar.
Dalam pembelajaran berdasarkan masalah siswa memerlukan bantuan guru untuk
merencanakan penyelidikan dan tugas-tugas pelaporan. Mengorganisasikan siswa ke
dalam kelompok belajar kooperatif juga diperlukan pengembangan ketrampilan
kerja sama di anatara siswa dan saling membantu untuk menyelidiki masalah
secara bersama.
3. Membantu penyelidikan mandiri dan
kelompok.
a. guru membantu siswa dalam pengumpulan informasi dari berbagai sumber, siswa
diberi pertanyaan yang membuat siswa memimikirkan masalah dan jenis informasi
yang dibutuhkan untuk pemecahan masalah sehingga siswa diajarkan menjadi
penyelidik yang aktif dan dapat menggunakan metode yang sesuai untuk memecahkan
masalah tersebut. Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
b. Guru mendorong pertukaran ide secara bebas dan penerimaan sepenuhnya ide-ide
tersebut. Guru mendorong siswa dalam pengumpulan informasi dari berbagai
sumber, siswa diberi pertanyaan yang membuat mereka memikirkan masalah dan
jenis informasi yang dibutuhkan untuk pemecahan masalah. Selama tahap
penyelidikan guru memberi bantuan yang dibutuhkan tanpa mengganggu siswa.
c. Puncak kegiatan pembelajaran berdasarkan masalah adalah penciptaan dan peragaan
artifak seperti laporan, poster, model-model fisik, videotape dsb. Tugas guru
pada tiap akhir pembelajaran berbasis masalah adalah membantu siswa
menganalisis dan mengevaluasi proses berfikir mereka sendiri, dan ketrampilan
penyelidikan yang mereka gunakan.
4. Analisis dan evaluasi proses
pemecahan masalah. Tugas guru pada tahap akhir pembelajaran berdasarkan masalah
adalah membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka
sendiri dan ketrampilan penyelidikan yang mereka gunakan.
C. Lingkungan Belajar dan
Tugas-tugas Managemen
Guru perlu memberikan seperangkat aturan, sopan santun kepada siswa untuk
mengendalikan tingkah laku siswa ketika mereka melakukan penyelidikan sehingga
terciptanya kenyamanan, kemudahan siswa dalam melakukan aktivitasnya.
D. Asesmen dan evaluasi
Penilaian yang dilakukan guru tidak hanya terbatas dengan tes kertas dan pensil
( paper and paper tes ) tetapi termasuk menemukan prosedur penilaian
alternative yang dapat digunakan untuk mengukur pekerjaan siswa. Penetapan
kriteria penilaian tugas-tugas kinerja/ hasil karya harus dilakukan pada
awal-awal pembelajaran dan harus dapat dikerjakan oleh pebelajar (Fottrell,
1996). Kriteria penilaian itu harus didiskusikan terlebih dahulu bersama
pebelajar di kelas. Diskusi ini meliputi berapa grade yang harus mereka capai
dan siapa yang akan menilai mereka (pembelajar, pebelajar, atau ahli luar).
Penilaian pada pembelajaran berbasis
masalah berorientasi pada proses dengan tujuan untuk menilai ketrampilan
berkomunikasi, bekerjasama, penerimaan siswa terhadap tanggung jawab belajar,
kemampuan belajar bagaimanan belajar ( learning to learn ), penyelesaian dan
penggunaan sumber serta pengembangan ketrampilan memecahkan masalah. Dalam
pembelajaran berbasis masalah guru berperan dalam mengembangkan aspek kognitif
dan metakognitif siswa, bukan sekedar sumber pengetahuan dan penyebar
informasi. Disamping itu siswa bukan sebagai pendengar yang pasif tetapi
berperan aktif sebagai problem.
Peran guru, siswa dan masalah dalam
pembelajaran berbasis masalah dapat digambarkan sebagai berikut:
Guru sebagai pelatihv
Siswa sebagai problem solverv
Masalah sebagai awal tantangan dan motivasiv
Asking about thinking ( bertanya tentang pemikiran)Ø
memonitor pembelajaranØ
probbing ( menantang siswa untuk berfikir )Ø
menjaga agar siswa terlibatØ
mengatur dinamika kelompokØ
menjaga berlangsungnya prosesØ
peserta yang aktifØ
terlibat langsung dalam pembelajaranØ
membangun pembelajaranØ
menarik untuk dipecahkanØ
menyediakan kebutuhan yang ada hubungannya dengan pelajaran yang dipelajariØ
Muslimin Ibrahim menjelaskan bahwa
dalam menerapkan model pembelajaran berbasis masalah membutuhkan banyak latihan
dan perlu membuat ke putusan-keputusan khusus pada fase-fase perencanaan,
interaksi dan setelah pembelajaran.
Arends (2004) menyatakan bahwa ada
tiga hasil belajar (outcomes) yang diperoleh pebelajar yang diajar dengan PBL
yaitu:
1. Inkuiri dan ketrampilan melakukan pemecahan masalah.
Siswa yang melakukan inkuiri dalam pempelajaran akan menggunakan ketrampilan berpikir
tingkat tinggi (higher-order thinking skill) dimana mereka akan melakukan
operasi mental seperti induksi, deduksi, klasifikasi, dan reasoning.
2. Belajar model peraturan orang dewasa (adult role behaviors), dan
3. Ketrampilan belajar mandiri (skills for independent learning).
E. Kelebihan dan Kekurangan Metode
Pembelajaran Berbasis Masalah dalam Pemanfaatannya
Kelebihan Pembelajaran Berbasis
Masalah dalam pemanfaatannya adalah sebagai berikut.
1. Mengembangkan pemikiran kritis dan keterampilan kreatif
2. Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah
3. Meningkatkan motivasi siswa dalam belajar
4. Membantu siswa belajar untuk mentransfer pengetahuan dengan situasi baru
5. Dapat mendorong siswa/mahasiswa mempunyai inisiatif untuk belajar secara
mandiri
6. Mendorong kreativitas siswa dalam pengungkapan penyelidikan masalah yang
telah ia lakukan
7. Dengan PBM akan terjadi pembelajaran bermakna.
8. Dalam situasi PBM, siswa/mahasiswa mengintegrasikan pengetahuan dan
ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan.
9. PBM dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif
siswa/mahasiswa dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat
mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.
Kekurangan Pembelajaran Berbasis
Masalah dalam pemanfaatannya adalah sebagai berikut.
1. Kurang terbiasanya peserta didik dan pengajar dengan metode ini. Peserta
didik dan pengajar masih terbawa kebiasaan metode konvensional, pemberian
materi terjadi secara satu arah.
2. Kurangnya waktu pembelajaran. Proses PBM terkadang membutuhkan waktu yang
lebih banyak. Peserta didik terkadang memerlukan waktu untuk menghadapi
persoalan yang diberikan. Sementara, waktu pelaksanaan PBM harus disesuaikan
dengan beban kurikulum.
3. Menurut Fincham et al. (1997), “PBL tidak menghadirkan kurikulum baru tetapi
lebih pada kurikulum yang sama melalui metode pengajaran yang berbeda,” (hal.
419).
4. Siswa tidak dapat benar-benar tahu apa yang mungkin penting bagi mereka
untuk belajar, terutama di daerah yang mereka tidak memiliki pengalaman
sebelumnya.
5. Seorang guru mengadopsi pendekatan PBL mungkin tidak dapat untuk menutup
sebagai bahan sebanyak kursus kuliah berbasis konvensional. PBL bisa sangat
menantang untuk melaksanakan, karena membutuhkan banyak perencanaan dan kerja
keras bagi guru. Ini bisa sulit pada awalnya bagi guru untuk “melepaskan
kontrol” dan menjadi fasilitator, mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan
yang tepat daripada menyerahkan mereka solusi
F. Kesimpulan
Pembelajaran Berbasis Masalah
pertama kali dicetuskan pada akhir tahun 1960-an di sekolah kedokteran di
McMaster University di Kanada.
Pembelajaran Berbasis Masalah adalah
suatu proses pembelajaran yang keterlibatan siswanya lebih besar dalam
pemecahan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat
mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah yang disajikan oleh
pendidik dengan berbekal pengetahuan yang dimiliki sebelumnya sehingga dari
prior knowledge ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru.
Ciri-ciri Pembelajaran dengan model PBL dimulai oleh adanya masalah (dapat
dimunculkan oleh siswa atau guru), kemudian siswa memperdalam pengetahuannya
tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang mereka perlu ketahui untuk
memecahkan masalah tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik
untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong berperan aktif dalam belajar.
Masalah yang dijadikan sebagai fokus
pembelajaran dapat diselesaikan siswa melalui kerja kelompok sehingga dapat
memberi pengalaman-pengalaman belajar yang beragam pada siswa seperti kerjasama
dan interaksi dalam kelompok, disamping pengalaman belajar yang berhubungan
dengan pemecahan masalah seperti membuat hipotesis, merancang percobaan,
melakukan penyelidikan, mengumpulkan data, menginterpretasikan data, membuat
kesimpulan, mempresentasikan, berdiskusi, dan membuat laporan. Keadaan tersebut
menunjukkan bahwa model PBL dapat memberikan pengalaman yang kaya kepada siswa.
Dengan kata lain, penggunaan PBL dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang apa
yang mereka pelajari sehingga diharapkan mereka dapat menerapkannya dalam
kondisi nyata pada kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran Berbasis Masalah
bertujuan untuk memotivasi belajar siswa agar menjadi mandiri, membantu siswa
mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrampilan pemecahan masalah, membuat
kemungkinan transfers pengetahuan baru, belajar peranan orang dewasa yang
otentik,
Prinsip-Prinsip Metode Pembelajaran
Berbasis Masalah adalah proses konstruktif dan bukan penerimaan, Knowing About
Knowing (metakognisi) mempengaruhi pembelajaran, danFaktor-faktor kontekstual
dan sosial mempengaruhi pembelajaran.
Kriteria pemilihan bahan
Pembelajaran Berbasis Masalah adalah :
1. Bahan pelajaran harus mengandung isu-isu yang mengandung konflik
2. Bahan yang dipilih adalah bahan yang bersifat familiar dengan siswa
3. Bahan yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang
banyak
4. Bahan yang dipilih adalah bahan yang mendukung tujuan atau kompetensi yang
harus dimiliki oleh siswa
5. Bahan yang dipilih sesuai dengan minat siswa
Langkah- langkah model Pembelajaran
Berdasarkan Masalah, yaitu :
1. Orientasi siswa kepada masalah
2. Mengorganisasikan siswa untuk belajar
3. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Pelaksanaan Pembelajaran Bedasarkan
Masalah adalah sebagai berikut.
A. Tugas Perencanaan.
1. Penetapan Tujuan.
2. Merancang situasi masalah yang sesuai.
3. Organisasi sumber daya dan rencana logistik.
B. Tugas interaktif
1. Orientasi siswa pada masalah.
2. Mengorganisasikan siswa untuk belajar.
3. Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok.
4. Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah.
C. Lingkungan Belajar dan Tugas-tugas Managemen.
D. Asesmen dan evaluasi
Arends (2004) menyatakan bahwa ada tiga hasil belajar (outcomes) yang diperoleh
pebelajar yang diajar dengan Pembelajaran Berbasis Masalah, yaitu:
1. Inkuiri dan ketrampilan melakukan pemecahan masalah.
2. Belajar model peraturan orang dewasa (adult role behaviors), dan
3. Ketrampilan belajar mandiri (skills for independent learning).
Kelebihan Pembelajaran Berbasis
Masalah dalam pemanfaatannya adalah sebagai berikut.
1. Mengembangkan pemikiran kritis dan keterampilan kreatif dan mandiri
2. Meningkatkan motivasi dan kemampuan memecahkan masalah
3. Membantu siswa belajar untuk mentransfer pengetahuan dengan situasi baru
4. Dengan PBM akan terjadi pembelajaran bermakna.
5. Dalam situasi PBM, siswa/mahasiswa mengintegrasikan pengetahuan dan
ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan.
6. PBM dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif
siswa/mahasiswa dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat
mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.
Kekurangan Pembelajaran Berbasis
Masalah dalam pemanfaatannya adalah sebagai berikut.
1. Kurang terbiasanya peserta didik dan pengajar dengan metode ini.
2. Kurangnya waktu pembelajaran.
3. Siswa tidak dapat benar-benar tahu apa yang mungkin penting bagi mereka
untuk belajar.
4. Seorang guru sulit menjadi fasilitator yang baik.
MODEL PEMBELAJARAN MIND MAPPING
- Pengertian
Mind mapping merupakan cara untuk
menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambilnya kembali ke luar otak.
Bentuk mind mapping seperti peta sebuah jalan di kota yang mempunyai banyak
cabang. Seperti halnya peta jalan kita bisa membuat pandangan secara menyeluruh
tentang pokok masalah dalam suatu area yang sangat luas. Dengan sebuah peta
kita bisa merencanakan sebuah rute yang tercepat dan tepat dan mengetahui
kemana kita akan pergi dan dimana kita berada.
Mind mapping bisa disebut sebuah
peta rute yang digunakan ingatan, membuat kita bisa menyusun fakta dan fikiran
sedemikian rupa sehingga cara kerja otak kita yang alami akan dilibatkan sejak
awal sehingga mengingat informasi akan lebih mudah dan bisa diandalkan daripada
menggunakan teknik mencatat biasa..
Mind mapping, disebut
pemetaan pikiran atau peta pikiran, adalah salah satu cara mencatat materi
pelajaran yang memudahkan siswa belajar. Mind mapping bisa juga dikategorikan
sebagai teknik mencatat kreatif.
Dikategorikan ke dalam teknik
kreatif karena pembuatan mind mapping ini membutuhkan pemanfaatan imajinasi
dari si pembuatnya. Siswa yang kreatif akan lebih mudah membuat mind mapping
ini. Begitu pula, dengan semakin seringnya siswa membuat mind mapping, dia akan
semakin kreatif.
Konsep Mind Mapping asal mulanya
diperkenalkan oleh Tony Buzan tahun 1970-an. Teknik ini dikenal juga dengan
nama Radiant Thinking. Sebuah mind map memiliki sebuah ide atau kata sentral,
dan ada 5 sampai 10 ide lain yang keluar dari ide sentral tersebut. Mind
Mapping sangat efektif bila digunakan untuk memunculkan ide terpendam yang kita
miliki dan membuat asosiasi di antara ide tersebut. Mind Mapping juga berguna
untuk mengorganisasikan informasi yang dimiliki. Bentuk diagramnya yang seperti
diagram pohon dan percabangannya memudahkan untuk mereferensikan satu informasi
kepada informasi yang lain.
Mind mapping merupakan tehnik
penyusunan catatan demi membantu siswa menggunakan seluruh potensi otak agar
optimum. Caranya, menggabungkan kerja otak bagian kiri dan kanan. Dengan metode
mind mapping siswa dapat meningkatkan daya ingat hingga 78%.
Perbedaan Catatan Biasa dan Mind
Maping
a. Catatan
Biasa
b. Hanya
berupa tulisan-tulisan saja
c. Hanya
dalam satu warna
d. Untuk
mereview ulang diperlukan waktu yang lama
e. Waktu
yang diperlukan untuk belajar lebih lama
f. Statis
a. Peta
pikiran
b. Berupa
tulisan, simbol, dan gambar
c. Berwarna
warni
d. Untuk
mereview ulang diperlukan waktu yang pendek
e. Waktu
yang diperlukan untuk belajar lebih cepat dan efektif
f. Membuat
individu menjadi kreatif
Dari uraian tersebut, peta pikiran
(mind mapping) adalah satu teknik mencatat yang mengembangkan gaya belajar
visual. Peta pikiran memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang
terdapat di dalam diri seseorang. Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak
maka kan memudahkan seserorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk
informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Adanya kombinasi warna,
simbol, bentuk dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi yang
diterima.Peta pikiran yang dibuat oleh siswa dapat bervariasi setiap hari. Hal
ini disebabkan karena berbedanya emosi dan perasaan yang terdapat dalam diri
siswa setiap harinya. Suasana menyenangkan yang diperoleh siswa ketika berada
di ruang kelas pada saat proses belajar akan mempengaruhi penciptaan peta
pikiran. Tugas guru dalam proses belajar adalah menciptakan suasana yang dapat
mendukung kondisi belajar siswa terutama dalam proses pembuatan mind
mapping.(Sugiarto,Iwan. 2004. Mengoptimalkan Daya Kerja Otak Dengan Berfikir.)
Cara membuat mind mapping, terlebih
dahulu siapkan selembar kertas kosong yang diatur dalam posisi landscape
kemudian tempatan topik yang akan dibahas di tengah-tengah halaman kertas
dengan posisi horizontal. Usahakan menggunakan gambar, simbol atau kode pada
mind mapping yang dibuat. Dengan visualisasi kerja otak kiri yang bersifat
rasional, numerik dan verbal bersinergi dengan kerja otak kanan yang bersifat
imajinatif, emosi, kreativitas dan seni. Dengan ensinergikan potensi otak kiri
dan kanan, siswa dapat dengan lebih mudah menangkap dan menguasai materi
pelajaran.
Selain itu, siswa dapat menggunakan
kata-kata kunci sebagai asosiasi terhadap suatu ide pada setiap cabang
pemikiran berupa sebuah kata tunggal serta bukan kalimat. Setiap garis-garis
cabang saling berhubungan hingga ke pusat gambar dan diusahakan garis-garis
yang dibentuk tidak lurus agar tidak membosankan. Garis-garis cabang sebaiknya
dibuat semakin tipis begitu bergerak menjauh dari gambar utama untuk menandakan
hirarki atau tingkat kepentingan dari masing-masing garis.
Model pembelajaran Mind Mapping
sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan
alternatif jawaban. Dipergunakan dalam kerja kelompok secara berpasangan ( 2
orang ).
Langkah-langkah pembelajarannya :
1. Guru
menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Guru
menyajikan materi sebagaimana biasa.
3. Untuk
mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang.
4. Menugaskan
salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari
guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian
berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya.
5. Menugaskan
siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman
pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya.
6. Guru
mengulangi/menjelaskan kembali materi yang kiranya belum dipahami siswa.
7. Kesimpulan/penutup.
- Prinsip Dasar Mind Mapping
Mind Mapping menggunakan teknik
penyaluran gagasan dengan menggunakan kata kunci bebas, simbol, gambar, dan
menggambarkan secara kesatuan dengan menggunakan teknik pohon.
- Kelebihan dan Kekurangan mind mapping
Beberapa manfaat memiliki mind
maping antara lain :
a. Merencana
b. Berkomunikasi
c. Menjadi
Kreatif
d. Menghemat
Waktu
e. Menyelesaikan
Masalah
f. Memusatkan
Perhatian
g. Menyusun
dan Menjelaskan Fikiran-fikiran
h. Mengingat
dengan lebih baik
i. Belajar
Lebih Cepat dan Efisien
j. Melihat
gambar keseluruhan
Ada beberapa kelebihan saat
menggunakan teknik mind mapping ini, yaitu :
a. Cara
ini cepat
b. Teknik
dapat digunakan untuk mengorganisasikan ide-ide yang muncul dikepala anda
c. Proses
mengganbar diagram bisa memunculkan ide-ide yang lain.
d. Diagram
yang sudah terbentuk bisa menjadi panduan untuk menulis.
Kekurangan model pembelajaran mind
mapping:
a. Hanya
siswa yang aktif yang terlibat
b. Tidak
sepenuhnya murid yang belajar
c. Jumlah
detail informasi tidak dapat dimasukkan
KESIMPULAN
Jadi model pembelajaran mind mapping
adalah suatu model pembelajaran untuk menempatkan informasi ke dalam otak
dan mengambilnya kembali ke luar otak. Bentuk mind mapping seperti peta sebuah
jalan di kota yang mempunyai banyak cabang. Model pembelajaran Mind Mapping
sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan
alternatif jawaban. Dipergunakan dalam kerja kelompok secara berpasangan ( 2
orang ).
Mind Mapping menggunakan teknik
penyaluran gagasan dengan menggunakan kata kunci bebas, simbol, gambar, dan
menggambarkan secara kesatuan dengan menggunakan teknik pohon.
Mind mapping, disebut
pemetaan pikiran atau peta pikiran, adalah salah satu cara mencatat materi
pelajaran yang memudahkan siswa belajar. Mind mapping bisa juga dikategorikan
sebagai teknik mencatat kreatif.
Dikategorikan ke dalam teknik
kreatif karena pembuatan mind mapping ini membutuhkan pemanfaatan imajinasi
dari si pembuatnya. Siswa yang kreatif akan lebih mudah membuat mind mapping
ini. Begitu pula, dengan semakin seringnya siswa membuat mind mapping, dia akan
semakin kreatif.
Kelebihan :
a. Cara
ini cepat
b. Teknik
dapat digunakan untuk mengorganisasikan ide-ide yang muncul dikepala anda
c. Proses
mengganbar diagram bisa memunculkan ide-ide yang lain.
d. Diagram
yang sudah terbentuk bisa menjadi panduan untuk menulis.
Kekurangan :
a. Hanya
siswa yang aktif yang terlibat
b. Tidak
sepenuhnya murid yang belajar
c. Jumlah
detail informasi tidak dapat dimasukkan
METODE MAKE A MATCH
1. PENGERTIAN
Pembelajaran terpusat pada guru sampai saat ini masih menemukan beberapa
kelemahan. Kelemahan tersebut dapat dilihat pada saat berlangsungnya proses
pembelajaran di kelas, interaksi aktif antara siswa dengan guru atau siswa
dengan siswa jarang terjadi. Siswa kurang terampil menjawab pertanyaan atau
bertanya tentang konsep yang diajarkan. Siswa kurang bisa bekerja dalam
kelompok diskusi dan pemecahan masalah yang diberikan. Mereka cenderung belajar
sendiri-sendiri. Pengetahuan yang didapat bukan dibangun sendiri secara
bertahap oleh siswa atas dasar pemahaman sendiri. Karena siswa jarang menemukan
jawaban atas permasalahan atau konsep yang dipelajari.
Ternyata suatu penelitian telah
membuktikan setelah dilakukan evaluasi terhadap hasil belajar siwa tenyata
dengan pendekatan seperti itu hasil belajar siswa dirasa belum maksimal. Hal
ini tampak pada pencapaian nilai akhir siswa .
Rendahnya pencapaian nilai akhir
siswa ini, menjadi indikasi bahwa pembelajaran yang dilakukan belum efektif.
Nilai akhir dari evaluasi belajar belum mencakup penampilan dan partisipasi
siswa dalam pembelajaran, hingga sulit untuk mengukur keterampilan siswa .
Untuk memperbaiki hal tersebut perlu
disusun suatu pendekatan dalam pembelajaran yang lebih komprehensip dan dapat
mengaitkan materi teori dengan kenyataan yang ada di lingkungan sekitarnya
.Atas dasar itulah mencoba dikembangkan pendekatan kooperatif dalam
pembelajaran dengan metode make a match.
Model pembelajaran kooperatif
didasarkan atas falsafah homo homini socius, falsafah ini menekankan bahwa
manusia adalah mahluk sosial (Lie, 2003:27). Sedangkan menurut Ibrahim (2000:2)
model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang membantu siswa
mempelajari isi akademik dan hubungan sosial. Ciri khusus pembelajaran
kooperatif mencakup lima unsur yang harus diterapkan, yang meliputi; saling
ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi
antar anggota dan evaluasi proses kelompok (Lie, 2003:30)
Model pembelajaran kooperatif
bukanlah hal yang sama sekali baru bagi guru. Model pembelajaran kooperatif
merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok.
Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang
berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok
berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan
jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam
menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam
rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Guna meningkatkan partisipasi dan
keaktifan siswa dalam kelas, guru menerapkan metode pembelajaran make a match.
Metode make a match atau mencari pasangan merupakan salah satu alternatif yang
dapat diterapkan kepada siswa. Penerapan metode ini dimulai dari teknik yaitu
siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas
waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin.
2. PRINSIP ATAU CIRI-CIRI
Teknik metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh
Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari
pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang
menyenangkan. Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut:
1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang
cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
2. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.
3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
4. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Misalnya:
pemegang kartu yang bertuliskan bela negara akan berpasangan dengan kartu yang
bertuliskan soal “sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh
kecintaannya kepada negara dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara”
.
5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi
poin.
6. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak
dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang
telah disepakati bersama.
7. Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang
berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
8. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu
yang cocok.
9. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran.
Pada penerapan metode make a match, diperoleh beberapa temuan bahwa metode make
a match dapat memupuk kerja sama siswa dalam menjawab pertanyaan dengan
mencocokkan kartu yang yang ada di tangan mereka, proses pembelajaran lebih
menarik dan nampak sebagian besar siswa lebih antusias mengikuti proses
pembelajaran, dan keaktifan siswa tampak sekali pada saat siswa mencari
pasangan kartunya masing-masing. Hal ini merupakan suatu ciri dari pembelajaran
kooperatif seperti yang dikemukan oleh Lie (2002:30) bahwa, “Pembelajaran kooperatif
ialah pembelajaran yang menitikberatkan
pada gotong royong dan kerja sama kelompok.”
3. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Pembelajaran kooperatif metode make a match memberikan manfaat bagi siswa, di
antaranya sebagai berikut:
1. Mampu menciptakan suasana belajar aktif dan menyenangkan
2. Materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa
3. Mampu meningkatkan hasil belajar siswa mencapai taraf ketuntasan belajar
secara klasikal 87,50% .
4. Suasana kegembiraan akan tumbuh dalam proses pembelajaran (Let them move)
5. Kerjasama antar sesama siswa terwujud dengan dinamis.
6. Munculnya dinamika gotong royong yang merata di seluruh siswa.
Tak ada gading yang tak retak ,
begitu pula pada metode ini. Di samping manfaat yang dirasakan oleh siswa,
pembelajaran kooperatif metode make a match berdasarkan temuan di lapangan
mempunyai sedikit kelemahan yaitu:
1. Diperlukan bimbingan dari guru untuk melakukan kegiatan
2. Waktu yang tersedia perlu dibatasi jangan sampai siswa terlalu banyak
bermain-main dalam proses pembelajaran.
3. Guru perlu persiapan bahan dan alat yang memadai.
4. Pada kelas yang gemuk (<30 siswa/kelas) jika kurang bijaksana maka yang
muncul adalah suasana seperti pasar dengan keramaian yang tidak terkendali.
Tentu saja kondisi ini akan mengganggu ketenangan belajar kelas di kiri
kanannya. Apalagi jika gedung kelas tidak kedap suara. Tetapi hal ini bisa
diantisipasi dengan menyepakati beberapa komitmen ketertiban dengan siswa
sebelum ‘pertunjukan’ dimulai. Pada dasarnya menendalikan kelas itu tergantung
bagaimana kita memotivasinya pada langkah pembukaan.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan pada kegiatan belajar mengajar penggunaan metode make a match,
siswa nampak lebih aktif mencari pasangan kartu antara jawaban dan soal. Dengan
metode pencarian kartu pasangan ini siswa dapat mengidentifikasi permasalahan
yang terdapat di dalam kartu yang ditemukannya dan menceritakannya dengan
sederhana dan jelas secara bersama-sama.
Pada penerapan metode make a match,
diperoleh beberapa temuan bahwa metode make a match dapat memupuk kerja sama
siswa dalam menjawab pertanyaan dengan mencocokkan kartu yang yang ada di
tangan mereka, proses pembelajaran lebih menarik dan nampak sebagian besar
siswa lebih antusias mengikuti proses pembelajaran, dan keaktifan siswa tampak
sekali pada saat siswa mencari pasangan kartunya masing-masing.
Kegiatan yang dilakukan guru ini
merupakan upaya guru untuk menarik perhatian sehingga pada akhirnya dapat
menciptakan keaktifan dan motivasi siswa dalam diskusi. Hal ini sejalan dengan
pendapat Hamalik (1994:116), “Motivasi yang kuat erat hubungannya dengan
peningkatan keaktifan siswa yang dapat dilakukan dengan strategi pembelajaran
tertentu, dan motivasi belajar dapat ditujukan ke arah kegiatan-kegiatan
kreatif. Apabila motivasi yang dimiliki oleh siswa diberi berbagai tantangan,
akan tumbuh kegiatan kreatif.” Selanjutnya, penerapan metode make a match dapat
membangkitkan keingintahuan dan kerja sama di antara siswa serta mampu
menciptakan kondisi yang menyenangkan. Hal ini sesuai dengan tuntutan dalam
kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) bahwa pelaksanaan proses
pembelajaran mengikuti standar kompetensi, yaitu: berpusat pada siswa;
mengembangkan keingintahunan dan imajinasi; memiliki semangat mandiri, bekerja
sama, dan kompetensi; menciptakan kondisi yang menyenangkan; mengembangkan
beragam kemampuan dan pengalaman belajar; karakteristik mata pelajaran.
Model Pembelajaran Tipe Think Pair
Share (TPS)
Strategi think –pair
share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagai adalah merupakan
jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi
siswa.
- Pengertian
Strategi think pair share ini berkembang dari penelitian belajar kooperatif dan waktu
tunggu. Pertama kali dikembangkan oleh Frang Lyman dan Koleganya di universitas
Maryland sesuai yang dikutip Arends (1997),menyatakan bahwa think pair share
merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi
kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan
untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam
think pair share dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk
merespon dan saling membantu. Guru memperkirakan hanya melengkapi penyajian
singkat atau siswa membaca tugas, atau situasi yang menjadi tanda tanya .
Sekarang guru menginginkan siswa mempertimbangkan lebih banyak apa yang telah
dijelaskan dan dialami .Guru memilih menggunakan think-pair-share untuk
membandingkan tanya jawab kelompok keseluruhan.
- Langkah-langkah
Langkah 1 : Berpikir (
thinking )
Guru mengajukan suatu pertanyaan
atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan
waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah.
Langkah 2 : Berpasangan (
pairing )
Selanjutnya guru meminta siswa untuk
berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi selama
waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang
diajukan menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diidentifikasi.
Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk
berpasangan.
Langkah 3 : Berbagi (
sharing )
Pada langkah akhir, guru meminta
pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka
bicarakan. Hal ini efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan ke pasangan
dan melanjutkan sampai sekitar sebagian pasangan mendapat kesempatan untuk
melaporkan. Arends, (1997) disadur Tjokrodihardjo, (2003).
Model Pembelajaran Think Pair and
Share menggunakan metode diskusi berpasangan yang dilanjutkan dengan diskusi
pleno. Dengan model pembelajaran ini siswa dilatih bagaimana mengutarakan
pendapat dan siswa juga belajar menghargai pendapat orang lain dengan tetap
mengacu pada materi/tujuan pembelajaran
Langkah-langkah model pembelajaran
Think Pair and Share adalah sebagai berikut :
1. Guru menyampaikan inti
materi dan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Siswa diminta untuk
berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru.
3. Siswa diminta berpasangan
dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan
mengutarakan hasil pemikiran
masing-masing.
4. Guru memimpin pleno kecil
diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya.
5. Berawal dari kegiatan tersebut,
Guru mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan
dan menambah
materi yang belum diungkapkan para siswa.
- Kelebihan TPS (Think-Pair-Share)
1. Memberi
siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu satu
sama lain.
2. Meningkatkan
partisipasi akan cocok untuk tugas sederhana.
3. Lebih
banyak kesempatan untuk konstribusi masing-masing anggota kelompok.
4. Interaksi
lebih mudah.
5. Lebih
mudah dan cepat membentuk kelompoknya.
6. Seorang
siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk
didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas.
7. Dapat
memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk
berpartisipasi dalam kelas.
8. Siswa
dapat mengembangkan keterampilan berfikir dan menjawab dalam komunikasi antara
satu dengan yang lain, serta bekerja saling membantu dalam kelompok kecil.
9. Siswa
secara langsung dapat memecahkan masalah, memahami suatu materi secara
berkelompok dan saling membantu antara satu dengan yang lainnya, membuat
kesimpulan (diskusi) serta mempresentasikan di depan kelas sebagai salah satu
langkah evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
10. Memungkinkan siswa
untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan
karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh
guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan.
11. Siswa akan terlatih
menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk
mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah.
12. Siswa lebih aktif
dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap
kelompok hanya terdiri dari 2 orang.
13. Siswa memperoleh
kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa
sehingga ide yang ada menyebar.
14. Memungkinkan guru
untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran.
15. Meningkatkan
pencurahan waktu pada tugas. Penggunaan metode pembelajaran TPS menuntut siswa
menggunakan waktunya untuk mengerjakan tugas-tugas atau permasalahan yang
diberikan oleh guru di awal pertemuan sehingga diharapkan siswa mampu memahami
materi dengan baik sebelum guru menyampaikannya pada pertemuan selanjutnya.
16. Memperbaiki
kehadiran. Tugas yang diberikan oleh guru pada setiap pertemuan selain untuk
melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran juga dimaksudkan agar
siswa dapat selalu berusaha hadir pada setiap pertemuan. Sebab bagi siswa yang
sekali tidak hadir maka siswa tersebut tidak mengerjakan tugas dan hal ini akan
mempengaruhi hasil belajar mereka.
17. Angka putus sekolah
berkurang. Model pembelajaran TPS diharapkan dapat memotivasi siswa dalam
pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat lebih baik daripada
pembelajaran dengan model konvensional.
18. Sikap apatis
berkurang. Sebelum pembelajaran dimulai, kencenderungan siswa merasa malas
karena proses belajar di kelas hanya mendengarkan apa yang disampaikan guru dan
menjawab semua yang ditanyakan oleh guru. Dengan melibatkan siswa secara aktif
dalam proses belajar mengajar, metode pembelajaran TPS akan lebih menarik dan
tidak monoton dibandingkan metode konvensional.
19. Penerimaan terhadap
individu lebih besar. Dalam model pembelajaran konvensional, siswa yang aktif
di dalam kelas hanyalah siswa tertentu yang benar-benar rajin dan cepat dalam
menerima materi yang disampaikan oleh guru sedangkan siswa lain hanyalah
“pendengar” materi yang disampaikan oleh guru. Dengan pembelajaran TPS hal ini
dapat diminimalisir sebab semua siswa akan terlibat dengan permasalahan yang
diberikan oleh guru.
20. Hasil belajar lebih
mendalam. Parameter dalam PBM adalah hasil belajar yang diraih oleh siswa.
Dengan pembelajaran TPS perkembangan hasil belajar siswa dapat diidentifikasi
secara bertahap. Sehingga pada akhir pembelajaran hasil yang diperoleh siswa
dapat lebih optimal.
21. Meningkatkan kebaikan
budi, kepekaan dan toleransi. Sistem kerjasama yang diterapkan dalam model
pembelajaran TPS menuntut siswa untuk dapat bekerja sama dalam tim, sehingga
siswa dituntut untuk dapat belajar berempati, menerima pendapat orang lain atau
mengakui secara sportif jika pendapatnya tidak diterima.
- Kelemahan TPS (Think-Pair-Share)
1. Membutuhkan
koordinasi secara bersamaan dari berbagai aktivitas.
2. Membutuhkan
perhatian khusus dalam penggunaan ruangan kelas.
3. Peralihan
dari seluruh kelas ke kelompok kecil dapat menyita waktu pengajaran yang
berharga. Untuk itu guru harus dapat membuat perencanaan yang seksama sehingga
dapat meminimalkan jumlah waktu yang terbuang.
4. Banyak
kelompok yang melapor dan perlu dimonitor.
5. Lebih
sedikit ide yang muncul.
6. Jika
ada perselisihan,tidak ada penengah.
7. Menggantungkan
pada pasangan.
8. Jumlah
siswa yang ganjil berdampak pada saat pembentukan kelompok, karena ada satu
siswa tidak mempunyai pasangan.
9. Ketidaksesuaian
antara waktu yang direncanakan dengan pelaksanaannya.
10. Metode pembelajaran
Think-Pair-Share belum banyak diterapkan di sekolah.
11. Sangat memerlukan
kemampuan dan ketrampilan guru, waktu pembelajaran berlangsung guru melakukan
intervensi secara maksimal.
12. Menyusun bahan ajar
setiap pertemuan dengan tingkat kesulitan yang sesuai dengan taraf berfikir
anak
13. Mengubah kebiasaan
siswa belajar dari yang dengan cara mendengarkan ceramah diganti dengan belajar
berfikir memecahkan masalah secara kelompok, hal ini merupakan kesulitan
sendiri bagi siswa.
14. Sangat sulit
diterapkan di sekolah yang rata-rata kemampuan siswanya rendah dan waktu yang
terbatas.
15. Jumlah kelompok yang
terbentuk banyak.
16. Sejumlah siswa
bingung, sebagian kehilangan rasa percaya diri, saling mengganggu antar siswa
karena siswa baru tahu metode TPS.
MODEL PEMBELAJARAN DEBAT
Model pembelajaran DEBAT
A. PENGERTIAN DEBAT
Debat adalah kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara
perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan
perbedaan. Secara formal, debat banyak dilakukan dalam institusi legislatif
seperti parlemen, terutama di negara-negara yang menggunakan sistem oposisi.
Dalam hal ini, debat dilakukan menuruti aturan-aturan yang jelas dan hasil dari
debat dapat dihasilkan melalui voting atau keputusan juri.
Contoh lain debat yang
diselenggarakan secara formal adalah debat antar kandidat legislatif dan debat
antar calon presiden/wakil presiden yang umum dilakukan menjelang pemilihan
umum.
Debat kompetitif adalah debat dalam bentuk permainan yang biasa dilakukan di
tingkat sekolah dan universitas. Dalam hal ini, debat dilakukan sebagai
pertandingan dengan aturan (“format”) yang jelas dan ketat antara dua pihak
yang masing-masing mendukung dan menentang sebuah pernyataan. Debat disaksikan
oleh satu atau beberapa orang juri yang ditunjuk untuk menentukan pemenang dari
sebuah debat. Pemenang dari debat kompetitif adalah tim yang berhasil
menunjukkan pengetahuan dan kemampuan debat yang lebih baik.
B. DEBAT KOMPETITIF DALAM PENDIDIKAN
Tidak seperti debat sebenarnya di parlemen, debat kompetitif tidak bertujuan
untuk menghasilkan keputusan namun lebih diarahkan untuk mengembangkan
kemampuan-kemampuan tertentu di kalangan pesertanya, seperti kemampuan untuk
mengutarakan pendapat secara logis, jelas dan terstruktur, mendengarkan
pendapat yang berbeda, dan kemampuan berbahasa asing (bila debat dilakukan
dalam bahasa asing).
Namun demikian, beberapa format yang digunakan dalam debat kompetitif
didasarkan atas debat formal yang dilakukan di parlemen. Dari sinilah muncul
istilah “debat parlementer” sebagai salah satu gaya debat kompetitif yang populer.
Ada berbagai format debat parlementer yang masing-masing memiliki aturan dan
organisasinya sendiri.
Kejuaraan debat kompetitif parlementer tingkat dunia yang paling diakui adalah
World Universities Debating Championship (WUDC) dengan gaya British Parliamentary
di tingkat universitas dan World Schools Debating Championship (WSDC) untuk
tingkat sekolah menengah atas.
Kompetisi debat bertaraf internasional umumnya menggunakan bahasa Inggris
sebagai pengantar. Tidak ada bantuan penerjemah bagi peserta manapun. Namun
demikian, beberapa kompetisi memberikan penghargaan khusus kepada tim yang
berasal dari negara-negara yang hanya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa
kedua (English as Second Language – ESL).
Negara-negara yang terkenal dengan tim debatnya antara lain Inggris, Australia,
Irlandia, dan Amerika Serikat. Di Asia, negara yang dianggap relatif kuat
antara lain Filipina dan Singapura.
1. Debat kompetitif di Indonesia
Di Indonesia, debat kompetitif sudah mulai berkembang, walaupun masih didominasi
oleh kompetisi debat berbahasa Inggris. Kejuaraan debat parlementar pertama di
tingkat universitas adalah Java Overland Varsities English Debate (JOVED) yang
diselenggarakan tahun 1997 di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, dan
diikuti oleh tim-tim dari berbagai wilayah di P. Jawa. Kejuaraan debat
se-Indonesia yang pertama adalah Indonesian Varsity English Debate (IVED) 1998
di Universitas Indonesia. Hingga kini (2006), kedua kompetisi tersebut
diselenggarakan setiap tahun secara bergilir di universitas yang berbeda.
Sejak 2001, Indonesia telah mengirimkan delegasi ke WSDC. Delegasi tersebut
dipilih setiap tahunnya melalui Indonesian Schools Debating Championship (ISDC)
yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional bekerjasama dengan
Association for Critical Thinking (ACT).
2. Berbagai gaya debat parlementer
Dalam debat kompetitif, sebuah format mengatur hal-hal antara lain:
1. jumlah tim dalam satu debat
2. jumlah pembicara dalam satu tim
3. giliran berbicara
4. lama waktu yang disediakan untuk masing-masing pembicara
5. tatacara interupsi
6. mosi dan batasan-batasan pendefinisian mosi
7. tugas yang diharapkan dari masing-masing pembicara
8. hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh pembicara
9. jumlah juri dalam satu debat
10. kisaran penilaian
Selain itu, berbagai kompetisi juga memiliki aturan yang berbeda mengenai:
Penentuan topik debat (mosi) – apakah diberikan jauh hari sebelumnya atau hanya
beberapa saat sebelum debat dimulai (impromptu)
Lama waktu persiapan – untuk debat impromptu, waktu persiapan berkisar antara
15 menit (WUDC) hingga 1 jam (WSDC)
Perhitungan hasil pertandingan – beberapa debat hanya menggunakan victory point
(VP) untuk menentukan peringkat, namun ada juga yang menghitung selisih
(margin) nilai yang diraih kedua tim atau jumlah vote juri (mis. untuk panel
beranggotakan 3 juri, sebuah tim bisa menang 3-0 atau 2-1)
Sistem kompetisi – sistem gugur biasanya hanya digunakan dalam babak elimiasi
(perdelapan final, perempat final, semifinal dan final); dalam babak
penyisihan, sistem yang biasa digunakan adalah power matching
Format debat parlementer sering menggunakan peristilahan yang biasa dipakai di
debat parlemen sebenarnya:
Topik debat disebut mosi (motion)
Tim Afirmatif (yang setuju terhadap mosi) sering disebut juga Pemerintah
(Government), tim Negatif (yang menentang mosi) disebut Oposisi (Opposition)
Pembicara pertama dipanggil sebagai Perdana Menteri (Prime Minister), dan
sebagainya
Pemimpin/wasit debat (chairperson) dipanggil Speaker of The House
Penonton/juri dipanggil Members of the House (Sidang Dewan yang Terhormat)
Interupsi disebut Points of Information (POI)
a. Australian
Parliamentary/Australasian Parliamentary (“Australs”)
Gaya debat ini digunakan di Australia, namun pengaruhnya menyebar hingga ke
kompetisi-kompetisi yang diselenggarakan di Asia, sehingga akhirnya disebut
sebagai format Australasian Parliamentary. Dalam format ini, dua tim
beranggotakan masing-masing tiga orang berhadapan dalam satu debat, satu tim
mewakili Pemerintah (Government) dan satu tim mewakili Oposisi (Opposition),
dengan urutan sebagai berikut:
Pembicara pertama pihak Pemerintah – 7 menit
Pembicara pertama pihak Oposisi – 7 menit
Pembicara kedua pihak Pemerintah – 7 menit
Pembicara kedua pihak Oposisi – 7 menit
Pembicara ketiga pihak Pemerintah – 7 menit
Pembicara ketiga pihak Oposisi – 7 menit
Pidato penutup pihak Oposisi – 5 menit
Pidato penutup pihak Pemerintah – 5 menit
Pidato penutup (Reply speech)
menjadi ciri dari format ini. Pidato penutup dibawakan oleh pembicara pertama
atau kedua dari masing-masing tim (tidak boleh pembicara ketiga). Pidato
penutup dimulai oleh Oposisi terlebih dahulu, baru Pemerintah.
Mosi dalam format ini diberikan dalam bentuk pernyataan yang harus didukung
oleh pihak Pemerintah dan ditentang oleh Pihak Oposisi, contoh:
(This House believes that) Globalization marginalizes the poor.
(Sidang Dewan percaya bahwa) Globalisasi meminggirkan masyarakat miskin.
Mosi tersebut dapat didefinisikan oleh pihak Pemerintah dalam batasan-batasan
tertentu dengan tujuan untuk memperjelas debat yang akan dilakukan. Ada
aturan-aturan yang cukup jelas dalam hal apa yang boleh dilakukan sebagai
bagian dari definisi dan apa yang tidak boleh dilakukan.
Tidak ada interupsi dalam format
ini.
Juri (adjudicator) dalam format Australs terdiri atas satu orang atau satu
panel berjumlah ganjil. Dalam panel, setiap juri memberikan voting-nya tanpa
melalui musyawarah. Dengan demikian, keputusan panel dapat bersifat unanimous
ataupun split decision.
Di Indonesia, format ini termasuk yang pertama kali dikenal sehingga cukup
populer terutama di kalangan universitas. Kompetisi debat di Indonesia yang
menggunakan format ini adalah Java Overland Varsities English Debate (JOVED)
dan Indonesian Varsity English Debate (IVED).
b. Asian Parliamentary (“Asians”)
Format ini merupakan pengembangan dari format Australs dan digunakan dalam
kejuaraan tingkat Asia. Perbedaannya dengan format Australs adalah adanya
interupsi (Points of Information) yang boleh diajukan antara menit ke-1 dan
ke-6 (hanya untuk pidato utama, tidak pada pidato penutup). Format ini juga
mirip dengan World Schools Style yang digunakan di WSDC.
Di Indonesia, format ini digunakan dalam ALSA English Competition (e-Comp) yang
diselenggarakan (hampir) setiap tahun oleh ALSA LC [[Universitas Indonesia].
c. British Parliamentary (“BP”)
Gaya debat parlementer ini banyak dipakai di Inggris namun juga populer di
banyak negara, sebab format inilah yang digunakan di kejuaraan dunia WUDC.
Dalam format ini, empat tim beranggotakan masing-masing dua orang bertarung
dalam satu debat, dua tim mewakili Pemerintah (Government) dan dua lainnya
Oposisi (Opposition), dengan susunan sebagai berikut:
Opening Government: Opening Opposition:
Prime Minister Leader of the Opposition
Deputy Prime Minister Deputy Leader of the Opposition
Closing Government: Closing Opposition
Member of the Government Member of the Opposition
Government Whip Opposition Whip
Urutan berbicara adalah sebagai
berikut:
Prime Minister – 7 menit
Leader of the Opposition – 7 menit
Deputy Prome Minister – 7 menit
Deputy Leader of the Opposition – 7 menit
Member of the Government – 7 menit
Member of the Opposition – 7 menit
Government Whip – 7 menit
Opposition Whip – 7 menit
Setiap pembicara diberi waktu 7
menit untuk menyampaikan pidatonya. Di antara menit ke-1 dan ke-6, pembicara
dari pihak lawan dapat mengajukan interupsi (Points of Information). Bila
diterima, pembicara yang mengajukan permintaan interupsi tadi diberikan waktu
maksimal 15 detik untuk menyampaikan sebuah pertanyaan yang kemudian harus
dijawab oleh pembicara tadi sebelum melanjutkan pidatonya.
Juri dalam debat BP bisa satu orang atau satu panel berjumlah ganjil. Di akhir
debat, juri menentukan urutan kemenangan dari peringkat 1 sampai 4 untuk debat
tersebut. Dalam panel, keputusan sebisanya diambil berdasarkan mufakat. Bila
mufakat tidak tercapai, Ketua Panel akan membuat keputusan terakhir.
Di Indonesia, format ini digunakan dalam kompetisi Founder’s Trophy yang
diselenggarakan oleh Komunitas Debat
Bahasa Inggris Universitas Indonesia setiap tahun.
d. Format World Schools
Format yang digunakan dalam turnamen World Schools Debating Championship (WSDC)
dapat dianggap sebagai kombinasi BP dan Australs. Setiap debat terdiri atas dua
tim, Proposisi dan Oposisi, beranggotakan masing-masing tiga orang. Urutan
pidato adalah sebagai berikut:
Pembicara pertama Proposisi – 8 menit
Pembicara pertama Oposisi – 8 menit
Pembicara kedua Proposisi – 8 menit
Pembicara kedua Oposisi – 8 menit
Pembicara ketiga Proposisi – 8 menit
Pembicara ketiga Oposisi – 8 menit
Pidato penutup Oposisi – 4 menit
Pidato penutup Proposisi – 4 menit
Pidato penutup (reply speech)
dibawakan oleh pembicara pertama atau kedua masing-masing tim (tidak boleh
pembicara ketiga) dan didahului oleh pihak Oposisi dan ditutup oleh pihak
Proposisi.
Aturan untuk interupsi (Points of Information – POI) mirip dengan format BP.
POI hanya dapat diberikan antara menit ke-1 dan ke-7 pidato utama dan tidak ada
POI dalam pidato penutup.
Di Indonesia, format ini digunakan dalam kejuaraan Indonesian Schools Debating
Championship (ISDC). Beberapa SMU di Indonesia yang pernah mengadakan kompetisi
debat juga menggunakan format ini.
e. American Parliamentary
Debat parlementer di Amerika Serikat diikuti oleh dua tim untuk setiap debatnya
dengan susunan sebagai berikut:
Government
Prime Minister (PM)
Member of the Government (MG)
Opposition
Leader of the Opposition (LO)
Member of the Opposition (MO)
Debat parlementer diadakan oleh
beberapa organisasi berbeda di Amerika Serikat di tingkat pendidikan menengah
dan tinggi. National Parliamentary Debate Association (NPDA), American
Parliamentary Debate Association (APDA), dan National Parliamentary Tournament
of Excellence (NPTE) menyelenggarakan debat parlementer tingkat universitas
dengan susunan pidato sebagai berikut:
Prime Minister – 7 menit
Leader of the Opposition – 8 menit
Member of the Government – 8 min
Member of the Opposition – 8 min
Leader of the Opposition Rebuttal – 4 min
Prime Minister Rebuttal – 5 min
California High School Speech
Association (CHSSA) dan National Parliamentary Debate League (NPDL)
menyelenggarakan debat parlementer tingkat sekolah menengah dengan susunan
pidato sebagai berikut:
Prime Minister – 7 menit
Leader of the Opposition – 7 menit
Member of the Government – 7 menit
Member of the Opposition – 7 menit
Leader of the Opposition Rebuttal – 5 menit
Prime Minister Rebuttal – 5 menit
Dalam semua format tersebut kecuali
CHSSA, interupsi berupa pertanyaan dapat ditanyakan kepada pembicara keempat
pidato pertama, kecuali pada menit pertama dan terakhir pidato. Dalam format
CHSSA, keenam pidato semuanya dapat diinterupsi.
Di Indonesia, format debat ini belum populer dan belum ada kompetisi reguler
yang menggunakannya.
3. Debat kompetitif selain debat
parlementer
Debat Proposal
Dalam gaya Debat Proposal (Policy Debate), dua tim menjadi penganjur dan
penentang sebuah rencana yang berhubungan dengan topik debat yang diberikan.
Topik yang diberikan umumnya mengenai perubahan kebijakan yang diinginkan dari
pemerintah. Kedua tim biasanya memainkan peran Afirmatif (mendukung proposal)
dan Negatif (menentang proposal). Pada prakteknya, kebanyakan acara debat tipe
ini hanya memiliki satu topik yang sama yang berlaku selama setahun penuh atau
selama jangka waktu lainnya yang sudah ditetapkan.
Bila dibandingkan dengan debat parlementer, debat proposal lebih mengandalkan
pada hasil riset atas fakta-fakta pendukung (evidence). Debat ini juga memiliki
persepsi yang lebih luas mengenai argumen. Misalnya, sebuah proposal alternatif
(counterplan) yang membuat proposal utama menjadi tidak diperlukan dapat
menjadi sebuah argumen dalam debat ini. Walaupun retorika juga penting dan ikut
memengaruhi nilai setiap pembicara, pemenang tiap babak umumnya didasari atas
siapa yang telah “memenangkan” argumen sesuai dengan fakta pendukung dan logika
yang diberikan. Sebagai konsekuensinya, juri kadang-kadang membutuhkan waktu
yang lama untuk mengambil keputusan karena semua fakta pendukung harus
diperiksa terlebih dahulu.
Di Amerika Serikat, Debat Proposal adalah tipe debat yang lebih populer
dibandingkan debat parlementer. Kegiatan ini juga telah dicoba dikembangkan di
Eropa dan Jepang dan gaya debat ini ikut memengaruhi bentuk-bentuk debat lain.
Di AS, Debat Proposal tingkat SMU diselenggarakan oleh NFL dan NCFL. Di tingkat
universitas, debat ini diselenggarakan oleh National Debate Tournament (NDT),
Cross Examination Debate Association (CEDA), National Educational Debate Association,
dan Great Plains Forensic Conference.
Debat Proposal terdiri atas dua tim beranggotakan masing-masing dua orang dalam
tiap debatnya. Setiap pembicara membawakan dua pidato, satu pidato konstruktif
(8 atau 9 menit) yang berisi argumen-argumen baru dan satu pidato sanggahan (4,
5, atau 6 menit) yang tidak boleh berisi argumen baru namun dapat berisi fakta
pendukung baru untuk membantu sanggahan. Biasanya, sehabis setiap pidato
konstruktif, pihak lawan diberikan kesempatan untuk melakukan pemeriksaan
silang (cross-examination) atas pidato tersebut. Setiap isu yang tidak
ditanggapi oleh pihak lawan dianggap sudah diterima dalam debat. Dewan juri
secara seksama mencatat semua pernyataan yang dibuat dalam suatu babak (sering
disebut flow).
Di Indonesia, format debat ini belum populer dan belum ada kompetisi reguler
yang menggunakannya.
Lincoln-Douglas Debate
Nama gaya debat ini diambil dari debat-debat terkenal yang pernah dilakukan di
Senat Amerika Serikat antara kedua kandidat Lincoln dan Douglas. Setiap debat
gaya ini diikuti oleh dua pedebat yang bertarung satu sama lain.
Argumen dalam debat ini terpusat pada filosofi dan nilai-nilai abstrak,
sehingga sering disebut sebagai debat nilai (value debate). Debat LD kurang
menekankan pada fakta pendukung (evidence) dan lebih mengutamakan logika dan
penjelasan.
Di Indonesia, format debat ini belum populer dan belum ada kompetisi reguler
yang menggunakannya.
C. KEGIATAN LAIN YANG SERUPA
Model United Nations
Model United Nations adalah kegiatan yang banyak dilakukan di tingkat sekolah
dan universitas di dunia. Dalam kegiatan ini, peserta memainkan peran sebagai
delegasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mewakili negara tertentu (dalam
kompetisi internasional, negara yang diwakili umumnya bukan negara asal sebenarnya
dari tim tersebut).
Di Indonesia, kegiatan ini relatif belum berkembang. Namun, Jakarta
International School (JIS), sebuah sekolah internasional di ibukota, memiliki
kegiatan ekstrakurikuler ini.
Moot court
Kompetisi Moot court biasa dilakukan oleh mahasiswa hukum di tingkat
universitas.
D. MODEL PEMBELAJARAB DEBATE
Debat adalah model pembalajaran dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok
kemudian duduk berhadapan, siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh
masing-masing kelompok, sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah
satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu seterusnya
secara bergantian, guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya bila
perlu.
E. MODEL PEMBELAJARAN DEBAT AKTIF
Membuat pembelajaran yang menarik dan sekaligus mengaktifkan siswa banyak
sekali caranya. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan model debat
aktif.
Model debat aktif
Model pembelajaran debat aktif merupakan modifikasi dari model-model diskusi
terbuka yang terjadi di kalangan kampus. Bagaimana membawa suasana debat
tersebut di pada jenjang pendidikan yang lebih rendah. Dimana pelaku debat
adalah siswa SD yang belum banyak menguasai konsep atau argumentasi yang kuat
untuk mempertahankan pendapatnya?
Model pembelajaran debat aktif tersebut dapat dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
Buatlah sebuah pernyataan yang kontroversi terhadap materi yang telah kita
berikan sebelumnya. Misalnya “ayam sebenarnya juga termasuk binatang carnivora
(pemakan daging)”.
Bentuk siswa dalam 2 kelompok besar di dalam kelas.
Satu kelompok adalah sebagai kelompok “PRO” atau pendukung pernyataan tersebut,
sementara satu kelompok yang lain adalah sebagai kelompok KONTRA atau kelompok
yang menolak pernyataan tersebut.
Silahkan tanyakan kepada kelompok PRO, mengapa mereka mendukung pernyataan
tersebut. Alasan-alasan apa yang menguatkan pernyataan tersebut?
Sementara untuk kelompok KONTRA harus mempertahankan pendapatnya tersebut juga
disertai dengan argumentasi-argumentasi yang masuk akal.
Atur lalu-lintas debat agar tidak terjadi “Debat kusir”.
F. LANGKAH LANGKAH MODEL
PEMBELAJARAN DEBAT
1. Guru membagi dua kelompok peserta debat yang satu pro dan yang lainnya
kontra
2. Guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akan didebatkan oleh kedua
kelompok diatas
3. Setelah selesai membaca materi guru mrnunjuk salah satu anggota kelompok pro
untuk berbicara, saat itu ditanggapi atau dibantah oleh kelompok kontra.
Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya
4. Sementara siswa menympaikan gagasannya, guru menulis inti/ide-ide darisetiap
pembicaraan dipapan tulis. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi
5. Guru menambahkan konsep atau ide yang belum terungkap
6. Dari data-data yang ada di papan tersebut, guru mengajak siswa membuat
kesimpulan atau rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai.
G. KELEBIHAN MODEL PEMBELAJARAN DEBAT
1. Memantapkan pemahaman konsep siswa terhadap materi pelajaran yang telah
diberikan.
2. Melatih siswa untuk bersikap kritis terhadap semua teori yang telah
diberikan.
3. Melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat.
H. KEKURANGAN MODEL PEMBELAJARAN
DEBAT
1. Ketika menyampaikan pendapat saling berebut
2. Saling adu argument yang tak kunjung selesai bila guru tidak menengahi
3. Siswa yang pandai berargumen akan slalu aktif tapi yang kurang pandai
berargumen hanya diam dan pasif.
MODEL PEMBELAJARAN ARTIKULASI
Ibarat pakaian yang penuh variasi
lengkap dengan berbagai corak warna dan modelnya, semua itu adalah dengan
tujuan agar si pemakai merasa nyaman, aman, terlindung, juga agar merasa
percaya diri dan dihargai/dihormati orang lain. Orang lain yang memandang cara
berpakaian pun akan merasa senang, simpati, bahkan mungkin tertarik akan
performa dan potongan/model pakaian tersebut. Maka secara lugas dapat dikatakan
bahwa tujuan daripada berpakaian sudah tercapai.
Demikian juga dengan pembelajaran.
Banyak ragam strategi pembelajaran, pendekatan, metode pembelajaran dan juga
model pembelajaran. Tujuan dilaksanakannya berbagai macam strategi
pembelajaran, metode pembelajaran dan model pembelajaran adalah agar
guru/pendidik lebih mudah, lebih efektif dan efisien dalam menerapkan suatu
pembelajaran sehingga apa yang menjadi tujuan pembelajaran akan mudah tercapai
secara maksimal.
Bagi peserta didik akan menimbulkan perasaan senang, termotivasi, tertantang
sehingga pembelajaran pun menjadi lebih bermakna dan PAIKEM (Pembelajaran Aktif
Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan ). Tidak ada lagi pembelajaran yang
monoton dan menjemukan.
Khusus model pembelajaran, ternyata jumlahnya cukup banyak. Hal ini karena
selalu ada inovasi-inovasi baru yang dilakukan oleh kalangan guru/pendidik,
ahli pendidikan dan kaum cerdik cendikiawan baik dari dalam negeri maupun dari
luar negeri.
Efektif atau tidaknya suatu model pembelajaran diterapkan, tidak ditentukan
oleh kecanggihan suatu model pembelajaran saja, karena pada prinsipnya tidak
ada satu model pembelajaran pun yang terbaik. Model pembelajaran yang terbaik
adalah model pembelajaran yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. Dari
sekian model pembelajaran, berikut penulis sampaikan salah satu contoh model
pembelajaran yakni model pembelajaran Artikulasi.
1. Pengertian Model Pembelajaran
Artikulasi
Model pembelajaran Artikulasi merupakan
model yang prosesnya seperti pesan berantai, artinya apa yang telah diberikan
Guru, seorang siswa wajib meneruskan menjelaskannya pada siswa lain (pasangan
kelompoknya). Di sinilah keunikan model pembelajaran ini. Siswa dituntut untuk
bisa berperan sebagai ‘penerima pesan’ sekaligus berperan sebagai ‘penyampai
pesan.’
Model pembelajaran artikulasi merupakan model pembelajaran yang menuntut siswa
aktif dalam pembelajaran dimana siswa dibentuk menjadi kelompok kecil yang
masing-masing siswa dalam kelompok tersebut mempunyai tugas mewawancarai teman
kelompoknya tentang materi yang baru dibahas. Konsep pemahaman sangat
diperlukan dalam mode pembelajaran ini.
2. Langkah-langkah Model Pembelajaran Artikulasi
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa.
3. Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang.
4. Menugaskan salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan materi yang baru
diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan
kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya.
5. Menugaskan siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya
dengan teman pasangannya sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil
wawancaranya.
6. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami
siswa.
7. Kesimpulan/penutup.
3. Kelemahan dan kelebihan Pembelajaran Artikulasi
Kelemahan dan kelebihan dari pembelajaran artikulasi ini antara lain:
A. Kelemahannya:
a. Untuk mata pelajaran tertentu
b. Waktu yang dibutuhkan banyak
c. Materi yang didapat sedikit
d. Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor
e. Lebih sedikit ide yang muncul
f. Jika ada perselisihan tidak ada penengah
B. Kelebihannya:
a. Semua siswa terlibat (mendapat peran)
b. Melatih kesiapan siswa
c. Melatih daya serap pemahaman dari orang lain
d. Cocok untuk tugas sederhana
e. Interaksi lebih mudah
f. Lebih mudah dan cepat membentuknya
g. Meningkatkan partisipasi anak
Model Pembelajaran Role Playing
A. Metode Role Playing
adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan
imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan
dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati.
Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung
kepada apa yang diperankan.
B. Tujuan pembelajaran Role Playing
Menurut Zuhaerini (1983: 56), model ini digunakan apabila pelajaran dimaksudkan
untuk: (a) menerangkan suatu peristiwa yang di dalamnya menyangkut orang
banyak, dan berdasarkan pertimbangan didaktik lebih baik didramatisasikan
daripada diceritakan, karena akan lebih jelas dan dapat dihayati oleh anak; (b)
melatih anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan masalah-masalah
sosial-psikologis; dan (c) melatih anak-anak agar mereka dapat bergaul dan
memberi kemungkinan bagi pemahaman terhadap orang lain beserta masalahnya.
C. langkah-langkah model
pembelajaran role playing
Langkah-langkah model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario
pembelajaran, menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario tersebut,
pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk siswa untuk
melakonkan skenario yang telah dipelajarinya, kelompok siswa membahas peran
yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan
dan refleksi.
D. Pengertian dan ciri-ciri
pembelajaran Role Playing
Bermain peran pada prinsipnya
merupakan pembelajaran untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia
nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian
dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap .
Misalnya: menilai keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan
kemudian memberikan saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran
tersebut. Pembelajaran ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat
dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan
peran
.
Role playing adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan, aturan
dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield, 1986). Dalam role playing
murid dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu
pembelajaran terjadi di dalam kelas, dengan menggunakan bahasa Inggris. Selain
itu, role Playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana
pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan
peran orang lain (Basri Syamsu, 2000).
Dalam role playing murid
diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan
praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab dalam bahasa Inggris) bersama
teman-temannya pada situasi tertentu. Belajar efektif dimulai dari lingkungan
yang berpusat pada diri murid (Departemen Pendidikan Nasional Direktorat
Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2002). Lebih lanjut prinsip
pembelajaran PKn standar kompetensi memahami kebebasan berorganisasi, dan
menghargai keputusan bersama, murid akan lebih berhasil jika mereka diberi
kesempatan memainkan peran dalam bermusyawarah, melakukan pemungutan suara
terbanyak dan bersikap mau menerima kekalahan sehingga dengan melakukan
berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif berpartisipasi, mereka akan lebih
mudah menguasai apa yang mereka pelajari (Boediono, 2001). Jadi, dalam
pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa adanya aktivitas, maka proses
pembelajaran tidak mungkin terjadi
.
Sementara itu, sesuai dengan pengalaman penelitian sejenis yang telah
dilakukan, manfaat yang dapat diambil dari role playing adalah: Pertama, role
playing dapat memberikan semacam hidden practise, dimana murid tanpa sadar
menggunakan ungkapan-ungkapan terhadap materi yang telah dan sedang mereka
pelajari. Kedua, role playing melibatkan jumlah murid yang cukup banyak, cocok
untuk kelas besar. Ketiga, role playing dapat memberikan kepada murid kesenangan
karena role playing pada dasarnya adalah permainan. Dengan bermain murid akan
merasa senang karena bermain adalah dunia siswa. Masuklah ke dunia siswa,
sambil kita antarkan dunia kita (Bobby DePorter, 2000: 12)
E. kelebihan dan kekurangan role playing
Kelebihan Metode Role Playing
Kelebihan metode Role Playing
melibatkan seluruh siswa berpartisipasi, mempunyai kesempatan untuk memajukan
kemampuannya dalam bekerja sama. Siswa juga dapat belajar menggunakan bahasa
dengan baik dan benar. Selain itu, kelebihan metode ini adalah, sebagai
berikut:
1) Siswa bebas mengambil keputusan
dan berekspresi secara utuh.
2) Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi
dan waktu yang berbeda.
3) Guru dapat mengevaluasi pengalaman siswa melalui pengamatan pada waktu
melakukan permainan.
4) Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Disamping
merupakan pengaman yang menyenangkan yang saling untuk dilupakan
5) Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan
penuh antusias
6) Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta
menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi
7) Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah, dan dapat memetik
butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan siswa sendiri
8) Dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan profesional siswa, dan dapat
menumbuhkan / membuka kesempatan bagi lapangan kerja
Kelemahan Metode Role Playing
Hakekatnya sebuah ilmu yang tercipca
oleh manusia tidak ada yang sempurna,semua ilmu ada kelebihan dan
kekurangan.Jika kita melihat metode Role Playing dalam dalam cakupan cara dalam
prooses mengajar dan belajar dalam lingkup pendidikan tentunya selain kelebihan
terdapat kelemahan.
Kelemahan metode role palying antara
lain:
1. Metode bermain peranan memelrukan
waktu yang relatif panjang/banyak
2. Memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun
murid. Dan ini tidak semua guru memilikinya
3. Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerlukan
suatu adegan tertentu
4. Apabila pelaksanaan sosiodrama dan bermain pemeran mengalami kegagalan,
bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan
pengajaran tidak tercapai
5. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini
MODEL PEMBELAJARAN GROUP
INVESTIGATION
Group Investigationn merupakan salah satu bentuk model pembelajaran
kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk
mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui
bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat
mencari melalui internet. Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam
menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini
menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi
maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat
melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa
secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir
pembelajaran.
Dalam metode Group
Investigation terdapat tiga konsep utama, yaitu: penelitian atau enquiri,
pengetahuan atauknowledge, dan dinamika kelompok atau the
dynamic of the learning group, (Udin S. Winaputra, 2001:75). Penelitian di
sini adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan
memecahkan masalah tersebut. Pengetahuan adalah pengalaman belajar yang
diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan dinamika
kelompok menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi
yang melibatkan berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman
melaui proses saling beragumentasi.
Slavin (1995) dalam Siti Maesaroh
(2005:28), mengemukakan hal penting untuk melakukan metode Group
Investigationadalah:
- Membutuhkan Kemampuan Kelompok.
Di dalam mengerjakan setiap tugas,
setiap anggota kelompok harus mendapat kesempatan memberikan kontribusi. Dalam
penyelidikan, siswa dapat mencari informasi dari berbagai informasi dari dalam
maupun di luar kelas.kemudian siswa mengumpulkan informasi yang diberikan dari
setiap anggota untuk mengerjakan lembar kerja.
- Rencana Kooperatif.
Siswa bersama-sama menyelidiki
masalah mereka, sumber mana yang mereka butuhkan, siapa yang melakukan apa, dan
bagaimana mereka akan mempresentasikan proyek mereka di dalam kelas.
- Peran Guru.
Guru menyediakan sumber dan
fasilitator. Guru memutar diantara kelompok-kelompok memperhatikan siswa
mengatur pekerjaan dan membantu siswa mengatur pekerjaannya dan membantu jika
siswa menemukan kesulitan dalam interaksi kelompok.
Para guru yang menggunakan metode GI
umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 sampai 6
siswa dengan karakteristik yang heterogen, (Trianto, 2007:59). Pembagian
kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat
terhadap suatu topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk
diselidiki, melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang telah
dipilih, kemudian menyiapkan dan mempresentasikan laporannya di depan kelas.
- Langkah-Langkah dalam Menggunakan Model Group
Investigation
Langkah-langkah penerapan metode
Group Investigation, (Kiranawati (2007), dapat dikemukakan sebagai berikut:
- Seleksi topik
Para siswa memilih berbagai subtopik
dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dulu oleh
guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang
berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6
orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun
kemampuan akademik.
- Merencanakan kerjasama
Para siswa bersama guru merencanakan
berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan
berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah 1 diatas.
- Implementasi
Para siswa melaksanakan rencana yang
telah dirumuskan pada langkah b). pembelajaran harus melibatkan berbagai
aktivitas dan keterampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa
untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar
sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan
memberikan bantuan jika diperlukan.
- Analisis dan sintesis
Para siswa menganalisis dan
mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah 3 dan merencanakan
agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.
- Penyajian hasil akhir
Semua kelompok menyajikan suatu
presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua
siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas
mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.
- Evaluasi
Guru beserta siswa melakukan
evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai
suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau
kelompok, atau keduanya.
- Tahapan-tahapan Dalam Group Investigation
Enam Tahapan di dalam Pembelajaran
Kooperatif dengan Metode Group Investigationdapat dilihat pada table berikut,
(Slavin, 1995) dalam Siti Maesaroh (2005:29-30):
|
Tahap I
Mengidentifikasi topik dan membagi
siswa ke dalam kelompok.
|
Guru memberikan kesempatan bagi
siswa untuk memberi kontribusi apa yang akan mereka selidiki. Kelompok
dibentuk berdasarkan heterogenitas.
|
|
Tahap II
Merencanakan tugas.
|
Kelompok akan membagi sub topik
kepada seluruh anggota. Kemudian membuat perencanaan dari masalah yang akan
diteliti, bagaimana proses dan sumber apa yang akan dipakai.
|
|
Tahap III
Membuat penyelidikan.
|
Siswa mengumpulkan, menganalisis
dan mengevaluasi informasi, membuat kesimpulan dan mengaplikasikan bagian
mereka ke dalam pengetahuan baru dalam mencapai solusi masalah kelompok.
|
|
Tahap IV
Mempersiapkan tugas akhir.
|
Setiap kelompok mempersiapkan
tugas akhir yang akan dipresentasikan di depan kelas.
|
|
Tahap V
Mempresentasikan tugas akhir.
|
Siswa mempresentasikan hasil
kerjanya. Kelompok lain tetap mengikuti.
|
|
Tahap VI
·
|
Soal ulangan mencakup seluruh
topik yang telah diselidiki dan dipresentasikan.
|
- Ciri-Ciri Model Group Investigation
Model pembelajaran Group
Investigation merupakan model yang sulit diterapkan dalam pembelajaran
kooperatif. Model pembelajaran ini mempunyai cirri-ciri, yakni sebagai berikut:
- Pembelajaran kooperatif dengan metode Group
Investigationberpusat pada siswa, guru hanya bertindak sebagai
fasilitator atau konsultan sehingga siswa berperan aktif dalam
pembelajaran.
- pembelajaran yang dilakukan membuat suasana saling
bekerjasama dan berinteraksi antar siswa dalam kelompok tanpa memandang
latar belakang, setiap siswa dalam kelompok memadukan berbagai ide dan
pendapat, saling berdiskusi dan beragumentasi dalam memahami suatu pokok
bahasan serta memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi kelompok.
- pembelajaran kooperatif dengan metode Group
Investigationsiswa dilatih untuk memiliki kemampuan yang baik dalam
berkomunikasi, semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik
dari berbagai topik yang telah dipelajari, semua siswa dalam kelas saling
terlihat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut.
- adanya motivasi yang mendorong siswa agar aktif dalam
proses belajar mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.
- pembelajaran kooperatif dengan metode Group
Investigationsuasana belajar terasa lebih efektif, kerjasama kelompok
dalam pembelajaran ini dapat membangkitkan semangat siswa untuk memiliki
keberanian dalam mengemukakan pendapat dan berbagi informasi dengan teman
lainnya dalam membahas materi pembelajaran.
- Kelebihan dan Kelemahan Model Group Investigation
Di dalam pemanfaatannya atau
penggunaannya model pembelajaran group investigation juga mempunyai kelemahan
dan kelebihan, yakni sebagai berikut:
Kelebihan pembelajaran model group
investigation:
- Pembelajaran dengan kooperatif model Group
Investigation memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar
siswa.
- Penerapan metode pembelajaran kooperatif model Group
Investigation mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan
motivasi belajar siswa.
- Pembelajaran yang dilakukan membuat suasana saling
bekerjasama dan berinteraksi antar siswa dalam kelompok tanpa memandang
latar belakang.
- Model pembelajaran group investigation
melatih siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam
berkomunikasi dan mengemukakan pendapatnya.
- Memotivasi dan mendorong siswa agar aktif
dalam proses belajar mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir
pembelajaran.
Kelemahan pembelajaran dengan model
group investigation:
Model pembelajaran group
investigation merupakan model pembelajaran yang kompleks dan sulit untuk
dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Kemudian pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran group investigation juga membutuhkan waktu yang
lama.
Model Pembelajaran Bertukar Pasangan
1. Pengertian
Model pembelajaran Bertukar Pasangan termasuk pembelajaran dengan tingkat
mobilitas cukup tinggi, di mana siswa akan bertukar pasangan dengan pasangan
lainnya dan nantinya harus kembali ke pasangan semula/pertamanya.
Dan model pembelajaran bertukar pasangan ini merupakan salah satu pembelajaran
kooperatif yaitu pembelajaran yang dikembangkan dari teori kontruktivisme
karena mengembangkan struktur kognitif untuk membangun pengetahuan sendiri
melalui berpikir rasional (Rustaman et al., 2003: 206).
Jadi ,model pembelajaran cooperative
learning adalah salah satu model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai
subjek pembelajaran (student oriented). Dengan suasana kelas yang demokratis,
yang saling membelajarkan memberi kesempatan peluang lebih besar dalam
memberdayakan potensi siswa secara maksimal.dan menekankan pada sikap atau
perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur
kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih
belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat
kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa
anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami
materi pelajaran., Belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam
kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Model pembelajaran cooperative learning akan dapat memberikan nunasa baru di
dalam pelaksanaan pembelajaran oleh semua bidang
studi atau mata pelajaran yang diampu guru. Karena pembelajaran cooperative
learning dan beberapa hasil penelitian baik pakar pendidikan dalam maupun luar
negeri telah memberikan dampak luas terhadap keberhasilan dalam proses
pembelajaran. Dampak tersebut tidak saja kepada guru akan tetapi juga pada
siswa, dan interaksi edukatif muncul dan terlihat peran dan fungsi dari guru
maupun siswa.
Peran guru dalam pembelajaran cooperative learning sebagai fasilitator,
moderator, organisator dan mediator terlihat jelas. Kondisi ini peran dan
fungsi siswa terlihat, keterlibatan semua siswa akan dapat memberikan suasana
aktif dan pembelajaran terkesan de-mokratis, dan masing-masing siswa punya
peran dan akan memberikan pengalaman belajarnya kepada siswa lain.
2. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
(Dalam model Pembelajaran Bertukar Pasangan)
Sebagai seorang guru dalam memberikan pelajaran kepada siswa tentu dia akan
memilih manakah model pembelajaran yang tepat diberikan untuk materi pelajaran
tertentu. Dalam hal ini Muslim Ibrahim (dalam Depdiknas, 2005 : 46)
mengemukakan ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi
belajarnya.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan
rendah.
c. Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin
yang berbeda.
d. Penghargaan lebih berorientasi pada individu.
3. Langkah-langkah pembelajarannya
1. Siswa dibentuk berkelompok secara berpasangan/2 orang (guru bisa menunjuk
pasangannya atau siswa memilih sendiri pasangannya).
2. Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya.
3. Setelah selesai setiap pasangan bergabung dengan satu pasangan dari kempok
yang lain.
4. Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan, kemudian pasangan yang baru ini
saling menanyakan dan mencari kepastian jawaban mereka.
5. Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada
pasangan semula.
6. Kesimpulan.
7. Penutup.
4. Keunggulan dan Kelemahannya
Keunggulan :
1. Setiap siswa termotivasi untuk menguasai materi.
2. Menghilangkan kesenjangan antara yang pintar dengan tidak pintar.
3. Mendorong siswa tampil prima karena membawa nama baik kelompok lamanya
4. Tercipta suasana gembira dalam belajar. Dengan demikian meskipun saat
pelajaran menempati jam terakhir pun,siswa tetap antusias belajar.
Kelemahan :
1. Ada siswa yang takut diintimidasi bila memberi nilai jelek kepada anggotanya
(bila kenyataannya siswa lain kurang kurang mampu menguasai materi)
Solusinya , lembar penilaian tidak diberi nama si penilai.
2. Ada siswa yang mengambil jalan pintas ,dengan meminta tolong pada temannya
untuk mencarikan jawabnya.
Solusinya mengurangi poin pada siswa yang membantu dan dibantu.
5. Contoh model pembelajarannya
Pada Kompetensi Dasar (KD) Menaati Peraturan Perundang-undangan Nasional.
misalnya siswa dibagi menjadi beberapa kelompok masing masing mempunyai tugas
berbeda. Misalnya mempelajari sikap kritis terhadap peraturan perundangan yang
tidak mengakomodasi aspirasi rakyat , sikap patuh terhadap peraturan
perundangan nasional.
Kemudian masing-masing anggota kelompok membentuk kelompok baru,sehingga
kelompok baru tersebut tersebut berisi siswa dari grup sikap kritis dan sikap
patuh dan seterusnya.
Dalam kelompok baru tersebut setiap siswa menerangkan apa yang telah
dipelajari.Ada penilaian antar siswa dalam kelompok baru tersebut. Meliputi
keaktivan, dalam diskusi serta kemampuan menerangkan dan kemampuan menjawab
pertanyaan.
KESIMPULAN
Dari uraian-uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa :
Model pembelajaran Bertukar Pasangan termasuk pembelajaran dengan tingkat
mobilitas cukup tinggi, di mana siswa akan bertukar pasangan dengan pasangan
lainnya dan nantinya harus kembali ke pasangan semula/pertamanya.
Dan model pembelajaran bertukar pasangan ini merupakan salah satu pembelajaran
kooperatif yaitu pembelajaran yang dikembangkan dari teori kontruktivisme
karena mengembangkan struktur kognitif untuk membangun pengetahuan sendiri
melalui berpikir rasional (Rustaman et al., 2003: 206).
Dan ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif (Dalam model Pembelajaran Bertukar
Pasangan) Muslim Ibrahim (dalam Depdiknas, 2005 : 46) mengemukakan ciri-ciri
pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi
belajarnya.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan
rendah.
c. Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin
yang berbeda.
d. Penghargaan lebih berorientasi pada individu.
Langkah-langkah pembelajarannya :
1. Siswa dibentuk berkelompok secara berpasangan/2 orang (guru bisa menunjuk
pasangannya atau siswa memilih sendiri pasangannya).
2. Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya.
3. Setelah selesai setiap pasangan bergabung dengan satu pasangan dari kempok
yang lain.
4. Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan, kemudian pasangan yang baru ini
saling menanyakan dan mencari kepastian jawaban mereka.
5. Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada
pasangan semula.
6. Kesimpulan.
7. Penutup.
Keunggulan :
1. Setiap siswa termotivasi untuk
menguasai materi.
2. Menghilangkan kesenjangan antara yang pintar dengan tidak pintar.
3. Mendorong siswa tampil prima karena membawa nama baik kelompok lamanya
4. Tercipta suasana gembira dalam belajar. Dengan demikian meskipun saat
pelajaran menempati jam terakhir pun,siswa tetap antusias belajar.
Kelemahan :
1. Ada siswa yang takut diintimidasi bila memberi nilai jelek kepada anggotanya
(bila kenyataannya siswa lain kurang kurang mampu menguasai materi)
Solusinya , lembar penilaian tidak diberi nama si penilai.
2. Ada siswa yang mengambil jalan pintas ,dengan meminta tolong pada temannya
untuk mencarikan jawabnya.
Solusinya mengurangi poin pada siswa yang membantu dan dibantu.
MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING
Pengertian model pembelajaran
snowball throwing
Model Snowball Throwing merupakan salah satu model pembelajaran yang
dikembangkan berdasarkan pendekatan kontekstual (CTL). Snowball Throwing yang
menurut asal katanya berarti ‘bola salju bergulir’ dapat diartikan sebagai
model pembelajaran dengan menggunakan bola pertanyaan dari kertas yang digulung
bulat berbentuk bola kemudian dilemparkan secara bergiliran di antara sesama
anggota kelompok. Dilihat dari pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran
siswa Pkn, model Snowball Throwing ini memadukan pendekatan komunikatif,
integratif, dan keterampilan proses.
Kegiatan melempar bola pertanyan ini
akan membuat kelompok menjadi dinamis, karena kegiatan siswa tidak hanya
berpikir, menulis, bartanya, atau berbicara. Akan tetapi mereka juga melakukan
aktivitas fisik yaitu menggulung kertas dan melemparkannya pada siswa lain.
Dengan demikian, tiap anggota kelompok akan mempersiapkan diri karena pada
gilirannya mereka harus menjawab pertanyaan dari temannya yang terdapat dalam
bola kertas.
Dalam metode (Snowball Throwing), guru berusaha memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mengembangkan keterampilan menyimpulkan isi berita atau informasi
yang mereka peroleh dalam konteks nyata dan situasi yang kompleks. Guru juga
memberikan pengalaman kepada siswa melalui pembelajaran terpadu dengan
menggunakan proses yang saling berkaitan dalam situasi dan konteks komunikasi
alamiah baik sosial, sains, hitungan dan lingkungan pergaulan.
Dibentuk kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru
kemudian masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola
(kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain yang masing-masing siswa
menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh.
Langkah-langkah:
1. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
2. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok
untuk memberikan penjelasan tentang materi.
3. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian
menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya.
4. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kerja untuk menuliskan
pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua
kelompok.
5. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke
siswa yang lain selama kurang lebih 5 menit.
6. Setelah siswa mendapat satu bola / satu pertanyaan diberikan kesempatan
kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk
bola tersebut secara bergantian.
7. Guru memberikan kesimpulan.
8. Evaluasi.
9. Penutup.
Kesimpulan:
Penggunaan pendekatan pembelajaran snowball throwing dalam meningkatkan
keaktifan belajar siswa ini dirasakan cukup efektif karena mampu menumbuh
kembangkan potensi intelektual, sosial, dan emosional yang ada dalam diri
siswa. Di sini siswa akan terlatih untuk mengemukakan gagasan dan perasaan
secara cerdas dan kreatif, serta mampu menemukan dan menggunakan kemampuan
analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya untuk menghadapi berbagai
persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam model pembelajaran snowball throwing ini kurang tepat digunakan untuk
mata pelajaran atau bidang
study ilmu pengetahhuan social. Karena ilmu pengetahuan social adalah ilmu yang
cakupan materi pembelajarannya sangat luas, membutuhkan pengembangan yang
mendalam karena materinya selalu berkembang. Sedangkan di sini pembelajaran
hanya berkutat pada pengetahuan siswa saja. Jadi, yang lebih tepat menggunakan
model pembelajaran snowball throwing ini adalah jenis-jenis mata pelajaran ilmu
pengetahuan alam atau eksak yang cenderung menggunakan rumus yang relatif
tetap. Guru akan lebih mudah mengarahkan jalannya pembelajaran di kelas.
Kelebihan:
1. Melatih kesiapan siswa.
2. Saling memberikan pengetahuan.
Kekurangan:
1. Penngetahuan tidak luas hanya berkutat pada pengetahuan sekitar siswa.
2. Tidak efektif.
Pengertian Model Pembelajaran
Student Facilitator and Explaining
Model Pembelajaran Student
Facilitator and Explaining merupakan model pembelajaran dimana siswa/peserta
didik belajar mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta didik lainnya.
Model pembelajaran ini efektif untuk melatih siswa berbicara untuk menyampaikan
ide/gagasan atau pendapatnya sendiri.
Model pembelajaran ini akan relevan apabila siswa secara aktif ikut serta dalam
merancang materi pembelajaran yang akan dipresentasikan. Untuk itu pembelajaran
pada apresiasi drama akan lebih sesuai dikarenakan siswa secara aktif ikut
serta baik itu dalam kegiatan apresiasi maupun bisa berupa ekspresi sastra
sebagai pelakunya.
Langkah-langkah pembelajarannya :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai/KD.
2. Guru mendemonstrasikan/menyajikan garis-garis besar materi pembelajaran.
3. Memberikan kesempatan siswa untuk menjelaskan kepada siswa lainnya, misalnya
melalui bagan/peta konsep. Hal ini bisa dilakukan secara bergiliran
4. Guru menyimpulkan ide/pendapat dari siswa.
5. Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu.
6. Penutup
Kelebihan Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining
siswa diajak untuk dapat menerangkan kepada siswa lain, dapat mengeluarkan
ide-ide yang ada dipikirannya sehingga lebih dapat memahami materi tersebut.
Kekurangan Model Pembelajaran
Student Facilitator and Explaining:
1. Adanya pendapat yang sama sehingga hanya sebagian saja yang tampil.
2. Banyak siswa yang kurang aktif
Kesimpulan
Dalam Model pembelajaran ini akan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkap
apabila siswa secara aktif ikut serta dalam merancang materi pembelajaran yang
akan dipresentasikan maka siswa akan lebih bisa mengerti dan mampu memahaminya
untuk mengungkapkan ide, selain itu juga dapat mengajak peserta didik mandiri
dalam mengembangkan potensi mengungkapkan gagasan berpendapat.
MODEL PEMBELAJARAN COURSE REVIEW
HORAY
- Pengertian
Model
pembelajaran Course Review Horay merupakan model pembelajaran yang dapat menciptakan
suasana kelas menjadi meriah dan menyenangkan karena setiap siswa yang dapat
menjawab benar maka siswa tersebut diwajibkan berteriak’hore!’ atau yel-yel
lainnya yang disukai.
Jadi,
model pembelajaran course review horay ini merupakan suatu model pembelajaran
yang dapat digunakan guru agar dapat tercipta suasana pembelajaran di dalam
kelas yang lebih menyenangkan. Sehingga para siswa merasa lebih tertarik.
Karena dalam model pembelajaran course review horay ini, apabila siswa dapat
menjawab pertanyaan secara benar maka siswa tersebut diwajibkan meneriakan kata
“hore” ataupun yel-yel yang disukai dan telah disepakati oleh kelompok maupun
individu siswa itu sendiri.
Model pembelajaran course review horay juga merupakan suatu metode pembelajaran
dengan pengujian pemahaman siswa menggunakan soal dimana jawaban soal
dituliskan pada kartu atau kotak yang telah dilengkapi nomor dan untuk siswa
atau kelompok yang mendapatkan jawaban atau tanda dari jawaban yang benar
terlebih dahulu harus langsung berteriak “horay” atau menyanyikan yel-yel
kelompoknya.
Jadi,
dalam pelaksanaan model pembelajaran course review horay ini pengujian
pemahaman siswa dengan menggunakan kotak yang berisi nomor untuk menuliskan
jawabannya. Dan siswa yang lebih dulu mendapatkan tanda atau jawaban yang benar
harus langsung segera menyoraki kata-kata “horay” atau menyoraki yel-yelnya.
Agar
pemahaman konsep materi yang akan dibahas dapat dikaji secara terarah maka
seiring dengan perkembangan dunia pendidikan pembelajaran Corse Review Horay
menjadi salah satu alternative sebagai pembelajaran yang mengarah pada
pemahaman konsep. Pembelajaran Course Review Horay, merupakan salah satu
pembelajaran kooperatif yaitu kegiatan belajar mengajar dengan cara
pengelompokkan siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil.
Pembelajaran
Course Review Horay yang dilaksanakan merupakan suatu pembelajaran dalam rangka
pengujian terhadap pemahaman konsep siswa menggunakan kotak yang diisi dengan
soal dan diberi nomor untuk menuliskan jawabannya. Siswa yang paling terdahulu
mendapatkan tanda benar langsung berteriak horay atau yel-yel lainnya. Melalui
Pembelajaran Course Review Horay diharapkan dapat melatih siswa dalam
menyelesaikan masalah dengan pembentukkan kelompok kecil.
Langkah-Langkah
Model Pembelajaran Course Review Horay
1.
Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2.
Guru menyajikan atau mendemonstrasikan materi sesuai topik dengan tanya jawab
3.
Guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok.
4.
Untuk menguji pemahaman siswa disuruh membuat kartu atau kotak sesuai dengan
kebutuhan dan diisi dengan nomor yang ditentukan guru.
5.
Guru membaca soal secara acak dan siswa menuliskan jawabannya didalam kartu
atau kotak yang nomornya disebutkan guru.
6.
Setelah pembacaan soal dan jawaban siswa telah ditulis didalam kartu atau
kotak, guru dan siswa mendiskusikan soal yang telah diberikan tadi.
7.
Bagi yang benar,siswa memberi tanda check list ( √ ) dan langsung berteriak
horay atau menyanyikan yel-yelnya.
8.
Nilai siswa dihitung dari jawaban yang benar dan yang banyak berteriak horay .
9.
Guru memberikan rewardv pada yang memperoleh nilai tinggi atau yang banyak
memperoleh horay.
10.
Penutup
C.
Kelebihan Model Pembelajaran Corse Review Horay
a.
Pembelajarannya menarik dan mendorong siswa untuk dapat terjun kedalamnya.
b. Pembelajarannya tidak monoton karena diselingi sedikit hiburan sehingga
suasana tidak menegangkan.
c. Siswa lebih semangat belajar karena suasana pembelajaran berlangsung
menyenangkan
d. Melatih kerjasama
D.
Kelemahan Model Pembelajaran Course Review Horay
a.
Siswa aktif dan pasif nilainya disamakan
b. Adanya peluang untuk curang
- Model Pembelajaran Talking Stick
- Sejarah Talking Stick
Talking
Stick (tongkat berbicara) adalah metode yang pada mulanya digunakan oleh
penduduk asli Amerika untuk mengajak semua orang berbicara atau menyampaikan
pendapat dalam suatu forum (pertemuan antarsuku), sebagaimana dikemukakan Carol
Locust berikut ini :The talking stick has been
used for centuries by many Indian tribes as a means of just and impartial
hearing. The talking stick was commonly used in council circles to decide who
had the right to speak. When matters of great concern would come before the
council, the leading elder would hold the talking stick, and begin the
discussion. When he would finish what he had to say, he would hold out the
talking stick, and whoever would speak after him would take it. In this manner,
the stick would be passed from one individual to another until all who wanted
to speak had done so. The stick was then passed back to the elder for safe
keeping.
Artinya:
Tongkat
berbicara telah digunakan selama berabad-abad oleh suku–suku Indian sebagai
alat menyimak secara adil dan tidak memihak. Tongkat berbicara sering digunakan
kalangan dewan untuk memutuskan siapa yang mempunyai hak berbicara. Pada saat
pimpinan rapat mulai berdiskusi dan membahas masalah, ia harus memegang tongkat
berbicara. Tongkat akan pindah ke orang lain apabila ia ingin berbicara atau
menanggapinya. Dengan cara ini tongkat berbicara akan berpindah dari satu orang
ke orang lain jika orang tersebut ingin mengemukakan pendapatnya. Apabila semua
mendapatkan giliran berbicara, tongkat itu lalu dikembalikan lagi ke
ketua/pimpinan rapat.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa talking stick dipakai sebagai
tanda seseorang mempunyai hak suara (berbicara) yang diberikan secara
bergiliran/bergantian.
B.
Talking Stick Sebagai Model Pembelajaran
Talking
stick termasuk salah satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini
dilakukan dengan bantuan tongkat, siapa yang memegang tongkat wajib menjawab
pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya. Pembelajaran
Talking Stick sangat cocok diterapkan bagi siswa SD, SMP, dan SMA/SMK. Selain
untuk melatih berbicara, pembelajaran ini akan menciptakan suasana yang
menyenangkan dan membuat siswa aktif. Langkah-langkah penerapannya dapat
dilakukan sebagai berikut.
1.
Guru membentuk kelompok yang terdiri atas 5 orang.
2. Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm.
3. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan
kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran.
4. Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
5. Setelah kelompok selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya,
guru mempersilahkan anggota kelompok untuk menutup isi bacaan.
6. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu anggota kelompok,
setelah itu guru memberi pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat
tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa
mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
7. Siswa lain boleh membantu menjawab pertanyaan jika anggota kelompoknya tidak
bisa menjawab pertanyaan.
8. Guru memberikan kesimpulan.
9. Guru melakukan evaluasi/penilaian, baik secara kelompok maupun individu.
10. Guru menutup pembelajaran.
C.
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan:
1. Menguji kesiapan siswa.
2. Melatih membaca dan memahami dengan cepat.
3. Agar lebih giat belajar (belajar dahulu).
Kekurangan:
Membuat siswa gelisah, gundah gulana dan lain2 (becanda).
D.
Kesimpulan
1.
talking stick dipakai sebagai tanda seseorang mempunyai hak suara (berbicara)
yang diberikan secara bergiliran/bergantian.
2. Model pembelajaran ini membuat anak didik ceria, senang, dan melatih mental
anak didik untuk siap pada kondisi dan siatuasi apapun
- METODE DEMONSTRASI DAN EKSPERIMEN
- Yang di maksud dengan Metode Demonstrasi dan Eksperimen
ialah suatu upaya atau praktek dengan menggunaka peragaan yang di tujukan
pada siswa yang tujuannya ialah agar supaya semua sisiwa lebih mudah dalam
memahami dan mempraktekan dari apa yang telah di perokehnya dan dapat
mengatasi sutu permasalah apabila terdapat perbedaan .
Metode
Demonstrasi
1.
Pengertian Metode Demonstrasi
Yang
di maksud dengan Metode Demonstrasi ialah metode mengajar dengan menggunakan
peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana
berjalannya suatu proses pembentukan tertentu pada siswa.
Untuk
memperjelas pengertian tersebut dalam prakteknya dapat di lakukan oleh guru
atau anak didik itu sendiri. Metode Demonstran cukup baik apabila di gunakan
dalam penyampaian bahan pelajaran fiqih, misalnya bagaiamana cara berwudu,
shalat, memandikan orang mati, tawaf pada waktu haji,dan yang lainnya.
2.
prinsip-prinsip metode demonstrasi sebagai berikut:
a. Menciptakan suasana/hubungan baik dengan siswa sehingga
ada keinginan dan kemauan dari siswa untuk menyaksikan apa yang
didemonstrasikan;
b. Mengusahakan agar demonstrasi itu dapat jelas bagi siswa yang sebelumnya
tidak memahami, mengingat siswa belum tentu dapat memahami apa yang dimaksud
dalam demonstrasi karena keterbatasan daya ingat;
c. Memikirkan dengan cermat sebelum mendemonstrasikan suatu pokok bahasan/topik
tertentu tentang adanya kesulitan yang akan ditemui siswa sambil memikirkan dan
mencari cara untuk mengatasinya.
Aspek penting dalam metode demonstrasi:
a. Demonstrasi akan menjadi metode yang tidak wajar bila alat yang digunakan
untuk mendemonstrasikan tidak dapat
diamati dengan seksama oleh siswa;
b. Demonstrasi menjadi kurang efektif bila tidak diikuti oleh aktivitas di mana
siswa sendiri dapat ikut memperhatikan dan menjadikan aktivitas mereka sebagai
pengalaman yang berharga;
c. Tidak semua hal yang didemonstrasikan di dalam kelas, misal alat terlalu
besar;
d. Hendaknya dilakukan dalam hal-hal yang bersifat praktis;
e. Sebagai pendahuluan, berilah pengertian dan landasan teori dari apa yang
akan didemonstrasikan;
f. Persiapan dan perencanaan yang matang
g. Metode belajar sebagai tindakan dan langkah konkrit tidak dapatlepas dari
filosofi yang mendasarinya. Dasar filosofi ini bersifat lebih abstrak yang
melihat totalitas manusia sebagai pelaksana pendidikan baiksebagai pendidik
maupun peserta didik. Sebagai pendidik, manusia mempunyai tanggung jawab untuk
mentransfer dan mengembangkan ilmu pengetahuan, sikap, nilai serta keterampilan
pada peserta didik. Sebagai peserta didik, manusia dilihat sebagai makhluk
Tuhan yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sumber dayanya, baik aspek
penalarannya, aspek sikap hatinya maupun aspek keterampilan perilakunya.
Sebagai khalifah/wakil Allah di muka bumi, manusia harus mencerminkan
sifat-sifat Ilahiyah dalam kehidupan dunia di muka bumi ini. Untuk dapat
memerankannya manusia harus mengembangkan
potensinya baik dari segi intelektualnya, moralnya maupun profesionalnya.
Pengembangan ini tidak lain melalui proses pendidikan
3.
Adapun aspek yang penting dalam menggunakan Metode Demonstrasi adalah:
a.
Demonstrasi akan menjadi metode yang tidak wajar apabila alat yang di
Demonstrasikan tidak bisa di amati dengan seksama oleh siswa. Misalnya alatnya
terlalu kecil atau penjelasannya tidak jelas.
b. Demonstrasi menjadi kurang efektif bila tidak di ikuti oleh aktivitas di
mana siswa sendiri dapat ikut memperhatikan dan menjadi aktivitas mereka
sebagai pengalaman yang berharga.
c. Tidak semua hal dapat di Demonstrasikan di kelas karna sebab alat-alat yang
terlalu besar atau yang berada di tempat lain yang tempatnya jauh dari kelas.
d. Hendaknya dilakukan dalam hal-hal yang bersifat praktis
e. Sebagai pendahuluan, berilah pengertian dan landasan teori dari apa yang
akan di Demonstrasikan.
Dan
adapun sebaiknya dalam Mendemonstrasikan pelajaran tersebut guru harus terlebih
dulu Mendemonstrasikan dengan sebaik-baiknya, baru di ikuti oleh murid-muridnya
yang sesuai dengan petunjuk.
4.
Adapun dalam metode demonstran ini memiliki kelebihan dan ada juga
kekurangannya sebagaimana yang akan di paparkan di bawah ini.
Kelebihan
metode demonstran adalah:
•
Perhatian anak didik dapat di pusatkan, dan titik berat yang di anggap penting
oleh guru dapat di amati
• Perhatian anak didik akan lebih terpusat pada apa yang di Demonstrasikan,
jadi proses anak didik akan lebih terarah dan akan mengurangi perhatian anak
didik kepada masalah lain
• Dapat merangsang siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti proses belajar
• Dapat menambah pengalaman anak didik
• Bisa membantu siswa ingat lebih lama tentang materi yang di sampaikan
• Dapat mengurangi kesalah pahaman karna pengajaran lebih jelas dan kongkrit
• Dapat menjawab semua masalah yang timbul di dalam pikiran setiap siswa karna
ikut serta berperan secara langsung.
Setelah
melihat beberapa keuntungan dari metode demonstransi tersebut, maka dalam bidang
setudi agama, banyak hal-hal yang dapat di demonstrasikan terutama dalam bidang
ibadat, seperti pelaksanaan shalat, zakat dan yang lainnya.
Apabila teori menjalankan ibadah yang betul dan baik telah di miliki oleh anak
didik, maka guru harus mencoba mendemonstrasikan di depan para murit. Dan
apabila anak didik sedang mendemonstrasikan ibadah, guru harus mengamati
langkah dari langkah dari setiap gera-gerik murid tersebut,
sehingga apabila ada kesalahan atau kekurangannya guru berkewajiban
memperbaikinya. Tindakan mengamati segi-segi yang kurang baik lalu
memperbaikinya akan memberikan kesan yang dalam pada diri anak didik, karna
guru telah memberi pengalaman kepada anak didik baik bagi anak didik yang
menjalankan Demonstrasi ataupun bagi yang menyaksikannya.
Dari
segi kelemahan atau metode demonstran adalah:
•
Memerlukan waktu yang cukup banyak
• Apabila terjadi kekurangan media, metode demonstrasi menjadi kurang efesien
• Memerlukan biaya yang cukup mahal, terutama untuk membeli bahan-bahannya
• Memerlukan tenaga yang tidak sedikit
• Apabila siswa tidak aktif maka metode demonstran menjadi tidak efektif.
5.
Adapun langkah-langkah dalam penerapan metode demonstrasi adalah:
a.
Perencanaan
Dalam perencanaan hal-hal yang dilakukan ialah ;
a. Merumuskan tujuan yang baik dari sudut kecakapan atau kegiatan yang di
harapkan dapat tercapai setelah metode demontrasi berakhir
b. Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan di
laksanakan
c. Memperhitungkan waktu yang di butuhkan
d. Selama demonstrasi berlangsung guru haru intropeksi diri apakah:
• Keterangan-keterangan dapat di dengar dengan jelas oleh siswa
• Apakah semua media yang di gunaka telah di tempatkan pada posisi yang baik,
hingga semua siswa dapat melihat semuanya dengan jelas
• Siswa di sarankan membuat catatan yang dianggap perlu
e. Menetapkan rencana penilaian terhadap kemampuan anak didik
b.
Pelaksanaannya:
Hal-hal yang mesti di lakukan adalah:
1. Memeriksa hal-hal tersebut di atas untuk kesekian kalinya
2. Melakukan demonstrasi dengan menarik perhatian siswa
3. Mengingat pokok-pokok materi yang akan di demonstrasikan agar mencapai
sasaran
4. Memperhatikan kedaan siswa, apakah semuanya mengikuti demonstrasi dengan
baik
5. Memberikan kesempatan pada siswa untuk aktif
6. Menghindari ketegangan
6.
Evaluasi:
Dalam
kegiatan evaluasi ini dapat berupa pemberian tugas, seperti membuat
laporan,menjawab pertanyaan, mengadakan latihan lebih lanjut, baik di sekolah
ataupun di rumah.
7.
Hal-hal yang perlu di perhatikan dalam penggunaan metode demonstrasi tersebut
adalah:
• Rumuskan secara spesific yang dapat di capai oleh siswa.
• Susun langkah-langkah yag akan dilakukan dengan demontrasi secara teratur
sesuai dengan skenario yang telah di rencanakan.
• Menyipkan peralatan yang di butuhkan sebelum demonstrasi dimulai.
• Usahakan dalam melakukan demonstrasi tersebut sesuai dengan kenyataan
sebenarnya.
B.
Metode Eksperimen
a.
Pengertian Metode Eksperimen
Metode
Eksperimen adalah Metode atau cara di mana guru dan murit bersama-sama
mengerjakan sesuatu latihan atau percobaan untuk mengetahui pengaruh atau
akibat dari sesuatu aksi.
Sedangkan menurut Ramayulis, dalam bukunya “Metodologi pendidikan agama Islam”
mendefinisikan bahwa Metode Eksperimen ialah suatu metode mengajar yang di
lakukan murid untuk melakuka percobaan-percobaan pada mata pelajaran tertentu.
Sedangkan menurut Zakiyah Daradjat tidak memberikan pengertian jelas, ia hanya
mengatakan bahwa Metode Eksperimen adalah metode percobaan yang biasanya di
lakuka dalam mata pelajaran tertentu.
Sedangkan menurut Departeman Agama memberi definisi bahwa Metode Eksperimen
adalah peraktek pengajaran yan melibatkan anak didik pada pekerjaan akademis,
latihan dan pemecahan masalah atau topik seperti: shalat, puasa, haji,
pembangunan masarakat dan lain-lainnya.
b.
Metode Eksperimen dalam pendidikan Agama Islam
Hal
yang menarik tentang metode ini dalam pendidikan agama Islam ialah bahwa metode
ini ada kolerasinya dengan pendidikan agama Islam terutama bidang
studi fiqih.
Kongkritnya adalah Ketika ingin membuktikan apakah segenangan air termasuk air
suci atau air najis atau air yang suci tidak mensucikan, maka hal ini harus di
buktikan secara langsung dan di adakan penelitian secara ilmiah, maka metode
Eksperiman dapat membuktikannya dengan tepat.
c.
Target metode Eksperimen
Adapun
target Metode Eksperimen adalah
1) Murit dapat membuktikan kebenaran riil dari teori-teori hukum yang berlaku
2) Diharapkan dengan metode ini murit dapat kepuasan dari hasil belajarnya
d.
Langkah-langkah metode eksperimen
• Menerangkan Metode Eksperimen
• Membicarakan terlebih dahulu permasalahan yang seknifikasi untuk di angkat
• Sebelum guru menetapkan alat yang di perlukan langkah-langkah apa saja yang
harus di variebel-variebel apa yang harus di kontrol
• Setelah eksperimen di lakukan guru harus mengumpulkan laporan, memproses
kegiatan, dan mengadakan tes untuk menguji pemahaman murit
e.
Kelebihan dan kekurangan Metode Eksperimen ialah:
1) Kelebihannya
•
Menambah keaktifan untuk berbuat dan memecahkan sendiri sebuah permasalahan
• Dapat melaksanakan metode ilmiah dengan baik
2)
Segi kekurangannya
•
Tidak semua mata pelajaran dapat menggunakan metode ini
• Murid yang kurang mempunyai daya intelektual yang kuat kurang baik hasilnya.
Sebaiknya
Metode Eksperimen ini di terapkan bagi pelajaran-pelajaran yang belum di ajarka
atau di terangkan oleh metode lain sehingga Metode Eksperimen ini terasa benar
fungsinya bagi siswa.
Hal-hal
yang Perlu di perhatikan dalam melakukan Metode Eksperimen adalah sebagai
berikut;
1. Persiapkan terlebih dahulu bahan-bahan yang di butuhkan
2. Usahakan siswa terlibat langsung sewaktu mengadakan eksperimen
3. Sebelum di laksanakan eksperimen siswa terlebih dahulu di berikan penjelasan
dan petunjuk-petunjuk seperlunya
1.
Lakukan pengelompokan atau masing-masing individu melakukan percobaan yang
telah di rencanakan bila hasilnya belum memuaskan dapat di ulangi lagi untuk
membuktikn kebenaranya
2. Setiap kelompok atau individu dapat melaporkan hasil percobaanya secara
tertulis.
C.
Metode Demonstrasi dan Eksperimen
Metode
Demonstrasi Dan Eksperimen ini cocok digunakan apabila:
1. Untuk memberikan latihan keterampilan tertetu pada siswa.
2. Untuk memudahkan penjelasan yang di berikan agar siswa langsung mengetahui
dan dapat terampil dan melakukannya.
3. Untuk membantu siswa dalam memahami sesuatu proses secara cermat dan teliti.
Keuggulan
Metode Demonstrasi dan Eksperiaen ini adalah:
a.
Perhatian siswa akan dapat terpusat sepenuhnya pada anak yang di Demonstrasikan
atau di Eksperienkan
b. Memberikan pengalaman praktis yang dapat membentuk ingatan yang kuat dan
keterampilan dalam berbuat
c. Hal-hal yang menjadi teka-teki siswa dapat terjawab melalui eksperimen
d. Menghindarkan kesalahan siswa dalam mengambil kesimpulan karena mereka
mengamati secara langsung jalannya proses demonstrasi yang di adakan atau
eksperimen.
Kelemahan
Metode Demonstrasi dan Eksperimen adalah:
1. Persiapa dan pelaksanaannya memakan waktu lama
2. Metode ini tidak efektif apabila tidak di tunjang dengan peralatan yang
lengkap sesuai dengan kebutuhan
3. Sukar di laksanakan bila siswa belum matang kemampuan untuk melaksanakannya
Saranya
Untuk Metode Demonstrasi dan Eksperimen
1. Lakukan Metode Demonstrasi dan Eksperimen dalam hal-hal yang bersifat
praktis dan urgent dalam masarakat
2. Arahkan pendemonstrasian dan eksperimen agar murid-murid mendapatkan pengertian
yang jelas, pembentukan sikap serta kecakapan praktis
3. Usahakan agar semua anak dapat mengikuti demonstrasi dan eksperimen
4. Berilah pengertian sejelas-jelasmya landasan teori dari apa yang hendak di
demonstrasikan maupun di eksperimenkan
Kesimpulan
Metode
demonstrasi adalah salah satu metode mengajar dengan menggunakan peragaan untuk
memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan
sesuatu dengan jalan mendemonstrasikan terlebih dulu kepada siswa
Metode ini dapat menghilangkan varbalisme sehingga siswa akan semakin memahami
materi pelajaran. Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu di perhatikan agar
metode ini dapat berjalan dengan efektif dan efesien.
Metode
Eksperimen adalah suatu metode di mana murid melakukan pekerjaan akademis dalam
mata pelajaran tertentu dengan menyaksikan peragaan-peragaan tersebut.
Namun yang perlu di perhatikan oleh guru tentang Metode Demonstrasi dan
Eksperimen ialah karna kedua metode ini memiliki kekurangan dan kelebihan.
Model
Direct Intruction merupakan suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa
dalam mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat
diajarkan selangkah demi selangkah. Pendekatan mengajar ini sering disebut
Model Pengajaran Langsung (Kardi dan Nur,2000a :2). Arends (2001:264) juga
mengatakan hal yang sama yaitu :”A teaching model that is aimed at helping
student learn basic skills and knowledge that can be taught in a step-by-step
fashion. For our purposes here, the model is labeled the direct instruction
model”. Apabila guru menggunakan model pengajaran langsung ini, guru mempunyai
tanggung jawab untuk mengudentifikasi tujuan pembelajaran dan tanggung jawab
yang besar terhadap penstrukturan isi/materi atau keterampilan, menjelaskan
kepada siswa, pemodelan/mendemonstrasikan yang dikombinasikan dengan latihan,
memberikan kesempatan pada siswa untuk berlatih menerapkan konsep atau
keterampilan yang telah dipelajari serta memberikan umpan balik.
Model
pengajaran langsung ini dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa
yang berkaitan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang
terstruktur dengan baik, yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang
bertahap, selangkah demi selangkah. Hal yang sama dikemukakan oleh Arends
(1997:66) bahwa: “The direct instruction model was specifically designed to
promote student learning of procedural knowledge and declarative knowledge that
is well structured and can be taught in a step-by-step fashion.”
Lebih
lanjut Arends (2001:265) menyatakan bahwa: ”Direct instruction is a
teacher-centered model that has five steps:establishing set, explanation and/or
demonstration, guided practice, feedback, and extended practiceA direct
instruction lesson requires careful orchestration by the teacher and a learning
environment that businesslike and task-oriented.” Hal yang sama dikemukakan
oleh Kardi dan Nur (2000a : 27), bahwa suatu pelajaran dengan model pengajaran
langsung berjalan melalui lima fase: (1) penjelasan tentang tujuan dan
mempersiapkan siswa, (2) pemahaman/presentasi materi ajar yang akan diajarkan
atau demonstrasi tentang keterampilan tertentu, (3) memberikan latihan
terbimbing, (4) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik, (5) memberikan
latiham mandiri.
B.
Prinsip
Pembelajaran
ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritma-prosedural, langkah
demi langkah bertahap.
Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa
tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan
dengan pola selangkah demi selangkah.
Langkah-langkah:
1.Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa.
2. Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan.
3. Membimbing pelatihan.
4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik.
5. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan
Sintaknya adalah:
1. sajian informasi kompetensi,
2. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural,
3. membimbing pelatihan-penerapan,
4. mengecek pemahaman dan balikan,
5. penyimpulan dan evaluasi,
6. refleksi.
C. Kesimpulan
Model pembelajaran explicit instruction merupakan model pembelajaran secara
langsung agar sisiwa dapat memahami serta benar-benar mengetahui pengetahuan
secara menyeluruh dan aktiv dalam suatu pembelajaran. Jadi model pembelajaran
ini sangat cocok diterapakan dikelas dalam materi tertentu yang bersifat dalil
pengetahuan agar proses berpikir siswa dapat mempunyai keterampilan procedural.
D.
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan:
1. Siswa benar-benar dapat menguasai pengetahuannya.
2. Semua siswa aktif / terlibat dalam pembelajaran.
Kekurangan:
1. Memerlukan waktu lama sehingga siswa yang tampil tidak begitu lama.
2. Untuk mata pelajaran tertentu.
MODEL PEMBELAJARAN CIRC
(Cooperative, Integrated, Reading, and Composition)
A. Pengertian Model Pembelajaran
CIRC
Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara
koperatif –kelompok.
Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition-CIRC
(Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis) merupakan model pembelajaran khusus
Mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam rangka membaca dan menemukan ide pokok,
pokok pikiran atau,tema sebuah wacana/kliping.
Model pembelajaran Cooperative
Integrated Reading and Composition (CIRC) ini dapat dikategorikan pembelajaran
terpadu.Menurut Fogarty (1991), berdasarkan sifat keterpaduannya, pembelajaran
terpadu dapat dikelompokkan menjadi:
1) model dalam satu disiplin ilmu yang meliputi model connected (keterhubungan)
dan model nested (terangkai);
2) model antar bidang
studi yang meliputi model sequenced (urutan), model shared (perpaduan), model
webbed (jaring laba-laba), model theaded (bergalur) dan model integreted
(terpadu);
3) model dalam lintas siswa.
Dalam pembelajaran CIRC atau
pembelajaran terpadu setiap siswa bertanggung jawab terhadap tugas kelompok.
Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide untuk memahami suatu konsep
dan menyelesaikan tugas (task), sehingga terbentuk pemahaman yang dan
pengalaman belajar yang lama. Model pembelajaran ini terus mengalami perkembangan
mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga sekolah menengah. Proses
pembelajaran ini mendidik siswa berinteraksi sosial dengan lingkungan.
Prinsip belajar terpadu ini sejalan
dengan empat pilar pendidikan yang digariskan UNESCO dalam kegiatan pembelajaran.
Empat pilar itu adalah ”belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar
untuk berbuat (learning to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to
be), dan belajar hidup dalam kebersamaan (Learning to live together),
(Depdiknas, 2002).
B. Langkah – Langkah Pembelajaran
CIRC
Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang siswa secara heterogen.
2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran.
3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi
tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas.
4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok.
5. Guru dan siswa membuat kesimpulan bersama.
6. Penutup.
Dari setiap fase tersebut di atas dapat kita perhatikan dengan jelas sebagai
berikut:
a. Fase Pertama, Pengenalan konsep. Fase ini guru mulai mengenalkan tentang
suatu konsep atau istilah baru yang mengacu pada hasil penemuan selama
eksplorasi. Pengenalan bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, atau
media lainnya.
b. Fase Kedua, Eksplorasi dan aplikasi. Fase ini memberikan peluang pada siswa
untuk mengungkap pengetahuan awalnya, mengembangkan pengetahuan baru, dan
menjelaskan fenomena yang mereka alami dengan bimbingan guru minimal. Hal ini menyebabkan
terjadinya konflik kognitif pada diri mereka dan berusaha melakukan pengujian
dan berdiskusi untuk menjelaskan hasil observasinya. Pada dasarnya, tujuan fase
ini untuk membangkitkan minat, rasa ingin tahu serta menerapkan konsepsi awal
siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan memulai dari hal yang kongkrit.
Selama proses ini siswa belajar melalui tindakan-tindakan mereka sendiri dan
reaksi-reaksi dalam situasi baru yang masih berhubungan, juga terbukti menjadi
sangat efektif untuk menggiring siswa merancang eksperimen, demonstrasi untuk
diujikannya.
c. Fase Ketiga, Publikasi. Pada fase ini Siswa mampu mengkomunikasikan hasil
temuan-temuan, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas. Penemuan
itu dapat bersifat sebagai sesuatu yang baru atau sekedar membuktikan hasil
pengamatannya.. Siswa dapat memberikan pembuktian terkaan gagasan-gagasan
barunya untuk diketahui oleh teman-teman sekelasnya. Siswa siap menerima
kritikan, saran atau sebaliknya saling memperkuat argumen.
C. Kelebihan Model Pembelajaran CIRC
Kelebihan dari model pembelajaran terpadu atau (CIRC) antara lain:
1) Pengalaman dan kegiatan belajar anak didik akan selalu relevan dengan
tingkat perkembangan anak;
2) kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan bertolak dari minat siswa dan
kebutuhan anak;
3) seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak didik sehingga hasil
belajar anak didik akan dapat bertahan lebih lama;
4) pembelajaran terpadu dapat menumbuh-kembangkan keterampilan berpikir anak;
5) pembelajaran terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis
(bermanfaat) sesuai dengan permasalahan yang sering ditemuai dalam lingkungan
anak;
6) pembelajaran terpadu dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa kearah belajar
yang dinamis, optimal dan tepat guna;
7) menumbuhkembangkan interaksi sosial anak seperti kerjasama, toleransi,
komunikasi dan respek terhadap gagasan orang lain;
8) membangkitkan motivasi belajar, memperluas wawasan dan aspirasi guru dalam
mengajar (Saifulloh, 2003).
D. Kekurangan Model Pembelajaran
CIRC
Kerurangan dari model pembelajaran CIRC tersebut antara lain:
Dalam model pembelajaran ini hanya dapat dipakai untuk mata pelajaran yang
menggunakan bahasa, sehingga model ini tidak dapat dipakai untuk mata pelajaran
seperti: matematika dan mata pelajaran lain yang menggunakan prinsip
menghitung.
E. Kesimpulan
Model pembelajaran ini sangat bagus dipakai karena dengan menggunakan model ini
siswa dapat memahami secara langsung peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan
dengan materi yang dijelaskan.
MODEL PEMBELAJARAN INSIDE – OUTSIDE
– CIRCLE (LINGKARAN BESAR – LINGKARAN KECIL)
Teknik mengajar lingkaran besar dan lingkaran kecil (inside – outside – circle)
dikembangkan oleh Spencer Kagan untuk memberikan kesempatan pada siswa agar
saling berbagi informasi pada saat yang bersamaan.
Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dengan teknik ini adalah bahan yang
membutuhkan pertukaran pikiran dan informasi antar siswa. Salah satu keunggulan
teknik ini adalah adanya struktur yang jelas yang memungkinkan siswa untuk
berbagi dengan pasangan yang berbeda dengan singkat danteratur. Selain itu
siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai
banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan
berkomunikasi.
Langkah-langkah :
1. Separuh kelas (atau seperempat jika jumlah siswa terlalu banyak) berdiri
membentuk lingkaran kecil dan menghadap ke luar.
2. Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran diluar lingkaran pertama menghadap
ke dalam.
3. Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil danhttp://www.scribd.com/doc/50827028/73/INSIDE-OUTSIDE-CIRCLE-LINGKARAN-KECIL-LINGKARAN-BESAR besar
berbagi informasi. Pertukaran informasi bisa dilakukan oleh semua pasangan
dalam waktu yang bersamaan.
4. Kemudian siswa yang di lingkaran kecil diam di tempat, sementara siswa yang
di lingkaran besar bergeser, satu atau dua langkah searah jarum jam.
5. Sekarang giliran siswa berada di lingkaran besar yang membagi informasi
demikian seterusnya.
Siswa saling membagi informasi pada
saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur.
Kelebihan :
Mendapatkan informasi yang berbeda pada saat yang bersamaan.
Kekurangan :
Membutuhkan ruang kelas yang besar.Ø
Terlalu lama sehingga tidak konsentrasi dan disalahgunakan untuk bergurau, juga
rumit untuk dilakukan.Ø
Materi yang cocok dengan model
pembelajaran.
1. IPA kelas 5 Bab V
Penyesuaian Makhluk Hidup
a. Penyesuaian diri pada hewan
1. Penyesuaian diri untuk memperoleh makanan.
2. Penyesuaian diri untuk melindungi diri dari musuhnya.
b. Penyesuaian diri pada tumbuhan
1. Penyesuaian diri tumbuhan dengan lingkungan tertentu.
2. Penyesuaian diri untuk melindungi diri dari musuhnya.
Alasan :
Pada pembelajaran dengan menggunakan model outside – inside – circle (lingkaran
besar – lingkaran kecil) ini. Terlebih dahulu guru menyampaikan informasi
dengan menjelaskan isi materi (penyesuaian makhluk hidup). Menurut saya materi
penyesuaian makhluk hidup sangat cocok untuk model outside – inside – circle
(lingkaran besar – lingkaran kecil). Karena materi ini sering ditemui anak
dalam kehidupan sehari-hari, melalui penjelasan dari guru tentang penyesuaian
makhluk hidup maka anak memadukan apa yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari
dengan informasi yang disampaikan oleh guru, sehingga pada saat anak membentuk
lingkaran besar dan lingkaran kecil yang selanjutnya anak akan menyampaikan
informasi, anak mudah mengingat informasi yang akan dia sampaikan kepada teman
pasangannya, materi ini juga memiliki cakupan isi/materi yang cukup banyak
sehingga memudahkan guru untuk membagi materi sesuai dengan siswa yang
membentuk lingkaran, karna masing masing-masing anak membawa informasi yang
berbeda untuk teman pasangannya.
2. IPA Kelas 5 Bab XIV
Sumber Daya Alam
a. Sumber Daya Alam di Lingkungan Sekitar
1. Sumber daya alam yang dapat diperbaharui
2. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui
b. Penggunaan Sumber Daya Alam
1. Mineral
2. Kegiatan manusia yang mengubah permukaan bumi
Alasan :
Pada pembelajaran menggunakan model outside – inside – circle (lingkaran besar
– lingkaran kecil). saya materi ini cocok untuk model inside (outside – circle)
(lingkaran besar – lingkaran kecil) karena materinya dapat dikembangkan oleh
anak berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka. Misalnya : materi tentang
kegiatan manusia yang mengubah permukaan bumi, jika guru menggunakan soal
pertanyaan dalam pertukaran pikiran dan informasi untuk setiap anak, maka
mempermudah pekerjaan guru dalam membuat pertanyaan, pertanyaan yang sama dapat
diberikan kepada beberapa anak, karena kemungkinan jawaban yang akan mereka
dapat dari teman pasangannya berbeda. Dengan model pembelajaran outside –
inside – circle materi akan mudah dipahami oleh anak karena materi ini dapat
disampaikan dengan singkat dan eratur, misalnya berkaitan dengan sumber daya
alam yang dapat diperbaharui, dan tidak dapat diperbaharui, sehingga dengan
model pembelajaran outside – inside – circle ini cakupan materi yang cukup luas
dapat dipahami dan dikembangkan oleh anak.
3. Pendidikan kewarganegaraan kls XI
Semester II
Pentingnya nilai dalam kehidupan
Pentingnya nilai dalam kehidupan bangsaØ
Pancasila sebagai sumber nilaiØ
a. Pancasila sebagai sumber nilai hokum
b. Pancasila sebagai sumber nilai etik
Menurut saya materi ini cocok dan bias digunakan dalam model pembelajaran IOC
dikarnakan materi yang disampaikan tidak terlalu sulit dan melatih tingkat
pemikiran siswa karna yang dibahas dalam materi ini menyangkut kehidupan
sehari-hari dan bangsa.
MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE
LEARNING (TEBAK KATA)
A. Pengertian
Metode ini berguna untuk kelas yang aktif dalam kelas. Pengertian aktif
terdapat 2 (dua) macam, yaitu:
1. aktif dalam arti selalu atau suka berbicara meski tidak dalam pembelajaran,
2. aktif dalam arti siswa mau dan mampu berfikir dan bertanya jika menemukan
kesulitan.
Dalam buku Cooperative Learning
PAIKEM oleh Agus Suprijono menjelaskan pembelajaran aktif yaitu; Pembelajaran
adalah proses belajar dengan menempatkan peserta didik sebagai center stage
performance, dengan proses pembelajaran yang menarik sehingga siswa dapat
merespon pemelajaran dengan suasana yang menyenangkan. Sedangkan aktif adalah
siswa atau peserta didik mampu dan dapat bertanya, mempertanyakan, dan
mengemukakan gagasan.
Maka dari itu, berlangsungnya proses pembelajaran tidak terlepas dengan
lingkungan sekitar atau tidak terbatas pada empat dinding kelas. Melainkan
pembelajaran dapat terlaksana dengan pendekatan lingkungan menghapus kejenuhan
dan menciptakan peserta didik yang cinta terhadap lingkungan sekitar. Sedikit
contoh metode Pembelajaran Aktif yaitu dengan Metode Tebak kata.
Model pembelajaran tebak kata adalah model pembelajaran yang menggunakan media
kartu teka-teki yang berpasangan dengan kartu jawaban teka-teki. Permainan
tebak kata dilaksanakan dengan cara siswa menjodohkan kartu soal teka-teki
dengan kartu jawaban yang tepat. Melalui permainan tebak kata, selain anak
menjadi tertarik untuk belajar juga memudahkan dalam menanamkan konsep
pelajaran IPS dalam ingatan siswa. Jadi, guru mengajak siswa untuk bermain
tebak kata dengan menggunakan media kartu dari kertas karton dalam mata
pelajaran IPS.
Dalam menerapkan metode permainan
ada beberapa hal yang harus disiapkan adalah sebagai berikut :
1. siapkan materi yang akan di sampaikan.
2. siapkan bahan ajar yang di butuhkan.
3. siapkan kata kunci yang akan di pertanyakan.
Media: :
Buat kartu ukuran 10X10 cm dan isilah ciri-ciri atau kata-kata lainnya yang
mengarah pada jawaban (istilah) pada kartu yang ingin ditebak. Buat kartu
ukuran 5X2 cm untuk menulis kata-kata atau istilah yang mau ditebak (kartu ini
nanti dilipat dan ditempel pada dahi ataudiselipkan di telinga.
Langkah-langkah :
1. Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai atau materi ± 45 menit.
2. Guru menyuruh siswa berdiri berpasangan di depan kelas
3. Seorang siswa diberi kartu yang berukuran 10×10 cm yang nanti dibacakan pada
pasangannya. Seorang siswa yang lainnya diberi kartu yang berukuran 5×2 cm yang
isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau
diselipkan ditelinga.
4. Sementara siswa membawa kartu 10×10 cm membacakan kata-kata yang tertulis
didalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud dalam kartu 10×10
cm. jawaban tepat bila sesuai dengan isi kartu yang ditempelkan di dahi atau
telinga.
5. Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis di kartu) maka pasangan itu
boleh duduk. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan boleh
mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawabannya.
6. Dan seterusnya
CONTOH KARTU:
BERDASARKAN SIKAP YANG DITUNJUKKAN.
• tidak memandang perbedaan sebagai usaha mencari alternatif
• yang dicari adalah kambing hitam bukan peraturannya yang mungkin salah.
TIPE BUDAYA POLITIK APAKAH AKU…?
JAWABAN:
TIPE BUDAYA POLITIK MILITAN
B. Prinsip atau Ciri-Ciri
• Pembelajaran berlangsung menyenangkan
• Siswa diarahkan untuk aktif
• Menggunakan media kartu
C. Kelebihan dan Kekurangan dalam Pemanfaatannya
• Kelebihannya :
a. anak akan mempunyai kekayaan bahasa.
b. Sangat menarik sehingga setiap siswa ingin mencobanya.
c. Siswa menjadi tertarik untuk belajar
d. memudahkan dalam menanamkan konsep pelajaran dalam ingatan siswa.
• Kekurangannya :
a. memerlukan waktu yang lama sehingga materi sulit tersampaikan.
b. Bila siswa tidak menjawab dengan benar maka tidak semua siswa dapat maju
karena waktu terbatas.
D. Kesimpulan
Jadi, mopdel pembelajaran Tebak Kata merupakan salah satu model pembelajaran
Cooperative Lerning, dengan proses pembelajaran yang menarik agar siswa menjadi
berminat atau tertarik untuk belajar, mempermudah dalam menanamkan
konsep-konsep dalam ingatan siswa. Selain itu siswa juga diarahkan untuk aktif,
yaitu siswa atau peserta didik mampu dan dapat bertanya, mempertanyakan, dan
mengemukakan gagasan.
MODEL PEMBELAJARAN WORD SQUARE
Model pembelajaran Word Square
merupakan pengembangan dari metode ceramah yang diperkaya. Hal ini dapat
diidentifikasi melalui pengelompokkan metode ceramah yang diperkaya yang
berorientasi kepada keaktifan siswa dalam pembelajaran sebagaimana disebutkan
oleh Mujiman (2007)
Model Pembelajaran Word
Square merupakan model pembelajaran yang memadukan kemampuan menjawab
pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokan jawaban pada kotak-kotak jawaban.
Mirip seperti mengisi Teka-Teki Silang tetapi bedanya jawabannya sudah
ada namun disamarkan dengan menambahkan kotak tambahan dengan sembarang
huruf/angka penyamar atau pengecoh. Model pembelajaran ini sesuai untuk semua
mata pelajaran.Tinggal bagaimana Guru dapat memprogram sejumlah pertanyaan
terpilih yang dapat merangsang siswa untuk berpikir efektif. Tujuan huruf/angka
pengecoh bukan untuk mempersulit siswa namun untuk melatih sikap teliti dan
kritis.
Word Square merupakan salah satu
dari sekian banyak metode pembelajaran yang dapat dipergunakan guru dalam mencapai
tujuan pembelajaran. Metode ini merupakan kegiatan belajar mengajar dengan cara
guru membagikan lembar kegiatan atau lembar kerja sebagai alat untuk mengukur
tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang telah diajarkan.
Instrument utama metode ini adalah
lembar kegiatan atau kerja berupa pertanyaan atau kalimat yang perlu dicari
jawabannya pada susunan huruf acak pada kolom yang telah disediakan.
- Langkah-Langkah Model Pembelajaran Word Square
Langkah-langkah Model Pembelajaran
Word Square adalah sebagai berikut :
1. Guru
menyampaikan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai.
2. Guru
membagikan lembaran kegiatan sesuai contoh.
3. Siswa
menjawab soal kemudian mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban secara
vertikal, horizontal maupun diagonal.
4. Berikan
poin setiap jawaban dalam kotak.
CONTOH JAWABAN (Untuk Mapel PKn)
|
S
|
Y
|
E
|
N
|
I
|
E
|
K
|
K
|
K
|
|
A
|
G
|
U
|
A
|
N
|
D
|
M
|
E
|
N
|
|
N
|
B
|
A
|
R
|
T
|
I
|
R
|
T
|
D
|
|
G
|
A
|
N
|
R
|
N
|
R
|
S
|
U
|
S
|
|
U
|
D
|
G
|
T
|
U
|
T
|
G
|
R
|
Z
|
|
I
|
O
|
O
|
L
|
S
|
A
|
I
|
U
|
I
|
|
N
|
R
|
P
|
A
|
I
|
P
|
A
|
N
|
F
|
|
I
|
A
|
S
|
O
|
L
|
I
|
O
|
A
|
U
|
|
S
|
R
|
I
|
N
|
H
|
B
|
C
|
N
|
U
|
CONTOH SOALNYA :
1. Asas
dalam menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan tempat orang tersebut
dilahirkan disebut asas…
2. Negara
Indonesia memakai asas kewarganegaraan berdasarkan keturunan yang disebut asas
ius…
3. Seseorang
yang mempunyai dua kewarganegaraan dari dua Negara yang berbeda disebut…
4. Hak
dimiliki seseorang untuk memilih kewarganegaraannya disebut hak…
5. Penentuan
kewarganegaraan seseorang berdasarkan kelahiran dan…
- Kekurangan dan Kelebihan Model Pmebelajaran Word Square
Beberapa kelebihan dari model
pembelajaran Word Square yaitu:
1. Kegiatan
tersebut mendorong pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
2. Melatih
untuk berdisiplin.
3. Dapat
melatih sikap teliti dan kritis.
4. Merangsang
siswa untuk berpikir efektif.
Model pembelajaran ini mampu sebagai
pendorong dan penguat siswa terhadap materi yang disampaikan. Melatih
ketelitian dan ketepatan dalam menjawab dan mencari jawaban dalam lembar kerja.
Dan tentu saja yang ditekankan disini adalah dalam berpikir efektif, jawaban
mana yang paling tepat.
Sedangkan beberapa kekurangan dari
model pembelajaran word square yaitu:
1. Mematikan
kreatifitas siswa.
2. Siswa
tinggal menerima bahan mentah.
3. Siswa
tidak dapat mengembangkan materi yang ada dengan kemampuan atau potensi yang
dimilikinya.
Dalam model pembelajaran ini siswa
tidak dapat mengembangkan kreativitas masing-masing, dan lebih banyak berpusat
pada guru. Karena siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru, dan
jawaban dari lembar kerja pun tidak bersifat analisis, sehingga siswa tidak
dapat menggali lebih dalam materi yang ada dengan model pembelajaran word
square ini.
Dari penjelasan tentang model
pembelajaran word square maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran word
square adalah suatu pengembangan dari metode ceramah namun untuk mengetahui
pemahaman siswa tentang materi yang telah disampaikan maka diberikan lembar
kerja yang didalamnya berisi soal dan jawaban yang terdapat dalam kotak kata.
Membutuhkan suatu kejelian dan ketelitian dalam mencari pilihan jawaban yang
ada dengan tepat. Namun sebagaimanan model pembelajaran yang lainnya, model
pembelajaran word square mempunyai kekurangan dan kelebihan. Kekurangan dari
model pembelajaran ini yaitu siswa hanya menerima bahan mentah dari guru dan
tidak dapat mengembangkan kreativitasnya, karena siswa hanya dituntut untuk
mencari jawaban bukan untuk mengembangkan pikiran siswa masing-masing.
Sedangkan kelebihannya yaitu meningkatkan ketelitian, kritis dan berfikir
efektif siswa. Karena siswa dituntut untuk mencari jawaban yang paling tepat
dan harus jeli dalam mencari jawaban yangada dalam lembar kerja.
Model pembelajaran Scramble
Model Pembelajaran Scramble tampak
seperti Model Pembelajaran Word Square, bedanya jawaban soal tidak dituliskan
di dalam kotak-kotak jawaban, tetapi sudah dituliskan namun dengan susunan yang
acak, nah siswa nanti bertugas mengkoreksi ( membolak-balik huruf ) jawaban
tersebut sehingga menjadi jawaban yang tepat/ benar.
Model pembelajaran scramble tampak seperti model pembelajaran word square,
bedanya jawaban soal tidak dituliskan di dalam kotak-kotak jawaban, tetapi
sudah dituliskan, namun dengan susunan yang acak, jadi siswa bertugas
mengoreksi (membolak-balik huruf) jawaban tersebut sehingga menjadi jawaban
yang tepat / benar.
Kelebihan Model pembelajaran
Scramble :
1. Memudahkan mencari jawaban
2. Mendorong siswa untuk belajar mengerjakan soal tersebut
3. Semua siswa terlibat
4. Kegiatan tersw dapat mendorong pemahaman siswa terhadap materi pelajaran
5. Melatih untuk disiplin
Kekurangan model pembelajaran
scramble
1. Siswa kurang berfikir kritis
2. Bisa saja mencontek jawaban teman lainnya
3. Mematikan kreatifitas siswa
4. Siswa tinggal menerima bahan mentah
Langkah-langkah Model pembelajaran
scramble :
1. Guru menyajikan materi sesuai topic, misalnya guru menyajikan materi
pelajaran tentang “Tata Surya”
2. Setelah selesai menjelaskan tentang Tata Surya, guru membagikan lembar kerja
dengan jawaban yang diacak susunannya.
3. Media yang digunakan dalam model pembelajaran scramble :
4. Buat pertanyaan yang sesuai dengan TPK
5. Buat jawaban yang diacak hurufnya
Media :
Buatlah pertanyaan yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
Buat jawaban yang diacak hurufnya
Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :
Guru menyajikan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai.
Membagikan lembar kerja sesuai contoh.
Susunlah huruf-huruf pada kolom B sehingga merupakan kata kunci (jawaban) dari
pertanyaan pada kolom A!
Kolom A
1. Sebelum mengenal uang orang melakukan
pertukaran dengan cara …
2. … digunakan sebagai alat pembayaran yang sah
3. Uang … saat ini banyak dipalsukan
4. Nilai bahan pembuatan uang disebut nilai …
5. Kemampuan uang untuk ditukar dengan sejumlah barang atau jasa disebut nilai
…
6. Nilai perbandingan uang dalam negeri dengan mata uang asing disebut …
7. Nilai yang tertulis pada uang disebut nilai …
8. dorongan seseorang menyimpan uang untuk keperluan jual beli disebut …
9. perintah tertulis dari seseorang yang mempunyai rekening di bank untuk
membayar sejumlah uang disebut …
Kolom B
1. TARREB ……………………………. ( Contoh :
jawaban yang benar……BARTER )
2. GANU …………………………………
3. TRASEK ………………………………
4. KISTRINI ………………………………
5. LIRI ………………………………………
6. SRUK …………………………………
7. MINALON ………………………….
8. SAKSITRAN …………………………
9. KEC ……………………………………
MODEL PEMBELAJARAN TAKE AND
GIVE
Pengertian Model
Pembelajaran Take and Give
Model Pembelajaran menerima dan
memberi (Take and Give) merupakan model pembelajaran yang memiliki sintaks,
menuntut siswa mampu memahami materi pelajaran yang diberikan guru dan
teman sebayanya (siswa lain).
Kelebihan :
- Siswa akan lebih cepat memahami penguasaan materi dan
informasi karena mendapatkan informasi dari guru dan
siswa yang lain.
- Dapat menghemat waktu dalam pemahaman dan
penguasaan siswa akan informasi.
Kelemahan:
- Bila informasi yang disampaikan siswa kurang tepat
(salah) maka informasi yang diterima siswa lain pun akan kurang tepat.
- Media Model Pembelajaran Take and Give
a) Siapkan
Kartu dengan ukuran 10 x 15 cm untuk sejumlah siswa.
b) Setiap
kartu berisi nama siswa, bahan belajar (sub materi) dan nama yang diberi
informasi, kompetensi dan sajian materi.
- Contoh Kartu :
NAMA SISWA :
SUB MATERI :
NAMA YANG DIBERI :
3. dst.
- Langkah-langkah Umum
- Guru menyiapkan kelas sebagaimana mestinya.
- Guru menjelaskan materi sesuai kompetensi yang sudah
direncanakan selama 45 menit.
- Untuk memantapkan penguasaan siswa akan materi yang
sudah dijelaskan, setiap siswa diberikan satu kartu untuk dipelajari
(dihapal) selama 5 menit.
- Kemudian guru meminta semua siswa berdiri dan mencari
teman pasangan untuk saling menginformasikan materi yang telah
diterimanya. Tiap siswa harus mencatat nama teman pasangannya pada kartu
yang sudah diberikan.
- Demikian seterusnya sampai semua siswa dapat saling
memberi dan menerima materi masing-masing (take and give).
- Guru mengevaluasi keberhasilan model pembelajaran take
and give dengan memberikan siswa pertanyaan yang tidak sesuai dengan
kartunya (kartu orang lain).
- Guru dan siswa membuat kesimpulan bersama mengenai
materi pelajaran.
- Guru menutup pelajaran.
Model
Pembelajaran Consept Sentence
Metodologi mengajar adalah ilmu yang
mempelajari cara-cara untuk melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah
lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling
berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan
dengan baik dalam arti tujuan pengajaran tercapai.
Agar tujuan pengajaran tercapai
sesuai dengan yang telah dirumuskan oleh pendidik, maka perlu mengetahui,
mempelajari beberapa metode mengajar, serta dipraktekkan pada saat mengajar.
Pengertian
Consepct sentence merupakan salah satu teknik dari cooperative Learning,dimana
siswa belajar dengan kelompoknya untuk membuat beberapa kalimat sesuai dengan
kata kunci yang telah diberikan oleh guru kepada siswa.Pembentukan kelompok
didasarkan pada kartu kata yang dimiliki oleh setiap siswa.Setiap siswa
membentuk satu kalimat yang telah dipelajari sebelumnya.Consecptsentence ini
dibuat seperti games sehingga siswa bersemangat untuk memenangkan games
ini.Setiap kelompok akan membahas pola kalimat yang telah diberikan oleh guru
,setelah diberikan batas waktu tertentu ,maka setiap kelompok harus mengirim
wakil dari masing-masing kelompok sebanyak dua orang kedepan .Wakil dari
kelompok diharuskan membuat beberapa dari kata kunci yang ada berdasarkan kata
kunci yang telah diberikan
Proses kelompok terjadi ketika anggota kelompok mendiskusikan seberapa baik
mereka mencapai tujuan dan memelihara kerjasama yang efektif. Para siswa perlu
mengetahui tingkat-tingkat keberhasilan pencapaian tujuan dan efektivitas
kerjasama yang telah dilakukan.
Untuk memperoleh informasi itu, para siswa perlu mengadakan perbaikan-perbaikan
secara sistematis tentang bagaimana mereka telah bekerja sama sebagai satu tim,
dalam hal :
• Seberapa baik tingkat pencapaian
tujuan kelompok
• Bagaimana mereka saling membantu satu sama lain
• Bagaimana mereka bersikap dan bertingkah laku positif untuk memungkinkan
setiap individu dan kelompok secara keseluruhan menjadi berhasil, dan
• Apa yang mereka butuhkan untik melakukan tugas-tugas yang akan datang supaya
lebih berhasil.
Ciri-ciri
Siswa dibentuk kelompok heterogen dan membuat kalimat dengan minimal 4 kata
kunci sesuai materi yang disajikan.
Langkah-langkah:
1. Guru menyampaikan tujuan.
2. Guru menyajikan materi secukupnya.
3. Guru membentuk kelompok yang anggotanya kurang lebih 4 orang secara
heterogen.
4. Menyajikan beberapa kata kunci sesuai materi/ topik yang disajikan.
5. Tiap kelompok disuruh membuat beberapa kalimat dengan menggunakan minimal 4
kata kunci setiap kalimat.
6. Hasil diskusi kelompok didiskusikan lagi secara pleno yang dipandu guru.
7. Kesimpulan.
Kelebihan:
1. Lebih memahami kata kunci dari materi pokok pelajaran.
2. Siswa yang lebih pandai mengajari siswa yang kurang pandai.
Kekurangan:
1. Hanya untuk mata pelajaran tertentu.
2. Untuk yang pasif mengambil jawaban dari temannya.
Model
Pembelajaran Complete Sentence
1. Pengertian
Model pembelajaran complete sentence adalah model pembelajaran mudah dan
sederhana di mana siswa belajar melengkapi paragraf yang belum sempurna dengan
menggunakan kunci jawaban yang tersedia.
Langkah-langkah pembelajarannya
sebagai berikut :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Guru Menyampaikan materi secukupnya atau siswa disuruh membacakan buku atau
modul dengan waktu secukupnya.
3. Guru membentuk kelompok 2 atau 3 orang secara heterogen.
4. Guru membagikan lembar kerja berupa paragraf yang kalimatnya belum lengkap.
5. Siswa berdiskusi untuk melengkapi kalimat dengan kunci jawaban yang
tersedia.
6. Siswa berdiskusi secara berkelompok.
7. Setelah jawaban didiskusikan, jawaban yang salah diperbaiki. Tiap peserta
membaca sampai mengerti atau hafal.
8. Kesimpulan.A
2. Prinsip/ ciri-ciri Complete
sentence
a. Soal yang disampaikan berupa kalimat yang belum lengkap, sehingga makna/
arti kalimat tersebut belum dapat dimengerti
b. Kalimat yang banyak dan saling berkaitan dalam sebuah paragrap, dan belum
sempurna serta belum dimengerti maknanya
c. Kalimat dapat dilengkapi dengan pilihan kata yang disediakan
d. Harus diisi dengan kata-kata tertentu, misal istilah keilmuan/ kata asing.
e. Jawaban dari kalimat yang belum lengkap itu sudah disediakan
3. Kelebihan/kekurangan model
pembelajaran complete sentence
a. Kelebihan
1. Mudah dibuat guru, hanya dengan menghilangan satu kata dalam kalimat
2. Siswa tidak perlu menjelaskan jawabannya, hanya perlu memadukan
rumpang/tidak jawabannya.
3. Siswa diajarkan untuk mengerti dan hafal mengenai materi
b. Kekurangan
1. Guru kurang kreatif dan inovasi dalam membuat soal
2. Siswa kurang terpacu mencari jawaban karena hanya cukup menebak kata, karena
biasanya hanya kata hubung.
3. Kurang cocok untuk dipergunakan dalam setiap bidang
studi.
4. Kesimpulan
Model pembelajaran complete sentence adalah model pembelajaran yang sederhana
di mana siswa belajar melengkapi paragraf yang belum sempurna dengan
menggunakan kunci jawaban yang tersedia. Model pembelajaran ini sebenarna
mempermudah guru namun terkadang gurunya kurang inovatif dan kreatif dalam
membuat soalnya. Dan siswanya kurang terpacu untuk mencari jawabannya karena
hanya tinggal menebak kaata-kata yang rumpang yang jawabannya telah disediakan.
PEMBELAJARAN TIME TOKEN
- MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN
Model
pembelajaran Time Token Arends merupakan salah satu contoh kecil dari penerapan
pembelajaran yang demokratis di sekolah. Proses pembelajaran yang demokratis
adalah proses belajar yang menempatkan siswa sebagai subyek. Mereka harus
mengalami sebuah perubahan ke arah yang lebih positif. Dari yang tidak bisa
menjadi bisa, dari tidak paham menjadi paham, dan dari tidak tahu menjadi tahu.
Di sepanjang proses belajar itu, aktivitas siswa menjadi titik perhatian utama.
Dengan kata lain mereka selalu dilibatkan secara aktif. Guru dapat berperan
untuk mengajak siswa mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ditemui.
Model ini digunakan (Arends, 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan
sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Guru
memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per kupon pada tiap
siswa. Sebelum berbicara, siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu pada guru.
Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran
dengan siswa lainnya. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi.
Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis.
B.
LANGKAH MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN ARENDS
Adapun langkah-langkah dari model pembelajaran Time Token Arends ini adalah
sebagai berikut :
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/ KD.
2. Guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi klasikal.
3. Guru memberi tugas pada siswa.
4. Guru memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per kupon pada
tiap siswa.
5. Guru meminta siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu sebelum berbicara atau
memberi komentar. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi
setelah bergiliran dengan siswa lainnya. Siswa yang telah habis kuponnya tak
boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua
kuponnya habis. Demikian seterusnya hingga semua anak berbicara.
6. Guru memberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan tiap siswa
(Pada RPP ini, tiap siswa maju ke depan untuk membacakan puisi secara
bergiliran dan siswa yang lain mengomentari puisi yang dibaca siswa dengan
menggunakan kupon berbicara)
C.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN ARENDS
Kelebihan Model Time Token Arends
– Mendorong siswa untuk meningkatkan inisiatif dan partisipasinya.
– Siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali
– Siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran
– Meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi (aspek berbicara)
– Melatih siswa untuk mengungkapkan pendapatnya.
– Menumbuhkan kebiasaan pada siswa untuk saling mendengarkan, berbagi,
memberikan masukan dan keterbukaan terhadap kritik
– Mengajarkan siswa untuk menghargai pendapat orang lain.
– Guru dapat berperan untuk mengajak siswa mencari solusi bersama terhadap
permasalahan yang ditemui.
– Tidak memerlukan banyak media pembelajaran.
Kekurangan Model Time Token Arends
– Hanya dapat digunakan untuk mata pelajaran tertentu saja.
– Tidak bisa digunakan pada kelas yang jumlah siswanya banyak.
– Memerlukan banyak waktu untuk persiapan dan dalam proses pembelajaran, karena
semua siswa harus berbicara satu persatu sesuai jumlah kupon yang dimilikinya.
– Siswa yang aktif tidak bisa mendominasi dalam kegiatan pembelajaran
Model
Pembelajaran Time Token sangat tepat untuk pembelajaran struktur yang dapat
digunakan untuk mengajarkan keterampilan sosial, untuk menghindari siswa
mendominasi pembicaraan atau siswa diam sama sekali.
Model pembelajaran time token adalah model pembelajaran yang digunakan dengan
tujuan agar siswa aktif berbicara. Dalam pembelajaran diskusi, time token
digunakan agar siswa aktif bertanya dalam berdiskusi. Dengan membatasi waktu
berbicara misalnya 30 detik, diharapkan siswa secara adil mendapatkan
kesempatan untuk berbicara.
D.
Langkah-Langkah Model Pembelajaran Time Token
Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD.
2. Guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi (cooperative learning /
CL).
3. Tiap siswa diberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per
kupon. Tiap siswa diberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan.
4. Bila telah selesai bicara kupon yang dipegang siswa diserahkan. Setiap
tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan
siswa lainnya.
5. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih
memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis.
6. Demikian seterusnya.
MODEL PEMBELAJARAN ROUND CLUB ATAU
KELILING KELOMPOK
Model Pembelajaran Round Club Atau
Keliling Kelompok adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk
bekerjasama saling membantu mengkontruksi konsep. Menyelesaikan persoalan atau
inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif
(kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4-5 orang, siswa
heterogen (kemampuan gender, karakter) ada control dan fasilitasi, serta
meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.
Model pembelajaran ini dimaksudkan
agar masing-masing anggota kelompok mendapat serta pemikiran anggota lain.
v Kelebihan Round Club
Atau Keliling Kelompok
1) Adanya
tanggung jawab setiap kelompok
2) Adanya
pemberian sumbnagan ide pada kelompoknya
3) Lebih
dari sekedar belajar kelompok
4) Bisa
saling mendengarkan dan mengutarakan pendapat, pandangan serta hasil pemikiran
5) Hasil
pemikiran beberapa kepala lebih kaya dari pada satu kepala
6) Dapat
membina dan memperkaya emosional
v Kekurangan Round Club
Atau Keliling Kelompok
1) Banyak
waktu yang terbuang dalam pembelajaran keliling kelompok
2) Suasana
kelas menjadi rebut
3) Tidak
dapat diterapkan pada mata pelajaran yang memerlukan pengayaan
v Langkah-langkah
pembelajaran
1) Guru
menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompotensi dasar
2) Guru
membagi siswa menjadi kelompok
3) Guru
memberikan tugas atau lembar kerja
4) Salah
satu siswa dalam masing-masing kelompok menilai dengan memberikan pandangan dan
pemikiran mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan
5) Siswa
berikutnya juga ikut memberikan kontribusinya
6) Demikian
seterusnya giliran bicara bisa dilaksanakan arah perputaran jarum jamk atau
dari kiri ke kanan
v unsur-unsur yang perlu
diperhatikan
1) Setiap
kelompok mendapat kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka
2) Ketika
suatu kelompok mempresentasikan hasil dari deskripsinya, maka kelompok lain
lebih bertanya dari hasil deskripsi materinya
3) Setelah
selesai dari kelompok yang satu maka yang lainnya atau kelompok selanjutnya
yang mempresentasikan dan yang alinnya bisa mengajukan pandangan dan pemikiran
anggota lainnya
4) Kegiatan
tersebut terus-menerus sampai kelompok yang terakhir yang silaksanakan arah
perputaran jarum jam
Contoh RPP model pembelajaran ini :
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP)
Mata Pelajaran
: Ilmu Pengetahuan
Alam (IPA )
Tema
: Perubahan Sifat Benda
Kelas/Semester
: V/II
Alokasi Waktu
: 2 X 35 Menit
A. Standar Kompetensi
Mengenal berbagai macam perubahan sifat-sifat benda
B. Kompotensi Dasar
Mengetahui perubahan sifat ada yang dapat kembali dan ada yang tidak dapat
kembali ke wujud semula.
C. Indikator
1. Menjelaskan perubahan sifat benda dan factor-faktor yang
mempengaruhinya
2. Mengetahui sifat-sifat benda
3. Menjelaskan macam –macam perubahan sifat benda
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mengetahui perubahan sifat benda dan factor-faktor
yang
mempengaruhinya
- Siswa dapat mengetahui sifat-sifat benda
- Siswa dapat mengetahui macam-macam perubahan sifat
benda.
E. Materi Pokok
Perubahan sifat-sifat benda
F. Metode Pembelajaran
- Ceramah
- Tanya jawab
- Demosntrasi
- Tugas kelompok
- Evaluasi
G. Sumber dan Media
Pembelajaran
a.
Sumber
1.Buku IPA saling Temas, kelas 5,
Penerbit Intan Pariwara
2.Buku Sains IPA, kelas 5, Penerbit Erlangga
b. Media Pembelajaran
Bahan-bahan buat percobaan seperti :
1. Tanah
liat
6. Buah
2. Batu
bara
7. Paku
3. Kertas
8. Air
4. Korek
api
9. Gula
5. Lilin
H. Langkah-langkah
Pembelajaran
1. Kegiatan awal ( ± 5
menit )
a. Guru
memberi salam, berdo’a, menanyakan kabar siswa dan mengabsen siswa.
b. Guru
dan siswa menyiapkan materi atau bahan pelajaran
c. Guru
memberitahukan indicator dan tujuan yang akan di capai setelah pembelajaran
d. Guru
melakukan apersepsi dengan cara tanya jawab
2. Kegiatan Inti (± 60
menit )
a. Guru
menjelaskan materi pelajaran
b. Guru
memberikan contoh bagaimana perubahan sifat benda tersebut
c. Guru
menjelaskan sifat-sifat benda seperti bentuk, warna, kelenturan, kekerasan dan
bau
d. Guru
menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi perubahan sifat benda
e. Guru
mendemostrasikan bagaimana penyebab perubahan sifat benda itu dapat
terjadi
f. Guru
menjelaskan dan mendemostrasikan macam-macam perubahan sifat benda
g. Guru
mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa secara lisan
h. Guru
membagi siswa menjadi beberapa kelompok
i. Siswa
disuruh untuk mengisi table-tabel yang ada di buku paket hal.71 dan 74 dan
menyalinnya di buku tugas.
j. Siswa
disuruh memberikan pandangan dan pemikiran mengenai tugas yang sedang mereka
kerjakan
k. Siswa
dalam kelompok lain juga disuruh ikut memberikan kontribusinya dan dilaksanakan
searah dengan perputaran jarum jam atau dari kiri ke kanan.
- Kegiatan akhir (± 5 menit )
a. Guru
memberikan motivasi dan penguatan
b. Guru
dan siswa bersama-sama menyimpulkan tentang materi yang dipelajarinya.
c. Guru
melakukan evaluasi dengan memberikan soal-soal untuk PR
d. Guru
menutup pelajaran
I. Penilaian
Penilaian dilakukan dengan tes dan tulisan
- Tes lisan : – ketepatan jawaban
–
keseriusan dan konsentrasi dalam menyimak
Bentuk tes : Tanya jawab
- Tes tertulis : – tugas kelompok
– evaluasi
Bentuk istrumen : tes isian
J. Evaluasi
SOAL :
1. Proses perubahan dari cair ke
padat disebut ?
a. menguap
b. membeku
c. menyublim
d. mencair
e. mengembun
Sumber :
PAIR CECKS SPENCER KAGEN 1993
A. Pengertian
Pair check (pasangan mengecek) adalah model pembelajaran berkelompok atau
berpasangan yang dipopulerkan oleh Spencer Kagen tahun 1993. Model ini
menerapkan pembelajaran berkelompok yang menuntut kemandirian dan kemampuan
siswa dalam menyelesaikan persoalan yang diberikan. Banyak kelebihan maupun
kelemahan.
Satu lagi Model Pembelajaran siswa berpasangan, yaitu Pair Check. Model
pembelajaran ini juga untuk melatih rasa sosial siswa, kerja sama dan kemampuan
memberi penilaian.
B. prinsip model pembelajaran Pair Cheks
prinsipnya adalah sebagai berikut :
1. Siswa berkelompok berpasangan sebangku,
2. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan,
3. pengecekan kebenaran jawaban,
4. bertukar peran
4. penyimpulan,
5. evaluasi
6. refleksi.
Berikut ini langkah dari model pair
check
1. Guru menjelaskan konsep
2. Siswa dibagi beberapa tim. Setiap tim terdiri dari 4 orang. Dalam satu ti
ada 2 pasangan. Setiap pasangan dalam satu tim ada yang menjadi pelatih dan ada
yang patner.
3. Guru membagikan soal kepada si patner
4. Patner menjawab soal , dan si pelatih bertugas mengecek jawabannya. Setiap
soal yang benar pelatih memberi kupon.
5. Bertukar peran. Si pelatih menjadi patner dan si patner menjadi pelatih
6. Guru membagikan soal kepada si patner
7. Patner menjawab soal , dan si pelatih bertugas mengecek jawabannya. Setiap
soal yang benar pelatih memberi kupon.
8. Setiap pasangan kembali ke tim awal dan mencocokkan jawaban satu sama lain.
9. Guru membimbing dan memberikan arahan atas jawaaban dari berbagai soal dan
tim mengecek jawabannya.
10. Tim yang paling banyak mendapat kupon diberi hadiah
C. Langkah-langkah Pembelajarannya,
sebagai berikut :
1). Bekerja Berpasangan
Guru membentuk tim berpasangan berjumlah 2 (dua) siswa. Setiap pasangan
mengerjakan soal yang pas sebab semua itu akan membantu melatih siswa dalam
menilai.
2). Pelatih Mengecek
Apabila patner benar pelatih memberi kupon.
3). Bertukar Peran
Seluruh patner bertukar peran dan mengulangi langkah 1 – 3.
4). Pasangan Mengecek
Seluruh pasangan tim kembali bersama dan membandingkan jawaban.
5). Penegasan Guru
Guru mengarahkan jawaban /ide sesuai konsep.
Demikianlah, mudah-mudahan postingan ini dapat menambah khasanah pembelajaran
kita sehingga pembelajaran yang dirancang Bapak/Ibu Guru dapat lebih
bervariatif, lebih bermakna, menantang sekaligus menyenangkan.
D. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihannya
1. Dipandu belajar melalui bantuan rekan
2. Menciptakan saling kerjasama di antara siswa
3. Increases comprehension of concepts and/or processesMeningkatkan pemahaman
konsep dan / atau proses
4. menmemenimelatih berkomunikasi
Kekurangannya
1. memerlukan banyak waktu
2. memerlukan pemahaman yang tinggi terhadap konsep untuk menjadi pelatih.
Model Pembelajaran Tari Bambu
Model Pembelajaran Tari
Bambu mempunyai tujuan agar siswa saling berbagi informasi pada saat
yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dalam waktu singkat secara teratur,
strategi ini cocok untuk materi yang membutuhkan pertukaran pengalaman pikiran
dan informasi antar siswa.Meskipun namanya Tari Bambu tetapi tidak
menggunakan bambu. Siswa yang berjajarlah yang diibaratkan sebagai bambu.
Langkah-Langkah pembelajarannya sebagai berikut :
- Separuh kelas atau seperempat jika jumlah siswa terlalu
banyak berdiri berjajar . Jika ada cukup ruang mereka bisa berjajar di
depan kelas. Kemungkinan lain adalah siswa berjajar di sela-sela deretan
bangku. Cara yang kedua ini akan memudahkan pembentukan kelompok karena
diperlukan waktu relatif singkat.
- Separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran
yang pertama
- Dua siswa yang berpasangan dari kedua jajaran berbagi
sinformasi.
- Kemudian satu atau dua siswa yang berdiri di ujung
salah satu jajaran pindah ke ujung lainnya di jajarannya. Jajaran ini
kemudian bergeser. Dengan cara ini masing-masing siswa mendapat pasangan
yang baru untuk berbagi. Pergeseran bisa dilakukan terus sesuai dengan
kebutuhan..
PEMBELAJARAN OTENTIK (OUTENTIC
LEARNING)
1. Pengertian
Menurut definisi, “belajar otentik” berarti pembelajaran yang menggunakan
masalah dunia nyata dan proyek-proyek dan yang memungkinkan siswa untuk
mengeksplorasi dan membahas masalah-masalah ini dengan cara yang relevan untuk
mereka.
Pendekatan ini sangat berbeda dari
kelas tradisional “kuliah”, di mana profesor memberikan fakta-fakta mahasiswa
dan konten lain yang siswa kemudian harus menghafalkan dan ulangi pada tes.
misalnya, siswa tidak hanya harus terhubung sejarah pasca-Perang Sipil untuk
peristiwa terkini dan kehidupan mereka sendiri, mereka juga harus membantu
mengajar kelas dan didorong untuk memberikan pandangan mereka sendiri pada
peristiwa sejarah. Akibatnya, mereka menjadi sejarawan.
Otentik belajar juga merupakan
pendekatan untuk pembelajaran yang kokoh didasarkan pada penelitian tentang
belajar dan kognisi. Satu secara luas teori belajar diadakan, konstruktivisme,
mendalilkan bahwa siswa belajar terbaik dengan terlibat dalam tugas-tugas
belajar otentik, dengan mengajukan pertanyaan, dan dengan menggambar pada
pengalaman masa lalu. Singkatnya, untuk belajar terjadi bagi siswa, itu harus
dilakukan dengan cara dan di tempat yang relevan dengan “nyata” kehidupan
mereka, baik di dalam maupun di luar kelas.
Pembelajaran otentik (authentic
learning) adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa
menggali, mendiskusikan, dan membangun secara bermakna konsep-konsep dan
hubungan-hubungan, yang melibatkan masalah nyata dan proyek yang relevan dengan
siswa (Donovan, Bransford & Pallegrino, 1999). Istilah ‘otentik’ berarti
asli, sejati, dan nyata (Webster’s Revised Unabridged Dictionary, 1998).
Pembelajaran ini dapat digunakan untuk siswa pada semua tingkatan kelas, maupun
siswa dengan berbagai macam tingkat kemampuan.
belajar otentik merupakan pendekatan
pedagogis yang memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi, berdiskusi, dan penuh
arti membentuk konsep dan hubungan dalam konteks yang melibatkan dunia nyata
masalah dan proyek-proyek yang relevan dengan peserta didik (Donovan,
Bransford, & Pellegrino, 1999). Istilah yang otentik didefinisikan sebagai
asli, benar, dan nyata (Webster’s Revisi lengkap Dictionary , 1998). Kamus,
1998Jika belajar adalah otentik, maka siswa harus terlibat dalam masalah
belajar asli yang mendorong kesempatan bagi mereka untuk membuat koneksi
langsung antara material baru yang sedang dipelajari dan pengetahuan mereka
sebelumnya. Jenis pengalaman akan meningkatkan motivasi siswa. Bahkan, sebuah
“tidak adanya keterlibatan yang berarti keturunan rendah di sekolah dan
menghambat [belajar] transfer” (Newmann, Secada, & Wehlage, 1995). Siswa
harus mampu menyadari bahwa prestasi mereka peregangan luar dinding kelas.
Mereka membawa ke pengalaman kelas, pengetahuan, keyakinan, dan keingintahuan
dan belajar otentik menyediakan sarana untuk menjembatani elemen-elemen dengan
kelas belajar. Siswa tidak lagi hanya mempelajari fakta-fakta hafalan dalam situasi
abstrak atau buatan, tetapi mereka pengalaman dan informasi digunakan dalam
cara-cara yang didasarkan pada realitas. Kekuatan sebenarnya dari pembelajaran
otentik adalah kemampuan untuk secara aktif melibatkan siswa dan menyentuh
motivasi intrinsik mereka (Mehlinger, 1995).
instruksi Otentik akan mengambil
bentuk yang jauh berbeda daripada metode tradisional pengajaran. Literatur
menunjukkan bahwa pembelajaran otentik memiliki beberapa karakteristik kunci.
• Belajar adalah berpusat pada tugas-tugas otentik yang menarik bagi peserta
didik.
• Siswa terlibat dalam eksplorasi dan penyelidikan.
• Belajar, paling sering, adalah interdisipliner.
• Belajar sangat erat hubungannya dengan dunia di luar dinding kelas.
• Siswa menjadi terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan-order kemampuan
berpikir lebih tinggi, seperti menganalisis, sintesis, merancang, memanipulasi
dan mengevaluasi informasi.
• Siswa menghasilkan produk yang bisa dibagi dengan pemirsa di luar kelas.
• Belajar adalah siswa didorong dengan guru, orang tua, dan para ahli di luar
semua membantu / pembinaan dalam proses pembelajaran.
• Pembelajar menggunakan perancah teknik.
• Siswa memiliki peluang untuk wacana sosial.
(Donovan et al;., 1999 Newman & Associates, 1996; Newmann et al;., 1995
Nolan & Francis, 1992).
2. Prinsip Pembelajaran Otentik
pengalaman belajar otentik menganut prinsip yaitu:
• Ruang kelas ber-berpusat. Pada berpusat-kelas pelajar, fakultas memperhatikan
apa yang siswa membawa mereka ke dalam kelas, masing-masing pengetahuan, keterampilan,
sikap, dan keyakinan. Siswa didorong untuk mengajukan pertanyaan, terlibat
dalam wacana sosial, dan menemukan jawaban mereka sendiri Dalam pengaturan ini,
peran profesor bergerak lebih dari seorang “konstruktor-co” pengetahuan dari
pemberi konten.. Marc Richards pernyataan bahwa “Pada akhirnya, kita semua akan
sejarawan profesional, pelajar, dan guru bersama-sama” menggambarkan bagaimana
ia struktur kelas untuk menjadi pembelajar berpusat. Juni Dodd juga menegaskan
bahwa peserta didik dia mengambil tengah panggung di kedua membangun dan
program pengajaran dan mereka sendiri “mini” kursus.
• Mahasiswa adalah pembelajar aktif. Sama seperti peran perubahan profesor,
peran mahasiswa harus berubah sehingga mereka melakukan lebih dari pasif duduk
dan mendengarkan ceramah profesor mereka. Mereka harus menjadi peserta aktif
dalam proses pembelajaran, dengan menulis, membahas, menganalisis dan
mengevaluasi informasi. Singkatnya, siswa harus mengambil tanggung jawab lebih
untuk pembelajaran mereka sendiri, dan menunjukkan kepada profesor mereka
dengan cara lain dari pada ujian. mahasiswa Marc Geisler, misalnya, menunjukkan
pemahaman mereka tentang Shakespeare dengan melakukan interpretasi kelompok
mereka sendiri dan kinerja Pekerjaan Bard’s. Tag Stan juga berpendapat bahwa
“siswa harus ditantang untuk membuat seni, untuk membuat, untuk melakukan, dan
untuk berpartisipasi dalam humaniora melalui karya mereka sendiri, bukan hanya
dengan mempelajari apa yang orang lain lakukan.”
• Ini menggunakan tugas yang otentik. Ini mungkin tampak jelas, tetapi
pengalaman belajar otentik harus menggabungkan tugas-tugas otentik. Ini adalah
tugas, yang, sebisa mungkin, memiliki “dunia nyata” yang berkualitas untuk
mereka dan siswa menemukan orang yang relevan dengan kehidupan mereka. siswa
Juni Dodd mengambil peran instruktur dalam Pengantar ke kelas Pendidikan Jarak
Jauh, bergiliran isi kursus mengajar satu sama online lainnya, dan membuat
program mereka sendiri secara online berdasarkan proses desain instruksional.
Profesor Dodd bekerja dengan masing-masing siswa untuk menyesuaikan proyek ini
berdasarkan kerja masa lalu mereka dan pengalaman pendidikan serta potensi
untuk pengiriman aktual instruksi dalam kehidupan profesional mereka.
3. Ciri Pembelajaran Otentik
Pembelajaran otentik sangat berbeda dengan metode-metode pembelajaran yang
tradisional. Ciri-ciri pembelajaran otentik:
• Belajar berpusat pada tugas-tugas otentik yang menggugah rasa ingin tahu
siswa. Tugas otentik berupa pemecahan masalah nyata yang relevan dengan kehidupan
siswa;
• Siswa terlibat dalam kegiatan menggali dan menyelidiki;
• Belajar bersifat interdisipliner;
• Belajar terkait erat dengan dunia di luar dinding ruang kelas;
• Siswa mengerjakan tugas rumit yang melibatkan kecakapan berpikir tingkat
tinggi, seperti menganalisis, mensintesis, merancang, mengolah dan mengevaluasi
informasi;
• Siswa menghasilkan produk yang dapat dibagikan kepada audiens di luar kelas;
• Belajar bersifat aktif dan digerakkan oleh siswa sendiri, sedangkan guru,
orangtua, dan narasumber bersifat membantu atau mengarahkan;
• Guru menerapkan pemberian topangan (scaffolding), yaitu memberikan bantuan
seperlunya saja dan membiarkan siswa bekerja secara bebas manakala mereka
sanggup melakukannya sendiri;
• Siswa berkesempatan untuk terlibat dalam wacana dalam masyarakat;
• Siswa bekerja dengan banyak sumber;
• Siswa seringkali bekerja bersama dan mempunyai kesempatan luas untuk
berdiskusi dalam rangka memecahkan masalah.
4. Kesimpulan
belajar otentik merupakan pendekatan pedagogis yang memungkinkan siswa untuk
mengeksplorasi, berdiskusi, dan penuh arti membentuk konsep dan hubungan dalam
konteks yang melibatkan dunia nyata masalah dan proyek-proyek yang relevan
dengan peserta didik. Istilah yang otentik didefinisikan sebagai asli, benar,
dan nyata (Webster’s Revisi lengkap Dictionary , 1998). Jika belajar adalah
otentik, maka siswa harus terlibat dalam masalah belajar asli yang mendorong
kesempatan bagi mereka untuk membuat koneksi langsung antara material baru yang
sedang dipelajari dan pengetahuan mereka sebelumnya. Jenis pengalaman akan
meningkatkan motivasi siswa. Bahkan, sebuah “tidak adanya keterlibatan yang
berarti keturunan rendah di sekolah dan menghambat [belajar] transfer”
(Newmann, Secada, & Wehlage, 1995). Siswa harus mampu menyadari bahwa
prestasi mereka peregangan luar dinding kelas. Mereka membawa ke pengalaman
kelas, pengetahuan, keyakinan, dan keingintahuan dan belajar otentik
menyediakan sarana untuk menjembatani elemen-elemen dengan kelas belajar. Siswa
tidak lagi hanya mempelajari fakta-fakta hafalan dalam situasi abstrak atau
buatan, tetapi mereka pengalaman dan informasi digunakan dalam cara-cara yang
didasarkan pada realitas. Kekuatan sebenarnya dari pembelajaran otentik adalah
kemampuan untuk secara aktif melibatkan siswa dan menyentuh motivasi intrinsik
mereka (Mehlinger, 1995).
instruksi Otentik akan mengambil bentuk yang jauh berbeda daripada metode
tradisional pengajaran.
5. Kelebihan dan Kekurangan
a. Kelebihan
– Siswa tidak merasa jenuh terhadap pembelajaran karena pembelaaran dapat
terjadi dimana saja.
– Siswa mempunyai keterampilan yang lebih dalam menganalisis wacana social
– Siswa mempunyai pengalaman belajar yang mumpuni dalam berinteraksi dengan
lingkungan sekitarnya
– Pembelajaran berpusat pada siswa, sehingga memungkinkan siswa memahami materi
secara utuh
b. Kekurangan
– Pembelajaran Otentik cenderung hanya dapat dilakukan pada siswa yang memiliki
taraf intelegensi diatas rata-rata sehingga pembelajaran berjalan secara aktif
– Tidak semua materi pelajaran dapat menggunakan pembelajaran otentik, karena
materi yang sesuai dengan pembelajaran otentik bersifat studi social
– Memerlukan waktu, biaya, dan tenaga ektra dari siswa untuk melaksanakannya.
Model Pembelajaran Numbered Head
Together (NHT)
Model Pembelajaran Numbered Head
Together (NHT)
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
NHT
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan
adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk
mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok
kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat
secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal
ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni
mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah.
Pembelajaran kooperatif tipe NHT
merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur
khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki
tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen
dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang
tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi
pelajaran tersebut.
Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran
kooperatif dengan tipe NHT yaitu :
1. Hasil belajar akademik stuktural
Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
2. Pengakuan adanya keragaman
Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai
latar belakang.
3. Pengembangan keterampilan social
Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.
Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya,
menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja
dalam kelompok dan sebagainya.Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT
merujuk pada konsep Kagen dalam Ibrahim (2000: 29), dengan tiga langkah yaitu :
a) Pembentukan kelompok;
b) Diskusi masalah;
c) Tukar jawaban antar kelompok
Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh Ibrahim (2000: 29) menjadi
enam langkah sebagai berikut :
Langkah 1. Persiapan
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario
Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model
pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Langkah 2. Pembentukan kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif
tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan
3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama
kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau
dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar.
Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test)
sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.
Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan
Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku
panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang
diberikan oleh guru.
Langkah 4. Diskusi masalah
Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan
yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk
menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari
pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh
guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang
bersifat umum.
Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok
dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di
kelas.
Langkah 6. Memberi kesimpulan
Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang
berhubungan dengan materi yang disajikan.
Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa
yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh Lundgren dalam Ibrahim (2000:
18), antara lain adalah :
Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
1. Memperbaiki kehadiran
2. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar
3. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
4. Konflik antara pribadi berkurang
5. Pemahaman yang lebih mendalam
6. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
7. Hasil belajar lebih tinggi
Kelebihan dan kekurangan model
pembelajaran Numbered Heads Together adalah sebagai berikut :
Kelebihan:
– Setiap siswa menjadi siap semua
– Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
– Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.
Kelemahan:
– Tidak terlalu cocok untuk jumlah siswa yang banyak karena membutuhkan waktu
yang lama..
– Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru
KESIMPULAN
Model pembelajaran ini baik digunakan karena model ini mengajarkan kepada siswa
untuk lebih siap dalam menguasai materi serta belajar menerima keanekaragaman
dengan kelompok lain, karna dalam model ini siswa dituntut untuk berdiskusi
untuk memecahkan suatu masalah.
Pada dasarnya tidak ada model pembelajaran yang cocok untuk setiap pokok
bahasan, karena setia model atau metode mengajar masing-masing memiliki
kelebihan dan kekurangan oleh karenanya guru dituntut untuk pandai memilih
model pembelajaran yang sesuai.
Model Pembelajaran Inquiry
Model Pembelajaran Inquiry
Pembelajaran berdasarkan inquiry
merupakan seni penciptaan situasi-situasi sedemikian rupa sehingga siswa
mengambil peran sebagai ilmuwan. Dalam situasi-situasi ini siswa
berinisiatif untuk mengamati dan menanyakan gejala alam, mengajukan
penjelasan-penjelasan tentang apa yang mereka lihat, merancang dan melakukan
pengujian untuk menunjang atau menentang teori-teori mereka, menganalisis data,
menarik kesimpulan dari data eksperimen, merancang dan membangun model, atau
setiap kontribusi dari kegiatan tersebut di atas.
Sund, seperti yang dikutip oleh
Suryosubroto dalam Trianto (2009) menyatakan bahwa, Inquiry merupakan perluasan
proses discovery, yang digunakan lebih mendalam, inkuiry yang dalam
bahasa InggrisInquiry berarti pertanyaan, atau pemeriksaan,
penyelidikan. Inkuiri sebagai suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk
mencari atau memahami informasi.
Gulo, (2005) menyatakan bahwa,
strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan
secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara
sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan
sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
Sasaran utama kegiatan pembelajaran
inkuiri adalah :
1. Keterlibatan
siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar
2. Keterarahan
kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan belajar
3. Mengembangkan
sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.
Kondisi Umum yang merupakan syarat
timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa adalah :
1. Aspek
sosial di kelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa berdiskusi.
2. Inkuiri
berfokus pada hipotesis
3. Penggunaan
fakta sebagai evidensi (informasi, fakta )
Untuk menciptakan kondisi seperti
itu, peranan guru adalah sebagai berikut:
1. Motivator,
memberi rangsangan agar siswa aktif dan bergairah berfikir.
2. Fasilitator,
menunjukkan jalan keluar jika siswa mengalami kesulitan
3. Penanya
, menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka buat
4. Administrator,
bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan kelas
5. Pengarah,
memimpin kegiatan siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan
6. Manajer,
mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas
7. Rewarder,
memberikan penghargaan pada prestasi yang dicapai siswa.
Pembelajaran inkuiri dirancang untuk
mengajak siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah kedalam waktu yang
relative singkat, Hasil penelitian Schlenker dalam joice dan weil (1992)
menunjukkan bahwa latihan inkuiri dapat meningkatkan pemahaman sains, produktif
dalam berfikir kreatif dan siswa menjadi trampil dalam memperoleh dan
menganalisis informasi.
Konsep Dasar Strategi Pembelajaran
Inquiry
Strategi pembelajaran inquiry adalah
rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara
kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban yang sudah
pasti dari suatu masalah yang dipertanyakan (Sanjaya, 2009). Proses berpikir
itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa.
Menurut Sanjaya (2009) bahwa
strategi pembelajaran inquiry, memiliki beberapa ciri utama, yaitu:
- Strategi Inquiry menekankan pada aktivitas siswa secara
maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inquiry menempatkan
siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran siswa tidak hanya
berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal,
akan tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi
pelajaran itu sendiri.
- Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk
mencari dan menemukan jawaban sendiri yang sifatnya sudah pasti dari
sesuatu yang sudah dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan
sifat percaya diri. Dalam strategi pembelajaran inquiry, guru bukan
sebagai sumber belajar tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar
siswa.
- Tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inquiry
adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan
kritis.
Strategi Pembelajaran Inkuri efektif
apabila :
1. Guru
mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang
ingin dipecahkan.
2. Jika
bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang
sudah jadi,akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
3. Jika
proses pembelajaran berangkat dari ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
4. Jika
akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemamuan dan
kemampuan berpikir.
5. Jika
siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
6. Jika
guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada
siswa.
Prinsip–prinsip Penggunaan Inquiri
Ada beberapa prinsip yang harus
diperhatikan dalam penggunaan inquiri menurut Sanjaya (2009).
1. Berorientasi
pada pengembangan intelektual
Tujuan utama dari strategi inquiri
adalah pengembangan kemampuan berfikir. Dengan demikian , strategi pembelajaran
ini selain berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada proses
belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan
menggunkan strategi inquiri bukan ditentukan sejauh mana siswa dapat menguasai
materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan
menemukan.
2. Prinsip
Interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya
adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa
dengan guru bahkan antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses
interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai
pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri.
3. Prinsip
Bertanya
Peran guru yang harus dilakukan
dalam menggunkaan model inquiri adalah guru sebagai penanya. Sebab kemampuan
siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian
dari proses berfikir.
4. Prinsip
Belajar untuk Berfikir
Belajar bukan hanya mengingat
sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berfikir (learning how to
think) yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri
maupun otak kanan. Pembelajaran berfikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak
secara maksimal.
5. Prinsip
Keterbukaan
Pembelajaran yang bermakna adalah
pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus
dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan
kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan
kebenaran hipotesis yang diajukan.
Pelaksanaan Pembelajaran Inkuiri
Gulo (2005) menyatakan bahwa,
inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh potensi
yang ada, termasuk pengembangan emosional dan keterampilan.
Secara umum proses pembelajaran SPI
dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1. Orientasi
Pada tahap ini guru melakukan
langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif. Hal yang
dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:
a. Menjelaskan
topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa
b. Menjelaskan
pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan.
Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah,
mulai dari langkah merumuskan merumuskan masalah sampai dengan merumuskan
kesimpulan
c. Menjelaskan
pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka
memberikan motivasi belajar siswa.
2. Merumuskan
masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah
membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang
disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka-teki itu.
Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk
mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting
dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan
memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental
melalui proses berpikir.
3. Merumuskan
hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara
dari suatu permasalahan yang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu
diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk
mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan
mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat
merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan
kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
4. Mengumpulkan
data
Mengumpulkan data adalah aktifitas
menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan.
Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang
sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan
hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan
ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.
5. Menguji
hipotesis
Menguji hipotesis adalah menentukan
jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh
berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan
kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan
hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang
ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Merumuskan
kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses
mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.
Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada
siswa data mana yang relevan.
Langkah – langkah menerapkan model
pembelajaran inquiry didalam kelas :
1. Membentuk
kelompok-kelompok inkuiri. Masing-masing kelompok dibentuk berdasarkan rentang
intelektal dan keterampilan-keterampilan social
2. Memperkenalkan
topik-topik inkuiri kepada semua kelompok. Tiap kelompok diharapkan memahami
dan berminat mempelajarinya.
3. Membentuk
posisi tentang kebijakan yang bertalian dengan topik, yakni pernyataan apa yang
harus dikerjakan. Mungkin terdapat satu atau lebih solusi yang diusulkan
terhadap masalah pokok.
4. Merumuskan
semua istilah yang terkandung di dalam proposisi kebijakan.
5. Menyelidiki
validitas logis dan konsisten internal pada proposisi dan unsur-unsur
penunjangnya.
6. Mengumpulkan
evidensi (bukti) untuk menunjang unsur-unsur proposes
7. Menganalisis
solusi solusi yang diusulkan dan mencari posisi kelompok
8. Menilai
proses kelompok.
Kemudian pendekatan inkuiri terbagi
menjadi tiga jenis berdasarkan besarnya intervensi guru terhadap siswa atau
besarnya bimbingan yang diberikan oleh guru kepada siswanya.
Ketiga jenis pendekatan inkuiri
tersebut adalah:
1. Inkuiri
Terbimbing (guided inquiry approach)
Pendekatan inkuiri terbimbing yaitu
pendekatan inkuiri dimana guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan
memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Guru mempunyai
peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya.
Pendekatan inkuiri terbimbing ini digunakan bagi siswa yang kurang
berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Dengan pendekatan ini siswa
belajar lebih beorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru hingga siswa
dapat memahami konsep-konsep pelajaran. Pada pendekatan ini siswa akan
dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik melalui
diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan masalah dan
menarik suatu kesimpulan secara mandiri.
Pada dasarnya siswa selama proses
belajar berlangsung akan memperoleh pedoman sesuai dengan yang diperlukan. Pada
tahap awal, guru banyak memberikan bimbingan, kemudian pada tahap-tahap
berikutnya, bimbingan tersebut dikurangi, sehingga siswa mampu melakukan proses
inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan dapat berupa
pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa agar
dapat memahami konsep pelajaran matematika. Di samping itu, bimbingan dapat
pula diberikan melalui lembar kerja siswa yang terstruktur. Selama
berlangsungnya proses belajar guru harus memantau kelompok diskusi siswa,
sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk dan scafoldingyang
diperlukan oleh siswa.
2. Inkuiri
Bebas (free inquiry approach).
Pada umumnya pendekatan ini
digunakan bagi siswa yang telah berpengalaman belajar dengan pendekatan
inkuiri. Karena dalam pendekatan inkuiri bebas ini menempatkan siswa
seolah-olah bekerja seperti seorang ilmuwan. Siswa diberi kebebasan menentukan
permasalahan untuk diselidiki, menemukan dan menyelesaikan masalah secara
mandiri, merancang prosedur atau langkah-langkah yang diperlukan.
Selama proses ini, bimbingan dari
guru sangat sedikit diberikan atau bahkan tidak diberikan sama sekali. Salah
satu keuntungan belajar dengan metode ini adalah adanya kemungkinan siswa dalam
memecahkan masalah open ended dan mempunyai alternatif
pemecahan masalah lebih dari satu cara, karena tergantung bagaimana cara mereka
mengkonstruksi jawabannya sendiri. Selain itu, ada kemungkinan siswa menemukan
cara dan solusi yang baru atau belum pernah ditemukan oleh orang lain dari
masalah yang diselidiki.
Sedangkan belajar dengan metode ini
mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:
a. Waktu yang
diperlukan untuk menemukan sesuatu relatif lama sehingga melebihi waktu yang
sudah ditetapkan dalam kurikulum,
b. Karena
diberi kebebasan untuk menentukan sendiri permasalahan yang diselidiki, ada
kemungkinan topik yang diplih oleh siswa di luar konteks yang ada dalam
kurikulum,
c. Ada
kemungkinan setiap kelompok atau individual mempunyai topik berbeda, sehingga
guru akan membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksa hasil yang diperoleh
siswa,
d. Karena
topik yang diselidiki antara kelompok atau individual berbeda, ada kemungkinan
kelompok atau individual lainnya kurang memahami topik yang diselidiki oleh
kelompok atau individual tertentu, sehingga diskusi tidak berjalan sebagaimana
yang diharapkan.
3. Inkuiri
Bebas yang Dimodifikasikan (modified free inquiry approach)
Pendekatan ini merupakan kolaborasi
atau modifikasi dari dua pendekatan inkuiri sebelumnya, yaitu: pendekatan
inkuiri terbimbing dan pendekatan inkuiri bebas. Meskipun begitu permasalahan
yang akan dijadikan topik untuk diselidiki tetap diberikan atau mempedomani
acuan kurikulum yang telah ada. Artinya, dalam pendekatan ini siswa tidak dapat
memilih atau menentukan masalah untuk diselidiki secara sendiri, namun siswa
yang belajar dengan pendekatan ini menerima masalah dari gurunya untuk
dipecahkan dan tetap memperoleh bimbingan. Namun bimbingan yang diberikan lebih
sedikit dari Inkuiri terbimbing dan tidak terstruktur.
Dalam pendekatan inkuiri jenis ini
guru membatasi memberi bimbingan, agar siswa berupaya terlebih dahulu secara
mandiri, dengan harapan agar siswa dapat menemukan sendiri penyelesaiannya.
Namun, apabila ada siswa yang tidak dapat menyelesaikan permasalahannya, maka
bimbingan dapat diberikan secara tidak langsung dengan memberikan contoh-contoh
yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi, atau melalui diskusi dengan
siswa dalam kelompok lain.
Keunggulan dan Kelemahan SPI
1. Keunggulan
:
a. SPI
merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek
kognitif kognitif,afektif dan psikomotor secara seimbang,sehingga pembelajaran
melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
b. SPI dapat
memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
c. SPI
merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi modern
yang menganggap belajar adalah proses perubahan.
d. SPI dapat
melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata.Artinya siswa
yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang
lemah dalam belajar.
2. Kelemahan
a. SPI
digunakan sebagai strategi pembelajaran,maka akan sulit mengontrol kegiatan dan
keberhasilan siswa
b. Strategi
ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dalam kebiasaan
siswa dalam belajar
c. Kadang
kadang dalam implementasimnya,memerlukan waktu yang panjang sehingga sering
guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
d. Selama ketentuan
keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi
pelajaran,maka SPI akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.
Pembelajaran dengan Metode Inkuiri
Suchman
Berdasarkan uraian pembelajaran
inkuiri umum, kita dapat melihat bahwa waktu dan sumber yang tersedia merupakan
permasalahan dalam pembelajaran. Menanggapi permasalahan ini, Richard Suchman
mengembangkan suatu pembelajaran inkuiri yang telah dimodifikasi. Hasil
penelitian yang telah dilakukan oleh Suchman tentang model inkuiri ini menunjukkan
bahwa keterampilan inkuiri siswa meningkat dan motivasi belajarnya juga
meningkat.
Dahlan dalam Trianto (2009)
menyatakan bahwa, Suchman berkeyakinan bahwa siswa akan menyadari tentang
proses penyelidikannya dan mereka dapat diajarkan tentang prosedur ilmiah
secara langsung. Selajutnya, Suchman berpendapat tentang pentingnya membawa
siswa pada sikap bahwa semua pengetahuan bersifat tentative. Joyce dalam
Trianto (2009) menyatakan, bahwa teori Suchman dapat dijabarkan sebagai berikut
:
1. Mengajak
siswa membayangkan seakan-akan dalam kondisi yang sebenarnya
2. Mengidentifikasi
komponen-komponen yang berada di sekeliling kondisi tersebut.
3. Merumuskan
permasalahan dan membuat hipotesis pada kondisi tersebut.
4. Memperoleh
data dari kondisi tersebut dengan membuat pertanyaan dan jawabannya “ya’
atau “tidak”.
5. Membuat
kesimpulan dari data-data yang diperolehnya.
Pembelajaran inkuiri dengan metode
Suchman menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada siswa
sebagai alternative untuk prosedur pengumpulan data.
Inkuiri Suchman seperti yang dikutip
oleh Kardi dalam Trianto(2009) mempunyai kelebihan, yaitu :
1. Penelitian
dapat diselesaikan dalam waktu satu periode pertemuan. Waktu yang singkat ini
memungkinkan siswa dapat mengalami siklus inkuiri dengan cepat, dan pelatihan
mereka akan terampil melakukan inkuiri.
2. Lebih
efektif dalam semua bidang
di dalam kurikulum.
Perbedaan utama antar inkuiri
Suchman dengan Inkuiri umum terletak pada proses pengumpulan data.
Suchman mengembangkan suatu motode
penemuan baru yang menuntun siswa mengumpulkan data melalui bertanya, maka dari
itu model pembelajaran inkuiri menurut Schuman harus memperhatikan :
1. Struktur
Sosial Pembelajaran. Suasana kelas yang nyaman merupakan hal yang penting dalam
pembelajaran inkuiri Suchman karena pertanyaan-pertanyaan harus berasal dari
siswa agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Kerja sama guru
dengan siswa, siswa dengan siswa diperlukan juga adanya dorongan secara aktif
dari guru dan teman. Dua atau lebih siswa yang bekerja sama dalam berfikir dan
bertanya, akan lebih baik hasilnya jika dibanding bila siswa bekerja sendiri.
2. Peran
Guru. Pembelajaran inkuiri Suchman, peran guru memonitor pertanyaan siswa untuk
mencegah agar proses inkuiri, tidak sama dengan permainan tebakan. Hal ini
memerlukan dua aturan penting, yaitu : Pertanyaan harus dapat dijawab “ya” atau
“tidak” dan harus diucapkan dengan suatu cara siswa dapat menjawab pertanyaan
tersebut dengan melakukan pengamatan; Pertanyaan harus disusun sedemikian rupa
sehingga tidak mengakibatkan guru memberikan jawaban pertanyaan tersebut,
tetapi mengarahkan siswa untuk menemukan jawabannya sendiri.
3. Sintaks
Pembelajaran Inkuiri. Dalam upaya menanamkan konsep , misalnya konsep IPA
Biologi pokok bahasan saling ketergantungan pada siswa, tidak cukup hanya
sekedar ceramah. Pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa diberi kesempatan
untuk tahu dan terlibat secara aktif dalam menemukan konsep-konsep dari
fakta-fakta yang dilihat dari lingkungan dengan bimbingan guru.
Pada penelitian ini tahapan
pembelajaran yang digunakan mengadaptasi dari tahapan pembelajaran inkuiri yang
dikemukakan oleh Eggen & Kauchak dalam Trianto (2009). Adapun tahapan
pembelajaran inkuiri sebagai berikut:
Tahap Pembejaran Inkuiri
|
Fase
|
Perilaku Guru
|
|
1. Menyajikan
pertanyaan atau masalah
|
Guru membimbing siswa
mengidentifikasi masalah dan masalah dituliskan di papan. Guru membagi siswa
dalam kelompok.
|
|
2. Membuat
hipotesis
|
Guru memberikan kesempatan pada
siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa
dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan
memproiritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan.
|
|
3. Merancang
percobaan
|
Guru memberikan kesempatan pada
siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan
dilakukan . Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan
|
|
4. Melakukan
percobaan untuk memperoleh informasi
|
Guru membimbing siswa mendapatkan
informasi melalui percobaan
|
|
5. Megumpulkan
dan menganilisis data
|
Guru memberi kesempatan kepada
setiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul.
|
|
6. Membuat
kesimpulan
|
Guru membimbing siswa dalam
membuat kesimpulan.
|
Kesimpulan
Gulo dalam Trianto (2009) menyatakan
bahwa, strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang
melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan
menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka
dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
Sasaran utama kegiatan pembelajaran
inkuiri adalah keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan
belajar, keterarahan kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan
belajar , mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang
ditemukan dalam proses inkuiri. Namun dalam penerapannya, pembelajaran inkuiri
ini memiliki kelemahan seperti adanya kesulitan dalam mengontrol siswa,
ketidaksesuaian kebiasaan siswa dalam belajar, kadang memerlukan waktu yang
panjang dalam pengimplementasiannya, dan sulitnya dalam implementasi yang
dilakukan oleh guru bila keberhasilan belajar bergantung pada siswa.
Langkah-langkah pembelajaran inkuiri
adalah sebagai berikut orientasi, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data, menguji hipotesis, merumuskan kesimpulan.
Metode Pembelajaran Struktural Analitik Sintetik (SAS)
Metode ini diprogramkan pemerintah
RI mulai tahun 1974. Regu yang dipimpin oleh Dr. A.S. Broto pada waktu itu
telah menghasilkan Metode SAS. Menurut A.S. Broto khususnya disediakan untuk
belajar membaca dan menulis permulaan di kelas permulaan SD. Lebih luas lagi
Metode SAS dapat dipergunakan dalam berbagai bidang
pengajaran. Dalam proses operasionalnya metode SAS mempunyai langkah-langkah
berlandaskan operasional dengan urutan : Struktural menampilkan keseluruhan;
Analitik melakukan proses penguraian; Sintetik melakukan penggabungan kembali
kepada bentuk Struktural semula. Landasan linguistiknya bahwa itu ucapan bukan
tulisan, unsur bahasa dalam metode ini ialah kalimat; bahwa bahasa Indonesia
mempunyai struktur tersendiri. Landasan pedagogiknya; (1) mengembangkan potensi
dan pengalaman anak, (2) membimbing anak menemukan jawab suatu masalah.
Landasan psikologisnya : bahwa pengamatan pertama bersifat global (totalitas)
dan bahwa anak usia sekolah memiliki sifat melit (ingin tahu).
Prosedur penggunaan Metode SAS
1. Mula membaca permulaan dijadikan
dua bagian
Bagian pertama Membaca permulaan tanpa buku
Bagian pertama Membaca permulaan buku
2. Merekam bahasa anak melalui pertanyaan-pertanyaan dari pengajar sebagai
kontak permulaan.
3. Menampilkan gambar sambil bercerita. Setiap kali gambar diperlihatkan,
muncullah kalimat anak-anak yang sesuai dengan gambar.
4. Membaca kalimat secara structural
5. Membaca permulaan dengan buku
6. Membaca lanjutan
7. Membaca dalam hati
Segi baiknya
a. Metode ini dapat sebagai landasan berpikir analisis.
b. Dengan langkah-langkah yang diatur sedemikian rupa membuat anak mudah
mengikuti prosedur dan akan dapat cepat membaca pada kesempatan berikutnya
c. Berdasarkan landasan linguistik metode ini akan menolong anak. menguasai
bacaan dengan lancar.
Segi lemahnya
1) Metode SAS mempunyai kesan bahwa pengajar harus kreatif dan terampil serta
sabar
Tuntutan semacam ini dipandang sangat sukar untuk kondisi pengajar saat ini.
2) Banyak sarana yang harus dipersiapkan untuk pelaksanaan metode ini untuk
sekolah sekolah tertentu dirasa sukar.
3) Metode SAS hanya untuk konsumen pembelajar di perkotaan dan tidak di
pedesaan
4) Oleh karena agak sukar menganjarkan para pengajar metode SAS maka di
sana-sini Metode ini tidak dilaksanakan.
Teknik pelaksanaan Metode SAS ialah keterampian memilih kata kartu kata dan
kartu kalimat. Sementara anak-anak mencari huruf, suku kata, kata., pengajar
dengan sebagian anak yang lain. Menempel-empelkan kata kata yang tersusun
menjadi kalimat yang berarti. Begitu seterusnya sehingga semua anak mendapat
giliran untuk menyusun kalimat, membacanya dan yang paling mengutpnya sebagai
ketreampilan menulis. Media lain selain papan tulis, papan panel, papn tali,
OHP (Over Head Projector) dapat juga digunakan.
Metode Struktural Analitik Sintetik
Menurut Supriyadi (1996) pengertian metode SAS adalah suatu pendekatan cerita
yang disertai dengan gambar, yang didalamnya terkandung unsur struktur analitik
sintetik. Metode SAS menurut Djauzak (1996) adalah suatu metode pembelajaran
menulis permulaan yang didasarkan atas pendekatan cerita yakni cara memulai
mengajar menulis dengan menampilkan cerita yang diambil dari dialog siswa dan
guru atau siswa dengan siswa.
Teknik pelaksanaan pembelajaran metode SAS yakni keterampilan menulis huruf,
kartu suku kata, kartu kata dan kartu kalimat. Proses operasional metode SAS
mempunyai langkah-angkah dengan urutan sebagai berikut :
(1) Struktur yaitu menampilkan
keseluruhan,
(2) Analitik
yaitu melakukan proses penguraian,
(3) Sintetik yaitu melakukan
penggabungan pada struktur semula. Demikian langkah-langkah yang dapat
dilakukan dalam pembelajaran menulis permulaan dengan metode SAS, sehingga
hasil belajar itu benar-benar menghasilkan Struktur Analitik Statis. (Subana :
176).
Kegiatan pembelajaran menulis
permulaan dengan metode Struktural
Analitik Sintetik (SAS) dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Guru bercerita atau berdialog
dengan siswa.
2. Memperlihatkan gambar yang berhubungan dengan isi cerita.
3. Menulis beberapa kalimat sebagai kesimpulan dari isi cerita.
4. Menulis satu kalimat yang diambil dari isi cerita.
5. Menulis kata-kata sebagai uraian dari kalimat.
6. Menulis suku-suku kata sebagai uraian dari kata-kata.
7. Menuliskan huruf –huruf sebagai uraian dari suku-suku kata.
8. Mensintesiskan huruf-huruf menjadi suku-suku kata.
9. Menyatukan kata-kata menjadi kalimat.
Agar siswa memiliki kemampuan
menulis, maka setiap langkah tersebut
dilakukan oleh siswa dengan cara menyalin tulisan yang ditulis guru dalam
setiap
langkah pembelajaran.
Demikian langkah-langkah yang dilakukan dalam menulis permulaan
dengan metode SAS sehingga hasil belajar ini benar-benar menghasilkan struktur
analitik sintetik.
Bagaimana menunjukkan bahwa untuk menentukan jenis tulisan yang
harus diajarkan pada saat siswa belajar menulis permulaan bukan pekerjaan yang
sederhana. Guru harus dapat menentukan jenis tulisan yang akan diajarkan.
Menurut Hagin (Lovitt, 1989 : 227), ada lima alasan perlunya diajar
menulis huruf cetak lebih dulu pada awal belajar menulis :
1. Huruf cetak lebih mudah dipelajari karena bentuknya sederhana.
2. Buku-buku menggunakan huruf cetak sehingga anak-anak tidak perlu
mengakomodasikan dua bentuk tulisan.
3. Tulisan dengan huruf cetak lebih mudah dibaca daripada tulisan dengan huruf
sambung.
4. Kata-kata yang ditulis dengan huruf cetak lebih mudah dieja karena
huruf-huruf
tersebut berdiri sendiri-sendiri.
Dengan memperhatikan berbagai alasan tersebut di atas maka alangkah
baiknya pada awal belajar menulis ini siswa diajar menulis dengan menggunakan
huruf cetak lebih dulu
1. Pengertian Warga Negara
Warga Negara diartikan dengan orang-orang sebagai bagian darisuatu penduduk
yang menjadi unsur negara.
AS. Hikam mendefinisikan bahwa warga negara merupakan terjemahan dari citizen
adalah anggota dari sebuah komunitas yang
membentuk negara itu sendiri.
Sementara itu, status warga negara
Indonesia telah dibicarakan dalam UU RI Pasal 4 no.12 tahun 2006, yang menjadi
warga negara Indonesia adalah:
1. Setiap orang yang berdasarkan peraturan perundang-undangan dan/atau
bersdasarkan perjanjian pemerintah Republik Indonesia dengan negara lain
sebelum UU ini berlaku sudah menjadi warga negara Indonesia.
2. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah dan ibu warga
negara indonesia.
3. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga negara
Indonesia dan ibu warga negara asing.
4. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari ayah seorang warga negara
asing dan ibu warga negara Indonesia.
5. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ibu warga negara
Indonesia, tetapi ayahnya tidak mempunyai kewarganegaraan atau hukum negara
asal ayahnya tidak memberikan kewarganegaraan kepada anak tsb.
6. Anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 hari setelah ayangya meninggal
dunia dari perkawinan yang sah dan ayahnya warga negara Indonesia.
7. Anak yang lahir diluar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga negara
Indonesia.
8. Anak yang lahir diluar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga negara
asing yang di akui oleh seorang ayah warga negara Indonesia sebagai anaknya dan
pengakuan itu dilakukan sebelum anak tsb berusia 18 tahun atau belum kawin.
9. Anak yang lahir di wilayah republik Indonesia yang pada waktu lahir tidak
jelas kewarganegaraan ayah ibunya.
10. Anak yang baru lahir ditemukan di wilayah Indonesia selam ayah dan ibunya
tidak di ketahui.
11. Anak yang di wilayah Indonesia apabila ayah dan ibunya tidak memiliki
kewarganegaraan atau tidak di ketahui keberadaanya.
12. Anak yang dilahirkan diluar wilayah Indonesia dari seorang ayah da ibu
warga negara Indonesia yang karena ketentuan dari negara tempat anak tsb
dilahirkan memberikan kewarganegaraan kepada anak yang bersangkutan.
13. Anak dari seorang ayah atau ibu yang telah di kabulkan permohonan
kewarganegaraannya, kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia sebelum
mengucapkan sumpah atau janji setia.
2.Asas Kewarganegaraan
Pada umumnya, asas dalam menentukan kewarganegaraan dibedakan antara asas ius
sanguinis dan asas ius soli.
a. Ius soli
Asas ius soli adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang menurut
daerah atau negara tempat dimana ia dilahirkan.
Contoh : Seseorang yang dilahirkan di negara A, maka ia akan menjadi warga
negara A, walaupun orangtuanya warga negara B. Asas ini di anut oleh negara
Inggris, Mesir Amerika Serikat dan lain-lain.
b. Ius sanguinis
Asas ius sanguinis adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang menurut
pertalian darah atau keturunan dari orang tsb.
Contoh : Seseorang yang dilahirkan di negara A, tetapi orangtuanya warga negara
B, maka orang tsb tetap menjadi warga negara B.(asas ini dianut leh RRC)
3.Pengertian Pewarganegaraan
(Naturalisasi)
Pewarganegaraan atau naturalusasi adalah pemerolehan kewarganegaraan bagi
negara asing setelah memenuhi syarat sebagaimana ditetapkan dalam peraturan
perundang-undangan. Didalam UU RI No.12 tahun 2006, permohonan pewarganegaraan
dapat diajukan oleh pemohon jika memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Telah berusia 18 tahun atau sudah kawin.
2. Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertampat tinggal di wilayah negara
Indonesia paling singkat 5 tahun berturut-turut atau paling singkat 10 tahun
tidak berturut-turut.
3. Sehat jasmani dan rohani.
4. Dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar negara Pancasila dan UUD
negara Republik Indonesia tahun 1945.
5. Tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam
dengan pidana 1 tahun atau lebih.
6. Jika dengan memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia, tidak menjadii
berkewarganegaraan ganda.
7. Mempunyai pekerjaan dan/atau berpenghasilan tetap.
8. Membayar uang pewarganegaraan ke kas negara.
Didalam natuarlisasi istimewa dapat diberikan bagi mereka (warga asing) yang
telah berjasa kepada negara RI. kemudian mereka mengucapkan sumpah atau janji
setia (tidak perlu memenuhi syarat sebagai mana dalam naturalisasi biasa). Cara
ini diberikan oleh presiden dengan persetujuan DPR RI.
4.Problematika status
kewarganegaraan
Apatride merupakan istilah untuk orang-orang yang tidak mempunyai status
kewarganegaraan. Sedangkan Bipatride merupakan istilah yang digunaklan untuk
orang-orang yang mempunyai status kewarganegaraan rangkap atau dengan istilah
lain dikenal dengan dwikewarganegaraan. Sementara yang dimaksud dengan
multipatride adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan status
kewrganegaraan seseorang yang memiliki 2 atau lebih status kewarganegaraan.
Kondisi seseorang dengan status
dwikewarganegaraan, sering terjadi pada penduduk yang tinggal di daerah
perbatasan diantara 2 negara.
Dalam menentukan status kewarganegaraan, pemerintah lazim menggunakan stelsel
aktif dan stelsel pasif.
Berkaitan dengan kedua stelsel
tersebut, sesorang warga negara dalam suatu warga negara pada dasarnya
mempunyai hak opsi dan hak repudiasi.
1. Hak opsi, adalah hak untuk memilih sesuatu kewarganegaraan (dalam stelsel
aktif)
2. Hak repudiasi, adalah hak untuk menolak sesuatu kewarganegaraan (dalam
stelsel pasif)
3. Cara Mendapatkan dan Kehilangan Kewarganegaraan Indonesia
Pada umumnya ada 2 kelompok warga negara dalam suatu negara, yakni warga negara
yang memperoleh status kewrganegaranya melalui stelsel pasif dikenal juga warga
negara by opertion of law dan warga negara yang memperoleh status
kewarganegaraannya melali stelsel aktif atau dikenal dengan by registration.
1. Seseorang warga negara juga bisa
kehingan kewarganegaran Indonesia. UU RI No.12 tahun 2006 pasal 23, menyatakan
bahwa seseorang bisa kehiolngan kewarganegaraan indonesia apabila memenuhi
hal-hal berikut :
2. Memperoleh kewarganegaran lain atas kemauannya sendiri.
3. Tidak menolak atau tidak melepas kewarganegaran lain, sedangkan orang yang
bersangkutan mendapat kesempatan untuk itu.
4. Dinyatakan hilang kewarganegaraanya oleh Presiden atas permohonannya
sendiri, yang bersangkutan sudah berusia 18 tahun atau sudah kawin, bertempat
tinggal diluar negeri, dan dengan dinyatakan hilang kewarganegaraan RI tidak
menjadi tanpa kewarganegaraanya.
5. Bertempat tinggal diluar wilayah negara Indonesia selama 5 tahun terus
menerus bukan dalam rangka dinas negara, tanpa alasan yang sah dan dengan
sengaja tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi warga negara
Indonesia sebelum jangka waktu 5 tahun itu berakhir, dan setiap 5 tahun
berikutnya yang bersangkutan tidak mengajukan pernyataan ingin tetap menjadi
warga negara Indonesia kepada perwakilan Republik Indonesia di wilayah kerjanya
meliputi tempat tingal yang bersangkutan padahal perwakilan Republik Indonesia
tersebut telah memberitahukan kepada yang bersangkutan, sepajang yang tidak
menjadi tanpa kewarganegaraan.
Seseorang yang kehilangan kewarganegaraan Indonesia dapat memperoleh kembali
kewrganegaraannya apabila memenuhi syarat-syarat seperti yang tertera dalam pasal
31 dan 32. UU RI No.3 tahun 1976 tentang perubahan pasal 18 UU No. 62 tahun
1958 yaitu :
1. Seseorang yang kehilangan kewarganegaraan karena 5 tahun berturut-turut
tinggal diluar negeri tanpa keterangan, dapat memperoleh kewarganegaraan RI
kembali jika ia bertempat tinggal di Indonesia berdasarkan kartu ijin masuk dan
menyatakan ingin kembali menjadi warga negara Indonesia
2. Seseorang yang kehilangan kewarganegaraan Rikarna sebab lain, dapat
memperoleh kembali kewarganegaraan RI jika ia mlaporkan diri dan menyatakan
keterangan untuk kembali ke kewarganegaaan RI kepada perwakilan RI dinegara
tempat tinggalnya dalam jangka waktu 1 tahun terhitung sejak tanggal
diundangkannya UU No.3 tahun 1976 pada 5 April 1976.
5.Kedudukan Warga Negara di Indonesia
Dalam sistem kewarganegaraan di Indonesia, Kedudukan warga negara pada dasarnya
adalah sebagai pilar terwujudnya Negara. Sebagai sebuah negara yang berdaulat
dan merdeka Indonesia mempunyai kedudukan yang sama dengan negara lain di
dunia, pada dasarnya kedudukan warga negara bagi negara Indonesia diwujudkan
dalam berbagai peraturan perundang-undangan tentang kewarganegaraan, yaitu :
1. UUD 1945
Dalam konteks UUD 1945, Kedudukan warga negara dan penduduk diatur dalam pasal
26 yaitu :
1. Yang menjadi warga negara ialah orang-orang warga Indonesia asli dan
orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan UU sebagai warga negara.
2. Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang tinggal di
Indonesai.
3. Hal-hal mengenai warga negara penduduk di atur dengan UU.
2. UU No. 3 tahun 1946
Undang-undang No.3 ialah tentang warga negara dan penduduk negara adalah
peraturan derivasi dibawah dibawah UU 1945 yang digunakan untuk menegakan
kedudukan Negara RI dengan warga negaranya dan kedudukan penduduk negara RI.
3. UU No. 62 tahun 1958
UU No.62 tahun 1958 merupakan penyempurnaan dari UU tentang kewarga negaraan
yang terdahulu. UU No. 62 tahun 1958 tenang kewarganegaraan RI merupakan produk
hukum derivasi dari pasal 5 dan 144 UUD RI 1950 yang sampai saat ini masih
berlaku dan tetap digunakan sebagai sumber hakum yang mengatur masalah
kewarganegaraan di Indonesai setelah kurang lebih 48 tahun berlaku, dan saat
ini dinilai sudah tidak sesuai lagi. Pernasalahan kewarganegaraan yang semakin
kompleks ternyata tidak mampu ditampung oleh undang-undang ini.
4. UU No.12 tahun 2006
RUU Kewarganegaraan yang baru ini memuat beberapa subtansi dasar yang lebih
revolusioner dan aspiratif, seperti :
1. Siapa yang mnjadi warga negara Indonesia
2. Syarat dan tata cara memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia
3. Kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia
4. Syarat dan tata cara memperoleh kembali kewarganegaraan Republik Indonesia
5. Ketentuan pidana
6.Persamaan Kedudukan Warga Negara Indonesia
Warga negara adalah sama kedudukannya, hak dan kewajibannya. Setiap individu
mendapat perlakuan yang sama dari negara. Ketentuan ini secara tegas termuat
dalam konstitusi tertinggi kita, yaitu UUD 1945 Bab X sampai Bab XIV pasal 27
sampai pasal 34. berikut ini dijelaskan secara lebih rinci terntang persamaan
kedudukan warga negara, dalam berbagai bidang
kehidupan.
1. Persamaan kedudukan dalam hukum
dan pemerintah
Pasal 27 ayat (1) menyatakan bahwa “segala warga negara bersamaan kedudukannya
didalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu
dengan tidak ada kecualinya.” Pasal ini juga memperlihatkan kepada kita adanya
kepedulian adanya hak asasi dalambidang
hukum dan politik.
2. Persamaan atas pekerjaan dan
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan (ekonomi)
Pasal 27 ayat (2) menyatakan bahwa “tiap-tiap warga negara berhak atas
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.” Pasal ini memencarkan
persamaan akan keadilan sosial dan kerakyatan. Ini berarti hak asasi ekonomi
warga negara dijamin dan diatur pelaksanaanya.
3. Persamaan dalam hal kemerdekaan
berserikat dan berkumpul (politik)
Pasal 28 E ayat (3) menetapkan warga negara dan setiap orang untuk berserikat,
berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Pasal ini mencerminkan bahwa negara
Indonesia bersifat demokratis dan memberi kebebasan yang bertanggung jawab bagi
setiap warga negaranya untuk melaksanakan hak dan kewajibannya dalam bidang
politik.
4. Persamaan dalam HAM
Dalam Bab X A tentang hak asai manusia dijelaskan secara tertulis bahwa negara
memberikan dan mengakui persamaan setiap warga negara dalam menjalankan HAM.
Mekanisme pelaksanaan HAM secara jelas ditetapkan melalui pasal 28 A sampai
dengan pasal 28 J.
5. Persamaan dalam agama
Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa “negara menjamin kemerdekaan
tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat
menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Berdasar pasal ini tersurat jelas
bahwa begara menjamin persamaan setiap penduduk untuk memeluk agama sesuai
dengan keinginannya. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME dijalankan tanpa
ada paksaan dari pihak manapun.
6. Persamaan dalam upaya pembelaan
negara
Pasal 27 ayat (3) UUD 1945 menyatakan bahwa “setiap warga negara berhak dan wajib
ikut serta dalam upaya pembelaan negara.” Lebih lanjut, pasal 30 UUD 1945
memuat ketentuan pertahanan dan keamanan negara. Kedua pasal tersebut secara
jelas dapat kita ketahui bahwa negara memberikan kesempatan yang sama kepada
setiap warga negara yang ingin membela Indonesia.
7. Pesamaan dalam bidang
pendidikan dan kebudayaan
Pasal 31 dan 32 UUD 1945 menyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai hak dan
kedudukan yang sama dalam masalah pendidikan dan kebudayaan. Kedua pasal ini
menunjukan bahwa begitu konsen dan peduli terhadap pendidikan dan kebudayaan
warga negara Indonesia. Setiap warga negara mendapat porsi yang sama dalam
kedua masalah ini.
8. Persamaan dalam perekonomian dan
kesejahteraan sosial
Persamaan kedudukan warga negara dalam perekonomian dan kesejahteraan diatur
dalam Bab XIV pasal 33 dan 34. pasal 33 mengatur masalah perekonomian nasional
yang diselenggarakan berdasar atas asas kekeluargaan dengan prinsip demokrasi
ekonomi untuk kemakmuran rakyat secara keseluruhan. Selanjutnya pasal 34 memuat
ketentuan tentang kesejahteraan sosial dan jaminan sosial diman fakir miskin
dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara (pasal 1) dan negara bertanggung
jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan
umum yang layak (pasal 3).
7Menghargai Persamaan Kedudukan
Warga Negara di Indonesia
Dalam NKRI, semua warga negar mempunyai kedudukan yang sama dalam bidang
ekonomi, politik, hukum, sosial, budaya, agama dan pertahanan keamanan.
Berikut ini dijelaskan lebih lanjut
wujud persamaan kedudukan warga negara di indonesia dalam berbagai bidang
kehidupan.
1. Bidang
ekonomi
Setiap individu memiliki kesamaan untuk melakukan usaha ekonomi seperti
berdagang, bertani, berkebun, menjual jasa, dsb. Untuk memenuhi dan
meningkatkan taraf hidupnya.
2. Bidang
budaya
Setiap warga negara mempunyai kesamaan hak dalam mengembangkan seni, misalnya
berkreasi dalam seni tari, seni lukisseni musik seni pahat seni bangunan dsb.
3. Bidang
politik
Setiap orang memiliki hak politik yang sama, yakni individu berhak memilih,
menjadi anggota salah satu partai, atau mendirikan partai politik.
4. Bidang
hukum setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama, yakni berhak untuk
mengadakan pembelaan, penuntutan, berperkara di depan pengadilan, dsb.
5. Bidang
agama setiap warga negara di berikan kedudukan yang sama dalam memeluk agama,
menjalankan ibadah dan ritual keagamaannya, berpindah agama ataupun belajar
tentang agama tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.
Sebagai warga negara yang baik serta guna terwujudnya persamaan harkat dan
martabat warga negara sebagai manusia, secara bersama-sama kita wajib saling
menghargai , menghormati prinsip persamaan kedudukan sesama warga negara.
MODEL PEMBELAJARAN TERPADU
MODEL PEMBELAJARAN TERPADU
Model pembelajaran adalah kerangka
konseptual yang menggambarkan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.
A. Pengertian pembelajaran terpadu
Menurut guru besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas
Sebelas Maret (UNS) Solo Prof. Dr. Sri Anitah Wiryawan, M.Pd. (Pikiran Rakyat,
11 April 2003) kurikulum terpadu adalah suatu pendekatan untuk
mengorganisasikan kurikulum dengan cara menghapus garis batas mata pelajaran yang
terpisah-pisah, sedangkan pembelajaran terpadu merupakan
metode pengorganisasian pembelajaran yang menggunakan beberapabidang
mata pelajaran yang sesuai.
Istilah kurikulum terpadu dengan pembelajaran terpadu dalam penggunaannya dapat
saling dipertukarkan. Pembelajaran terpadu merupakan suatu aplikasi salah satu
startegi pembelajaran berdasarkan pendekatan kurikulum terpadu yang bertujuan
untuk menciptakan atau membuat proses pembelajaran secara relevan dan bermakna
bagi anak (Atkinson, 1989:9dalam Ahmad). Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam
pembelajaran terpadu didasarkan pada pendekatan inquiry, yaitu melibatkan siswa
mulai dari merencanakan, mengeksplorasi, dan brain storming dari siswa. Dengan
pendekatan terpadu siswa didorong untuk berani bekerja secara kelompok dan
belajar dari hasil pengalamannya sendiri.
Collins dan Dixon (1991:6 dalam
Ahmad) menyatakan tentang pembelajaran terpadu sebagai berikut :
integrated learning occurs when an authentic event or exploration of a topic in
the driving force in the curriculum.
Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam pelaksanaannya anak dapat diajak
berpartisipasi aktif dalam mengeksplorasi topik atau kejadian, siswa belajar
proses dan isi (materi) lebih dari satu
bidang
studi pada waktu yang sama.
Pembelajaran terpadu sangat memperhatikan kebutuhan anak sesuai dengan
perkembangannya yang holistik dengan melibatkan secara aktif dalam proses
pembelajaran baik fisik maupun emosionalnya. Untuk itu aktivitas yang diberikan
meliputi aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan
yang holistik, bermakna, dan otentik sehingga siswa dapat menerapkan perolehan
belajar untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata di dalam kehidupan
sehari-hari. Pembelajaran terpadu juga menekankan integrasi berbagai aktivitas
untuk mengeksplorasi objek, topik, atau tema yang merupakan kejadian-kejadian,
fakta, dan peristiwa yang otentik.
Pelaksanaan pembelajaran terpadu pada dasarnya agar kurikulum itu bermakna bagi
anak. Hal ini dimaksudkan agar bahan ajar tidak digunakan secara
terpisah-pisah, tetapi merupakan suatu kesatuan bahan yang utuh dan cara
belajar yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa.
Jadi yang dimaksud dengan pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan dalam
pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intramata
pelajaran maupun antarmata pelajaran.
Prabowo (2000:3) mengatakan bahwa pembelajaran terpadu sebagai suatu proses
mempunyai beberapa ciri yaitu :
1. berpusat pada siswa (student centered)
2. proses pembelajaran mengutamakan pemberian pengalaman langsung
3. pemisahan antar bidang
studi tidak terlihat jelas.
Jadi, sesuai dengan
pengertian-pengertian di atas, bahwa dengan adanya pemaduan itu siswa akan
memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran
menjadi bermakna bagi siswa. Bermakna disini memberikan arti bahwa pada
pembelajaran terpadu siswa akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka
pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antarkonsep
dalam intramata pelajaran maupun antarmata pelajaran. Pembelajaran terpadu
tampak lebih menekankan keterlibatan siswa dalam belajar, sehingga siswa
terlibat aktif dalam proses pembelajaran untuk pembuatan keputusan. Setiap
siswa memerlukan bekal pengetahuan dan kecakapan agar dapat hidup di masyarakat
dan bakal ini diharapkan diperoleh melalui pengalaman belajar di sekolah. Oleh
karena itu pengalaman belajar di sekolah sedapat mungkin memberikan bekal siswa
dalam mencapai kecakapan untuk berkarya. Kecakapan ini disebut kecakapan hidup
yang cakupannya lebih luas dibanding hanya sekedar keterampilan.
B. Karakteristik Pembelajaran Terpadu
Sebagai suatu proses, pembelajaran terpadu memiliki karakteristik sebagai
berikut :
1. Pembalajaran terpusat pada anak
Pembalajaran terpadu dikatakan sebagai pembelajaran yang berpusat pada anak,
karena pada dasarnya pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran
yang memberikan keleluasaan pada siswa, baik secara individu maupun secara
kelompok. Siswa dapat aktif mencari, menggali, dan manemukan konsep serta
prinsip-prinsip dari suatu pengetahuan yang harus dikuasainya sesuai dengan
perkembangannya.
2. Menekankan pembentukan pemahaman dan kebermaknaan
Pembelajaran terpadu mengkaji suatu fenomena dari berbagai macam aspek yang
membentuk semacam jalinan antarskemata yang dimiliki oleh siswa, sehingga akan
berdampak pada kebermaknaan dari materi yang dipelajari siswa. Hasil yang nyata
didapat dari segala konsep yang diperoleh dan keterkaitannya dengan konsep-konsep
lain yang dipelajari dan mengakibatkan kegiatan belajar menjadi lebih
bermakna.hal ini diharapkan dapat berakibat pada kemampuan siswa untuk dapat
menerapakan perolahan belajaranya pada pemecahan masalah-masalah yang nyata
dalam kehidupannya.
3. Belajar melalui proses pengalaman langsung
Pada pembelajaran terpadu diprogramkan untuk melibatkan siswa secara langsung
pada konsep dan prisip yang dipelajari dan memungkinkan siswa belajar dengan
melakukan kegiatan secara langsung. Sehingga siswa akan memahami hasil
belajarnya secara langsung dan kemudian siswa akan memahami hasil belajarnya
sesuai dengan fakta dan peristiwa yang mereka alami, bukan sekedar informasi
dari gurunya. Guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator yang membimbing
kearah tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan siswa sebagai aktor pencari fakta
dan informasi untuk mengembangkan pengetahuannya.
4. Lebih memperhatikan proses daripada hasil semata
Pada pembelajaran terpadu dikembangkan pendekatan discovery inquiry (penemuan
terbimbing) yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran yaitu
mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai proses evaluasi. Pembelajaran
terpadu dilaksanakan dengan melihat keinginan, minat, dan kemampua siswa
sehingga memungkinkan siswa termotivasi untuk belajar terus-menerus.
5. Sarat dengan muatan keterkaitan
Pembelajaran terpadu memusatkan perhatian pada pengamatan dan pengkajian suatu
gejala atau peristiwa dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut
pandang yang terkotak-kotak. Sehingga memungkinkan siswa untuk memahami suatu
fenomena pembelajaran dari segala sisi, yang pada gilirannya nanti akan membuat
siswa lebih arif dan bijak dalam menyikapi atau menghadapi kejadian yang ada.
C. Tujuan Pembelajaran Terpadu
Pembalajaran terpadu dikembangkan selain untuk mencapai tujuan pembalajaran
yang telah
ditetapkan, diharapkan siswa juga dapat :
1. Meningkatkan pemahaman konsep yang dipelajarinya secara lebih bermakna,
2. Mengembangkan keterampilan menemukan, mengolah, dan memanfaatkan informasi,
3. Menumbuhkembangkan sikap positif, kebiasaan baik, dan nilai-nilai luhur yang
diperlukan dalam kehidupan,
4. Menumbuhkembangkan keterampilan sosial seperti kerja sama, toleransi,
komunikasi, serta menghargai pendapat orang lain,
5. Meningkatkan minat dalam belajar,
6. Memilih kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
D. Kemanfaatan Pembalajaran Terpadu
Ada beberapa manfaat dalam menggunakan pembelajara terpadu, yaitu :
1. Memungkinkan anak mengekplorasi dan mengekpresikan pengetahuan dan
keterampilannya melalui berbagai kegiatan.
2. Meningkatkan pemahaman anak secara komprehensif.
3. Meningkatkan kecakapan berpikir anak
4. Banyak topik yang tertuang di setiap mata pelajaran mempunyai keterkaiatan
konsep dengan yang dipelajari siswa.
5. Pada pembelajaran terpadu memungkinkan siswa memanfaatkan keterampilannya
yang dikembangkan dari mempelajari keterkaitan antarmata pelajaran.
6. Pembelajaran terpadu melatih siswa untuk semakin banyak membuat hubungan
inter dan antarmata pelajaran, sehingga siswa mampu memproses informasi dengan
cara yang sesuai daya pikirnya dan memungkinkan berkembangnya jaringan
konsep-konsep.
7. Pembalajaran terpadu membantu siswa dapat memecahkan masalah dan berpikir
kritis untuk dapat dikembangkan melalui keterampilan dalam situasi nyata.
8. Daya ingat (retensi) terhadap materi yang dipelajari siswa dapat
ditingkatkan dengan jalan memberikan topik-topik dalam berbagai ragam situasi
dan berbagai ragam kondisi.
9. Dalam pembelajaran terpadu transfer pembelajaran dapat mudah terjadi bila
situasi pembelajaran dekat dengan situasi kehidupan nyata.
10. Meningkatkan interaksi sosial anak.
11. Meningkatkan profesionalisme guru.
E. Model-model pembelajaran terpadu
1. Pembelajaran Terpadu Tipe
Terhubung (Connected)
Connected Model adalah model pengembangan kurikulum yang menggabungkan secara
jelas satu topik dengan topik berikutnya, satu konsep dengan konsep lainnya,
satu kemampuan dengan kemampuan lainnya, kegiatan satu hari dengan hari
lainnya, dalam satu mata pelajaran.
Contoh pengajaran menggunakan pembelajaran terpadu tipe terhubung (connected) :
Guru menghubungkan/menggabungkan konsep matematika tentang uang dengan konsep
jual beli, untung rugi, simpan pinjam, dan bunga.
a. Kelebihan
1. Guru akan dapat melihat gambaran yang menyeluruh dan kemampuan/indikator
yang digabungkan;
2. kegiatan anak lebih terarah untuk mencapai kemampuan yang tertera pada
indikator;
3. siswa memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang suatu konsep sehingga
transfer pengetahuan akan sangat mudah karena konsep-konsep pokok dikembangkan
terus-menerus;
4. siswa dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas dan luas dari konsep yang
dijelaskan dan juga siswa diberi kesempatan untuk melakukan pedalaman,
tinjauan, memperbaiki dan mengasimilasi gagasan secara bertahap.
b. Kekurangan
1. model ini belum memberikan gambaran yang menyeluruh karena belum
menggabungkan bidang-bidang
pengembangan/mata pelajaran yang lain;
2. model ini kurang mendorong guru bekerja sama karena relatif mudah
dilaksanakan secara mandiri;
3. bagi guru bidang
studi mungkin kurang terdorong untuk menghubungkan konsep yang terkait karena
sukarnya mengatur waktu untuk merundingkannya atau karena terfokus pada
keterkaitan konsep, maka pembelajaran secara global jadi terabaikan.
2. Pembelajaran Terpadu Model Jaring
Laba-Laba (Webbed)
Tahapan atau Langkah untuk membuat rancangan pembelajaran terpadu dengan model
jaring laba-laba di TK, yaitu:
1. mempelajari kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator setiapbidang
pengembangan untuk masing-masing kelompok usia;
2. mengidentifikasi tema dan subtema dan memetakannya dalam jaring tema;
3. mengidentifikasi indikator pada setiap kompetensi bidang
pengembangan melalui tema dan subtema;
4. menentukan kegiatan pada setiap bidang
pengembangan dengan mengacu pada indikator yang akan dicapai dan subtema yang
dipilih;
5. menyusun Rencana Kegiatan Mingguan;
6. menyusun Rencana Kegiatan Harian.
Contoh dari penggunaan pembelajaran terpadu model jaring laba-laba (webbed) ini
adalah : siswa dan guru menentukan tema misalnya air, maka guru-guru mata
pelajaran dapat mengajarkan tema air itu ke dalam sub-sub tema misalnya siklus
air, kincir air, air waduk, air sungai, bisnis air dari PDAM yang tergabung
dalam mata pelajaran matematika, IPS, IPA, dan Bahasa.
a. Kelebihan
1. Siswa adalah diperolehnya pandangan hubungan yang utuh tentang kegiatan dari
ilmu-ilmu yang berbeda;
2. faktor motivasi berkembang karena adanya pemilihan tema yang didasarkan pada
minat siswa;
3. siswa dapat dengan mudah melihat bagaimana kegiatan yang berbeda dan ide
yang berbeda dapat saling berhubungan.
b. Kekurangan
1. kecenderungan untuk mengambil tema sangat dangkal sehingga kurang bermanfaat
bagi siswa;
2. seringkali guru terfokus pada kegiatan sehingga materi atau konsep menjadi
terabaikan;
3. memerlukan keseimbangan antara kegiatan dan pengembangan materi pelajaran.
3. Pembelajaran Terpadu Model
Integrated (Terpadu)
Integrated Model adalah model pengembangan kurikulum yang menggunakan
pendekatan lintas bidang
ilmu utama dengan mencari keterampilan, konsep dan sikap yang tumpangtindih.
Dalam konteks pembelajaran TK, Integrated Model adalah model pengembangan
kurikulum yang menggunakan pendekatan lintas bidang
pengembangan. Model ini berusaha memberikan gambaran yang utuh pada anak
tentang tujuan melakukan kegiatan-kegiatan yang terdapat dalam bidang-bidang
pengembangan.
Contoh penerapan pembelajaran terpadu tipe keterpaduan adalah : Pada awalnya
guru menyeleksi konsep-konsep keterampilan dan nilai sikap yang diajarkan dalam
satu semester dari beberapa mata pelajaran misalnya: matematika, IPS, IPA dan
Bahasa. Selanjutnya dipilih beberapa konsep, keterampilan dan nilai sikap yang
memiliki keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di antara beberapa mata
pelajaran.
a. Kelebihan
1. Guru akan dapat melihat gambaran yang menyeluruh dari kemampuan yang
dikembangkan dari berbagai bidang
studi/mata pelajaran;
2. memberikan kegiatan yang lebih terarah pada tiap bidang
pengembangan untuk mencapai kemampuan yang telah ditentukan pada indikator;
3. siswa merasa senang dengan adanya keterkaitan dan hubungan timbale balik
antar berbagai disiplin ilmu;
4. memperluas wawasan dan apresiasi guru.
b. Kekurangan
1. Cukup sulit dilaksanakan karena membutuhkan guru yang berkemampuan tinggi
dan yakin dengan konsep dan kemampuan yang akan dikembangkan di setiap bidang
pengembangan;
2. kurang efektif karena membutuhkan kerjasama dari banyak guru;
3. sulit mencari keterkaitan antara mata pelajaran yang satu dengan yang
lainnya, juga mencari keterkaitan aspek keterampilan yang terkait;
4. dibutuhkan banyak waktu pada beberapa mata pelajaran untuk didiskusikan guna
mencari keterkaitan dan mencari tema.
F. Kelebihan dan Kekurangan
Pembelajaran Terpadu
1. Kelebihan
Kelebihan tersebut didasari oleh beberapa alasan.
1. Materi pelajaran menjadi dekat dengan kehidupan anak sehingga anak dengan
mudah memahami sekaligus melakukannya.
2. Siswa juga dengan mudah dapat mengaitkan hubungan materi pelajaran di mata
pelajaran yang satu dengan mata pelajaran lainnya.
3. Dengan bekerja dalam kelompok, siswa juga dapat mengembangkan kemampuan
belajarnya dalam aspek afektif dan psikomotorik, selain aspek kognitif.
4. Pembelajaran terpadu mengakomodir jenis kecerdasan siswa.
5. Dengan pendekatan pembelajaran terpadu guru dapat dengan mudah menggunakan
belajar siswa aktif sebagai metode pembelajaran.
2. Kekurangan
1. Aspek Guru: Guru harus berwawasan luas, memiliki kreativitas tinggi,
keterampilan metodologis yang handal, rasa percaya diri yang tinggi, dan berani
mengemas dan mengembangkan materi. Secara akademik, guru dituntut untuk terus
menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan
diajarkan dan banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus
pada bidang
kajian tertentu saja. Tanpa kondisi ini, maka pembelajaran terpadu akan sulit
terwujud.
2. Aspek peserta didik: Pembelajaran terpadu menuntut kemampuan belajar peserta
didik yang relatif “baik”, baik dalam kemampuan akademik maupun kreativitasnya.
Hal ini terjadi karena model pembelajaran terpadu menekankan pada kemampuan
analitik (mengurai), kemampuan asosiatif (menghubung-hubungkan), kemampuan
eksploratif dan elaboratif (menggali dan menemukan). Bila kondisi ini tidak
dimiliki, maka penerapan model pembelajaran terpadu ini sangat sulit
dilaksanakan.
3. Aspek sarana dan sumber pembelajaran: Pembelajaran terpadu memerlukan bahan
bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan bervariasi, mungkin juga
fasilitas internet. Semua ini akan menunjang, memperkaya, dan mempermudah
pengembangan wawasan. Bila sarana ini tidak dipenuhi, maka penerapan
pembelajaran terpadu juga akan terhambat.
4. Aspek kurikulum: Kurikulum harus luwes, berorientasi pada pencapaian
ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada pencapaian target penyampaian
materi). Guru perlu diberi kewenangan dalam mengembangkan materi, metode,
penilaian keberhasilan pembelajaran peserta didik.
5. Aspek penilaian: Pembelajaran terpadu membutuhkan cara penilaian yang
menyeluruh (komprehensif), yaitu menetapkan keberhasilan belajar peserta didik
dari beberapa bidang
kajian terkait yang dipadukan. Dalam kaitan ini, guru selain dituntut untuk
menyediakan teknik dan prosedur pelaksanaan penilaian dan pengukuran yang
komprehensif, juga dituntut untuk berkoordinasi dengan guru lain, bila materi
pelajaran berasal dari guru yang berbeda.
6. Suasana pembelajaran: Pembelajaran terpadu berkecenderungan mengutamakan
salah satu bidang
kajian dan ‘tenggelam’nya bidang
kajian lain. Dengan kata lain, pada saat mengajarkan sebuah TEMA, maka guru
berkecenderungan menekankan atau mengutamakan substansi gabungan tersebut
sesuai dengan pemahaman, selera, dan latar belakang pendidikan guru itu
sendiri.
G. Cara/Strategi Pembalajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu memadukan siswa
dan memadukan materi-materidari matapelajaran-matapelajaran.
1. Integrasi melalui pemaduan siswa
Cara ini memadukan beberapa kelas menjadi satu kelas, sehingga 1 pembelajaran
kelas diikuti oleh lebih dari satu tungkat usia siswa. Misalnya kelas 1 dan
kelas 2 SD diajar matematika bersama-sama. Cara ini tentunya memerlukan
keahlian guru untuk memberikan tugas yang bertingkat sehingga siswa belajar
dari yang mudah menuju tingkat yang lebih sulit. Siswa kelas 1 dapat belajar
dari siswa yang lebih tua dan lebih pengetahuannya, sedangkan siswa yang lebih
tua (kelas 2) dapat mengajarkan pengetahuannya kepada siswa yang lebih muda.
2. Integrasi materi/mata pelajaran
Cara ini memadukan materi dari beberapa mata pelajaran dalam satu kesatuan
kegiatan pembelajaran. Dalam 1 kegiatan pembelajaran siswa belajar berbagai
mata pelajaran misal matematika, Bahasa, IPA, dan IPS. Cara ini biasanya
dilakukan dengan memadukan topik-topik (tema-tema) menjadi satu kesatuan tema
yang disebut tematik unit. Tematik unit merupakan rangkaian tema yang
dikembangkan dari suatu tema dasar. Sedangkan tema dasar merupakan pilihan atau
kesepakatan antara guru dengan siswa berdasarkan kajian keseharian yang dialami
siswa dengan penyesuaian dari materi-materi yang ada pada kurikulum.
Selanjutnya tema dasar tersebut dikembangkan menjadi banyak tema yang disebut
unit tema (subtema).
H. Prosedur Pelaksanaan Pembelajaran
Terpadu
Pada dasarnya ada 2 tahap yang harus dilalui dalam prosedur pembelajaran
terpadu yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi.
1. Tahap Perencanaan Pembelajaran Terpadu
Perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah rangkaian yang memuat isi dan
kegiatan pembelajaran yang bersifat menyeluruh dan sistematis, yang akan
digunakan sebagai pedoman oleh guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar.
Dalam pembalajaran terpadu perencanaan yang harus dilakukan seorang guru adalah
sebagai berikut :
a. Pemilihan tema dan unit-unit tema
Pemilihan tema ini dapat dating dari staf pengajar yaitu guru kelas atau
guru bidang
studi dan siswa. Biasanya guru yang memilih tema dasarnya dan dengan musyawarah
siswa memilih unit tema. Pemilihan tema dasar yang dilakukan oleh guru dengan
mengaju pada tema dan materi-materi pada pokok bahasan pada setiap mata
pelajaran yang terdapat pada kurikulum. Tema dapat juga dipilih berdasarkan
pertimbangan lain, yaitu tema yang dipilih merupakan consensus antar siswa,
misal dari buku-buku bacaan, pengalaman, minat, isu-isu, yang sedang beredar di
masyarakat dengan mengingat ketersediaan sarana dan sumber belajar yang sesuai
dengan tingkat perkembanagn siswa.
1) Tema dasar-Unit tema
Tema dapat muncul dari siswa, kemudian guru yang mengorganisir atau guru
melontarkan tema dasar, kemudian siswa mengembangkan unit temanya.
2) Curah pendapat
Curah pendapat ini bermanfaat untuk memunculkan tema dasar kemudian
dikembangkan menjadi unit tema. Setelah tema dasar dan unit tema dipilih maka
akan terbentuk jaring-jaring.
Ada beberapa syarat yang harus
dipenuhi dalam penentuan tema, yaitu :
• Penentuan tema merupakan hasil ramuan dari berbagai materi di dalam satu atau
beberapa mata pelajaran.
• Tema diangkat sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran yang terpadu
dalam materi pelajaran, prosedur penyampaian, serta pemaknaan pengalaman
belajar oleh para siswa.
• Tema disesuaikan dengan karakteristik belajar siswa sehingga asas
perkembangan berpikir anak dapat dimanfaatkan secara maksimal.
• Tema harus bersifat cukup problematik atau popular sehingga membuka
kemungkinan luas untuk melaksanakan pembelajaran yang beragam yang mengandung
substansif yang lebih luas yang apabila dibandingkan dengan pembelajaran yang
biasa.
Beberapa prosedur pemilihan tema adalah sebagai berikut :
Model ke-1
Pada model ini tema sudah ditentukan atau dipilih oleh guru berdasar pada
beberapa kurikulum beberapa mata pelajaran yang kemudian dapat dikembangkan
menjadi sub-sub tema atau unit tema.
Model ke-2
Pada model ini tema ditentukan bersama antara guru dengan siswa. Meskipun
demikian tema tidak boleh lepas dari materi yang akan dipelajari.
Model ke-3
Pada model ini tema ditentukan oleh siswa dengan bimbingan guru.
b. Langkah perencanaan aktivitas
Langkah perencanaan aktivitas di sini meliputi : pemilihan sumber, pemilihan
aktivitas, dan perencanaan evaluasi. Evaluasi dalam pembalajaran terpadu
meliputi berikut ini :
1. Janis evaluasi yaitu evaluasi otentik.
2. Sasaran evaluasi berupa proses dan dan hasil belajar siswa.
3. Aspek yang dievaluasi. Keseluruhan aspek kepribadian siswa dievaluasi yaitu
meliputi kognitif, afektif, dan psikomotorik.
4. Teknik-teknik evaluasi yang digunakan meliputi :
a. Observasi (mengamati prilaku hasil belajar siswa) dengan menggunakan daftar
cek atau skala penilaian.
b. Wawancara guru dan siswa dengan menggunakan pedoman wawancara.
c. Evaluasi siswa
d. Jurnal siswa
e. Portofolio
f. Tes prestasi belajar (baku atau buatan guru)
c. Kontrak belajar
Kontrak belajar ini akan memeberikan arah dan isi aktivitas siswa dan merupakan
suatu kesepakatan antara guru dan siswa.
2. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu dan Evaluasi
Pada tahap pelaksanan ini langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
a. Aktivitas siswa
Aktivitas dapat berupa : pengumpulan informasi baik kelompok maupun individual,
membaca sumber, wawancara dengan narasumber, pengamatan lapangan, eksperimen,
pengolahan informasi, dan penyusunan laporan.
b.Kulminasi (Sharing)
Kulminasi (Sharing) dalam bentuk penilaian proses (merupakan dampak dari proses
pembelajaran, dampak pengiring, prosedur formal dan informal terutama untuk
memperoleh balikan) yaitu penyajian laporan, diskusi dan balikan, unjuk kerja
dan pameran, serta evaluasi.
I. Kesimpulan
Jadi yang dimaksud dengan pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan dalam
pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intramata
pelajaran maupun antarmata pelajaran. Disini dituntut keprofesionalan seorang
guru dalam mengkaitkan beberapa materi dalam satu mata pelajaran atau bahkan
dari berbagai macam mata pelajaran. Guru sangat dituntut untuk berwawasan yang
luas, sehingga dalam mengkaitkan antar beberapa mata pelajaran tidak
terpisah-pisah, melainkan menjadi suatu kesatuan yang utuh.
Model
Pembelajaran Berbasis Proyek atau Tugas
- Pengertian
Pembelajaran berbasis proyek atau
tugas adalah metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam
pengumpulan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya
dalam beraktivitas secara nyata.
Pembelajaran berbasis proyek/tugas
(project-based/task learning) membutuhkan suatu pendekatan pengajaran
komprehensif di mana lingkungan belajar siswa didesain agar siswa dapat
melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah autentik termasuk pendalaman
materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna
lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri
dalam mengkostruksikannya dalam produk nyata (Buck Institue for Eduction,
2001).
Dalam pem bel ajaran berbasis
proyek, siswa diberikan tugas atau pro yek yang kompleks, cukup sulit,
lengkap, tetapi realistik dan kemudian di be rikan bantuan secukupnya agar
mereka dapat menyelesaikan tugas. Di sam ping itu, penerapan strategi pembel
ajaran berbasis proyek/ tugas ini mendo rong tumbuhnya kompetensi nurturant
seperti kreativitas, ke mandirian, tanggung jawab, keper cayaan diri, dan
berpikir kritis dan analitis.
Dari berbagai karakteristiknya,
Pembelajaran Berbasis Proyek didukung teori-teori belajar
konstruktivistik.Konstruktivisme adalah teori belajar yang mendapat
dukungan luas yang bersandar pada ide bahwa peserta didik membangun
pengetahuannya sendiri di dalam konteks pengalamannya sendiri.
Dalam konteks pembaruan di bidang
teknologi pembelajaran, Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dipandang sebagai
pendekatan penciptaan lingkungan belajar yang dapat mendorong pebelajar
mengkonstruk pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman langsung. Proyek
dalam Pembelajaran Berbasis Proyek dibangun berdasarkan ide-ide pebelajar sebagai
bentuk alternatif pemecahan masalah riil tertentu, dan pebelajar mengalami
proses belajar pemecahan masalah itu secara langsung.
Menurut banyak literatur,
konstruktivisme adalah teori belajar yang bersandar pada ide bahwa pebelajar
mengkonstruk pengetahuan mereka sendiri di dalam konteks pengalaman mereka
sendiri (Murphy, 1997; Brook & Brook, 1993, 1999; Driver & Leach, 1993;
Fraser, 1995). Pembelajaran konstruktivistik berfokus pada kegiatan aktif
pebelajar dalam memperoleh pengalaman langsung (“doing”), ketimbang pasif
“menerima” pengetahuan. Dari perspektif konstruktivis, belajar bukanlah murni
fenomena stimulus-respon sebagaimana dikonsepsikan para behavioris, akan tetapi
belajar adalah proses yang memerlukan pengaturan diri sendiri (self-regulation)
dan pembangunan struktur konseptual melalui refleksi dan abstraksi (von
Glaserfeld, dalam Murphy, 1997). Kegiatan nyata yang dilakukan dalam proyek
memberikan pengalaman belajar yang dapat membantu refleksi dan mendekatkan
hubungan aktivitas dunia nyata dengan pengetahuan konseptual yang melatarinya
yang diharapkan akan dapat berkembang lebih luas dan lebih mendalam (Barron,
Schwartz, Vye, Moore, Petrosino, Zech, Bransford, & The Cognition and
Technology Group at Vanderbilt, 1998).
Hal ini menunjukkan bahwa Pembelajaran
Berbasis Proyek, yang mendasarkan pada aktivitas dunia nyata, berpotensi
memperluas dan memperdalam pengetahuan konseptual dan prosedural (Gagne, 1985),
yang pada khasanah lain disebut juga knowing that dan knowing how (Wilson,
1995). Knowing ‘that’ and ‘how’ is not sufficient without the disposition to
‘do’ (Kerka, 1997). Perluasan dan pendalaman pemahaman pengetahuan tersebut
dapat diamati dengan mengukur peningkatan kecakapan akademiknya.
Peranan guru yang utama adalah
mengendalikan ide-ide dan interpretasi siswa dalam belajar, dan memberikan
alternatif-alternatif melalui aplikasi, bukti-bukti, dan argumen-argumen.
- Katakteristik pembelajaran berbasis proyek / tugas
Pembelajaran berbasis proyek
memiliki potensi yang besar untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih
menarik dan bermakna bagi siswa ( Gear, 1998). Sedangkan menurut Buck Institute
For Education (1999)dalam Made (2000, 145) belajar berbasis proyek memiliki
karakteristik yaitu :
- Siswa membuat keputusan dan membuat kerangka kerja
- Terdapat masalah yang pemecahannya tidak
ditentukan sebelumnya
- Siswa merancang proses untuk mencapai hasil
- Siswa bertanggunga jawab untuk mendapatkan dan
mengelola informasi yang dikumpulkan
- Siswa melakukan evaluasi secara kontinu
- Siswa secara teratur melihat kembali apa yang meraka
kerjakan
- Hasil akhir berupa produk dan di evaluasi kualitasnya
- Kelas memiliki atmosfir yang memberikan toleransi
kesalahan dan perubahan.
- Ciri – ciri dan Prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek
atau Tugas
Ada lima criteria apakah suatu
pembelajaran berproyek termasuk pembelajaran berbasis proyek , lima criteria
itu yaitu :
- Keterpusatan ( centrality)
Proyek dalam pembelajaran berbasis
proyek adalah pusat atau inti kurikulum, bukan pelengkap kurikulum ,didalam
pembelajaran proyek adalah strategi pembelajaran, pelajaran mengalami dan
belajar konsep – konsep inti suatu disiplin ilmu melalui proyek. Model ini
merupakan pusat strategi pembelajaran, dimana siswa belajar konsep utama dari
suatu pengetahuan melalui kerja proyek. Oleh karna itu, kerja proyek bukan
merupakan praktik tambahan dan aplikasi praktis dari konsep yang sedang
dipelajari , melainkan menjadi sentral kegiatan pembelajaran dikelas.
- Berfokus pada pertanyaan atau masalah
Proyek dalam PBL adalah berfokus
pada pertanyaan atau masalah , yang mendorong pelajar menjalani (dalam kerja
keras ) konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti atau pokok dari disiplin.
- Investigasi konstruktif atau desain
Proyek melibatkan pelajaran dalam
investigasi konstruktif dapat berupadesain, pengambilan keputusan, penemuan
masalah, pemecahan masalah, deskoveri akan tetapi aktifitas inti dari proyek
ini harus meliputi transformasi dan kontruksi pengetahuan
- Bersifat otonomi pembelajaran
Lebih mengutamakan otonomi, pilihan
waktu kerja dan tanggung jawab pelajaran terhadap proyek
- Bersifat realisme
Pembelajaran berebasis proyek
melibatkan tantangan kehidupan nyata , berfokus pada pertanyaanatau masalah
autentik bukan simulative dan pemecahannya berpotensi untuk diterapkan
dilapangan yang sesungguhnya.
- Pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek atau tugas
Berdasarkan kegiatan pengajar dan
pelajar dalam pendekatan PBL, maka PBL yang akan dibuat di dalam lingkungan web
terbagi dalam tiga tahapan yakni persiapan, pembelajaran dan evaluasi, tetapi
dari tiga tahapan tersebut dapat dideskripsikan menjadi enam tahapan sebagai
berikut
- Persiapan
Pengajar merancang desain atau
membuat kerangka proyek yang bermanfaat dalam menyediakan informasi yang
dibutuhkan oleh pelajar dalam mengembangkan pemikiran terhadap proyek tersebut sesuai
dengan kerangka yang ada, dan menyediakan sumber yang dapat membantu
pengerjaannya. Hal ini akan mendukung keberhasilan pelajar dalam menyelesaikan
suatu proyek dan cukup membantu dalam menjawab pertanyaan, beraktifitas dan
berkarya. Kerangka menjadi sesuatu yang penting untuk dibaca dan digunakan oleh
pelajar. Oleh karenanya, pengajar harus melakukan perannya dengan baik dalam
menganalisa dan mengintegrasikan kurikulum, mengumpulkan pertanyaan, mencari
web site atau sumber yang dapat membantu pelajar dalam menyelesaikan proyek,
dan menyimpannya di dalam web.
- Penugasan/menentukan topik.
Sesuai dengan tugas proyek yang
diberikan oleh pengajar maupun pilihan sendiri, pelajar akan memperoleh dan
membaca kerangka proyek, lalu berupaya mencari sumber yang dapat membantu.
Dengan berdasar pada referensi alamat web yang berisi materi relevan, pelajar
dengan cepat dan langsung mendapatkan materi yang berkualitas yang sesuai
dengan kebutuhan proyek. Lalu pelajar berupaya berpikir dengan kemampuannya
berdasar pada pengalaman yang dimiliki, membuat pemetaan topik, dan
mengembangkan gagasannya dalam menentukan sub topik suatu proyek.
- Merencanakan kegiatan.
Pelajar bekerja dalam proyek
individual, kelompok dalam satu kelas atau antar kelas. Pelajar menentukan
kegiatan dan langkah yang akan diambil sesuai dengan sub topiknya, merencanakan
waktu pengerjaan dari semua sub topik dan menyimpannya di dalam web. Jika
bekerja dalam kelompok, tiap anggota harus mengikuti aturan dan memiliki rasa
tanggungjawab. Sedangkan pengajar berkewajiban menyampaikan isi dari rencana
proyeknya kepada orang tua, sehingga orang tua dapat ikut serta membantu dan
mendukung anaknya dalam menyelesaikan proyek.
- Investigasi dan penyajian.
Investigasi disini termasuk kegiatan
: menanyakan pada ahlinya melalui e-mail, memeriksa web site, dan saling tukar
pengalaman dan pengetahuan serta melakukan survei melalui web. Dalam
perkembangannya, terkadang berisi observasi, eksperimen, dan field trips.
Diskusi dapat dilakukan secara sinkron dan asinkron melalui chating. Lalu
penyajian hasil dapat berupa gambar, tulisan, diagram matematika, pemetaan dan
lain-lain. Secara rutin, orang tua dan pengajar berkomunikasi untuk memantau
kegiatan dan prestasi yang dicapai oleh pelajar.
- Finishing.
Pelajar membuat laporan, presentasi,
halaman web, gambar, dan lain-lain. Sebagai hasil dari kegiatannya. Lalu
pengajar dan pelajar membuat catatan terhadap proyek untuk pengembangan
selanjutnya. Peserta menerima feedback atas apa yang dibuatnya dari kelompok,
teman, dan pengajar. Fasilitas feedback online disajikan untuk memungkinkan
setiap individu secara langsung berkomentar dan memberikan kontribusi, dan agar
dilihat dan bermanfaat bagi orang lain.
- Monitoring/Evaluasi.
Pengajar menilai semua proses pengerjaan proyek yang dilakukan oleh tiap
pelajar berdasar pada partisipasi dan produktifitasnya dalam pengerjaan
proyek.
- Kesimpulan
Pembelajaran berbasis proyek / tugas
adalah sebuah metode penyajian bahan pembelajaran yang diberikan oleh guru
kepada peserta didik berupa seperangkat tugas yang harus dikerjakan peserta
didik, baik secara individual maupun secara kelompok.
Penggunaan metode yang tepat akan
turut menentukan efektivitas dan efisiensi pembelajaran dan memberikan
kesempatan peserta didik melakukan sendiri kegiatan belajar yang ditugaskan.
empat prinsip berikut ini akan membantu siswa dalam perjalana mereka menjadi
pembelajar mandiri yang efektif.
- Membuat tugas bermakna, jelas, dan menantang
Salah satu tantangan paling sukar
yang dihadapi guru pada saat mereka menggunakan pekerjaan kelas atau pekerjaan
rumah adalah menjaga siswa tetap terlibat. Pada saat bekerja sendiri, sangat
mudah bagi sisa untuk kehilangan minat dan melalukan tindakan yang tidak
relevan, khususnya apabila tugas-tugas itu rutin.
Kebanyakan guru setuju bahwa tugas
pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah mandiri yang dapat mempertahankan
keterlibatan siswa memiliki tujuan yang jelas. Siswa perlu mengetahui dengan
tepat apa yang mereka harus kerjakan, mengapa mereka mengerjakan pekerjaan itu,
dan apa yang dibutuhkanuntuk menyelsaikan pekerjaan itu. Siswa-siswa itu tetap
berada dalam tugas selama pekerjaan kelas dan menyelesaikan pekerjaan rumah
apabila mereka menyikapi tugas-tugas tersebut secar bermakna.
Linda Anderson (1985) menunjukan
bahwa guru jarang menaruh perhatian pada tujuan pekerjaan kelas atau
strategi-strategi belajar yang telibat. Sebaliknya, guru menekankan pada
arahan-arahan procedural. Sebagai contoh guru dpat menghabiskan waktu banyak
menjelaskan kepad siswa di mana menulis nama di kertas atau bagaimana menyusun
jawaban-jawabannya. Sementar petunjuk-petunjuk tentang “apa yang dilakukan”
adalah penting guru tidak menyertakan penjelasan tentang “mengapa” sesuatu
harus dikerjakan dan proses-proses pembelajaran yang terlibat. Sebelum
memberikan suatu tugas, guru hendaknya mempertimbangkan cirri penting itu
secara seksama dan kemudian menyediakan waktu cukupuntuk menjelaskan cirri
penting itu kepada siswa.
- Menganekaragamkan Tugas-tugas
Sama dengan kehidupan pada umumnya,
keanekaragaman menambah daya tarik tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan
rumah.siswa kemungkinan besar ttap terlibata dan mengerjakan pekerjaan mereka
jika tugas-tugas lebih bervariasi dan menarik daripada rutindan monoton. Guru
yang efektif mengubah panjang dan cara tugas yang diberikan di samping hakikat
tugas beljar dan strategi-strategi kognitif yang telibat. Membaca di dalam
hati, laporan proyek-proyek khusus, dan bahan-bahan multimedia menawarkn
berbagai macam cara untuk menyelesaikan pekerjaan mandiri. Pilihan kemungkinan
tidak terbatas dan tidak aka alasan bagi guru untuk membuat jenis tugas yang
sama dari hari ke hari.
- Menaruh Perhatian pada Tingkat Kesulitan
Menetapkan tingkat kesulitan yang
cocok atas tugas-tugas yang diberikan kepada siswa merupakan suatu bahan baku
penting untuk keterlibatan berkelanjutan yang dibutuhkan untuk penyelesaian
tugas-tugas tersebut. Apabila siswa diharapkan untuk bekerja secara mandiri,
tugas tesebut sehrusnya memiliki tingkat kesulitan yang menjamin kemungkinan
berhasil tinggi. Siswa tidak akan tertantang ketika tugas-tugas yang diberikan
guru terlalu mudah. Mereka menyikapi tugas-tugas seperti sebagai pekerjaan yang
tidak menantang. Pada umumnya tugas yang baik perlu memiliki tingkat kesulitan
cukup sehingga kebanyakan siswa memandangnya sebagai sesuatu yang menantang,
namun cukup mudah sehingga kebanyakan siswa akan menemukan pemecahannya dan
mengerjakan tugas tersebut atas jerih payah sendiri.
- Memonitor Kemajuan Siswa
Akhirnya, merupakan hal penting bagi
guru untuk memonitor tugas-tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah.
Monitoring hendaknya meliputi pengecekan untuk mengetahui apakah siswa memahami
tugas mereka dan proses-proses kognitif yang telibat. Monitoring ini juga
termasuk pengecekan pekerjaan siswa dan mengembalikan tugas dengan umpan balik.
Pad saat beberfapa siswa diberikan pekerjaan kelas, maka guru dapat bekerja
dengan siswa lain.a dianjurkan agar guru menyediakan waktu 5 atau 10 menit
untuk berkeliling di antara siswa yang bekerja untuk memastikan apakah mereka
memahami tugas tersebut sebelum menangani siswa-siswa lain. Apabila siswa
bekerja dalam kelompok-kelompok, maka guru hendaknya berada dalam
kelompok-kelompok tersebut secara bergantian dan berkeliling di antara siswa
yang bekerja secara mandiri. Meskipun mengoreksi tugas menghabiskan waktu,
hendaknya guru mengoreksi pekerjaan yang dibuat siswa dan mengembalikan kepda
mereka dengan umpan balik.
Kompetensi yang dikembangkan selain
kompetensi disiplin ilmu (discipline-based competencies) dan kompetensi
interpersonal (interpersonal competencies ) dan kompetensi intrapersonal (
intrapersonal competencies) dalam diri siswa. Kompetensi disiplin ilmu
berkaitan dengan pemahaman konsep, prinsip dan teori dari disiplin ilmu.
Kompetensi interpersonal mencakup kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi,
berperilaku sopan dan baik, menangani konflik, bekerjasama, membantu orang
lain, dan menjalin hubungan dengan orang lain dan masyarakat. Kompetensi
intrapersonal mencakup apresiasi terhadap keragaman, melakukan refleksi diri,
disiplin, beretos kerja tinggi, membiasakan diri hidup sehat, mengendalikan
emosi, tekun, mandiri, dan mempunyai motivasi.
Kompetensi yang telah
diidentifikasi dari pebelajar ini merupakan kompetensi yang amat penting untuk
keberhasilan hidupnya, dan sebagai tenaga kerja merupakan kompetensi yang amat
penting di tempat kerja. Karena hakikat kerja proyek adalah kolaboratif, maka
pengembangan kompetensi tersebut berlangsung di antara pebelajar. Di dalam
kerja kelompok suatu proyek, kekuatan individu dan cara belajar yang diacu memperkuat
kerja tim sebagai suatu keseluruhan.
- Keuntungan dan kelemahan dari pembelajaran berbasis
proyek atau tugas
è Keuntungan dari Belajar
Berbasis Proyek adalah sebagai berikut:
- Meningkatkan motivasi.
Laporan-laporan tertulis tentang
proyek itu banyak yang mengatakan bahwa siswa suka tekun sampai kelewat batas
waktu, berusaha keras dalam mencapai proyek. Guru juga melaporkan pengembangan
dalam kehadiran dan berkurangnya keterlambatan. Siswa melaporkan bahwa belajar
dalam proyek lebih fun daripada komponen kurikulum yang lain.
- Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
Penelitian pada pengembangan
keterampilan kognitif tingkat tinggi siswa menekankan perlunya bagi siswa untuk
terlibat di dalam tugas-tugas pemecahan masalah dan perlunya untuk pembelajaran
khusus pada bagaimana menemukan dan memecahkan masalah. Banyak sumber yang
mendiskripsikan lingkungan belajar berbasis proyek membuat siswa menjadi lebih
aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks.
- Meningkatkan kolaborasi.
Pentingnya kerja kelompok dalam
proyek memerlukan siswa mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi
( Johnson & Johnson, 1989). Kelompok kerja kooperatif, evaluasi siswa,
pertukaran informasi online adalah aspek-aspek kolaboratif dari sebuah proyek.
Teori-teori kognitif yang baru dan konstruktivistik menegaskan bahwa belajar
adalah fenomena sosial, dan bahwa siswa akan belajar lebih di dalam lingkungan
kolaboratif (Vygotsky, 1978; Davidov, 1995).
- Meningkatkan keterampilan mengelola sumber.
Bagian dari menjadi siswa yang
independen adalah bertanggungjawab untuk menyelesaikan tugas yang kompleks.
Pembelajaran Berbais Proyek yang diimplementasikan secara baik memberikan
kepada siswa pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat
alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan
tugas.
- Increased resource – management skills
Pembelajaran berbasis proyek yang
diimplementasikan secara baik menberikan kepada siswa pembelajaran dan praktik
dalam pengorganisasian proyek dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain
seperi perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
è Kelemahan dari pembelajaran
ini yaitu :
- Kebanyakan permasalahan “dunia nyata” yang tidak
terpisahkan dengan masalah kedisiplinan , untuk itu disarankan mengajarkan
dengan cara melatih dan menfasilitasi peserta didik dalam menghadapi
masalah .
- Memerlukan banyak waktu yang harus diselesaikan untuk
menyelesaikan masalah.
- Memerlukan biaya yang cukup banyak
- Banyak peralatan yang harus disediakan
Untuk mengatasi kelemahan dari
pembelajaran berbasis proyek seorang peserta didik dapat mengatasi dengan cara
memfasilitasi peserta didik dalam menghadapi masalah , membatasi waktu peserta
didik dalam menyelesaikan proyek, meminimaliskan dan menyediakan peralatan yang
sederhana yang terdapat dilingkungan sekitar , memilih lokasi penelitian yang
terjangkau yang tidak membutuhkan banyak biaya dan waktu.
PEMBELAJARAN BERBASIS JASA-LAYANAN
(SERVICE LEARNING)
A. Pengertian
Pembelajaran berbasis jasa layanan
merupakan salah satu bagian dari strategi pembelajaran kontekstual.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning/ CTL) merupakan
suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk
memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi
tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial,
dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara
fleksibel, sehingga dapat diterapkan dari satu permasalahan atau konteks, ke
permasalahan atau konteks lainnya.
Jadi dalam pembelajaran kontekstual,
siswa diharapkan mampu memahami makna materi pelajaran yang diajarkan oleh
guru, sehingga siswa memiliki ketrampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan
nyata berkaitan dengan materi yang diajarkan tersebut. Kehidupan nyata siswa
tersebut berkaitan dengan kehidupan sosialnya, kehidupan pribadinya maupun
kehidupan budaya dari lingkungan siswa tersebut.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka
sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelaaran efektif, yakni:
konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri),
masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian
sebenarnya (authentic assessment).
Jadi pembelajaran kontekstual menitikberatkan pada suatu konsep
belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.
Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa
bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Salah satu bentuk nyata dari pembelajaran kontekstual ini dapat kita temui
dalam pembelajaran berbasis jasa layanan, yakni menempatkan siswa di dalam
konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang
sedang dipelajari.
Pembelajaran berbasis jasa layanan merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang
mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis
sekolah, guna merefleksikan jasa-layanan tersebut. Jadi menekankan hubungan
antara pengalaman jasa-layanan dan pembelajaran akademis. Dengan kata lain,
pendekatan ini menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru yang
diperlukan dan berbagi keterampilan untuk memenuhi kebutuhan dalam masyarkat
melalui proyek/tugas terstruktur dan kegiatan lainnya.
B. Ciri-ciri
Seperti yang telah kita ketahui di atas, bahwa pembelajaran berbasis jasa
layanan merupakan salah satu bentuk nyata dari pembelajaran kontekstual. Oleh
karena itu, ciri-ciri pembelajaran berbasis jasa layanan harus sesuai dengan
cirri-ciri pembelajaran kontekstual. Cirri-ciri tersebut antara lain:
1. Melakukan hubungan yang bermakna
(making meaningful connections)
Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari pembelajaran dan
pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan isi dari mata pelajaran
akademik, ilmu pengetahuan alam atau sejarah dengan pengalamannya mereka
sendiri, berarti mereka menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk
belajar. Mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat proses
belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL
2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang
berarti (doing significant works)
Pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran yang dilakukan di
dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga mereka dapat mengkaitkan
materi pelajaran dengan kehidupan siswa.
3. Belajar yang diatur sendiri
(self-regulated Learning)
Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif, mandiri,
melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan kehidupan sehari-hari
dengan cara-cara yang berarti bagi siswa. Pembelajaran yang diatur siswa
sendiri, memberi kebebasan kepada siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri.
4. Bekerjasama (collaborating)
Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam
kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka
memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
5. Berpikir kritis dan kreatif
(critical dan creative thinking)
Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tahap
tinggi, berpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kritis adalah suatu
kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan
masalah, menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian
ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan
kemurnian serta ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu
6. Mengasuh atau memelihara pribadi
siswa (nuturing the individual)
Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan
kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga aspek-aspek
kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin, motif
berprestasi, dan sebagainya. Guru dalam pembelajaran kontekstual juga berperan
sebagai konselor dan mentor. Tugas dan kegiatan yang akan dilakukan siswa harus
sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya.
7. Mencapai standar yang tinggi
(reaching high standards)
Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara optimal, mencapai
keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai keunggulan, asalkan dia
dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan kekuatannya.
8. Menggunakan penilaian yang
autentik (using authentic assessment)
Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan
keterampilan akademik baru dalam situasi nayata untuk tujuan tertentu.
Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian standar, penilaian autentik
memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka
sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari.
Penjelasan-penjelasan di atas
merupakan ciri-ciri pembelajaran kontekstual, dari ciri-ciri tersebut dapat
diambil kesimpulan bahwa pembelajaran berbasis jasa layanan mengandung ciri
bahwa:
1. Melakukan hubungan yang bermakna,
hal ini diwujudkan dengan kerjasama kelompok yang dilakukan dalam menyelesaikan
tugas terstruktur.
2. Bekerja sama guna penerapan praktis dari pengetahuan yang baru diketahui
siswa.
3. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti melalui kegiata yang beranfaat
untuk memenuhi kebutuhan dalam masyarkat( jasa layanan yang berkaitan dengan
tugas terstruktur).
C. Kesimpulan
Pembelajaran berbasis jasa layanan
merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang mengkombinasikan jasa layanan
masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah, guna merefleksikan
jasa-layanan tersebut. Jadi menekankan hubungan antara pengalaman jasa-layanan
dan pembelajaran akademis. Dengan kata lain, pendekatan ini menyajikan suatu
penerapan praktis dari pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagi
keterampilan untuk memenuhi kebutuhan dalam masyarkat melalui proyek/tugas
terstruktur dan kegiatan lainnya.
Pembelajaran berbasis jasa layanan merupakan salah satu bagian dari strategi
pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and
Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi
yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelaaran efektif,
yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan
(inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan
penilaian sebenarnya (authentic assessment). Pembelajaran berbasis jasa layanan
mengandung ciri bahwa:
1. Melakukan hubungan yang bermakna,
hal ini diwujudkan dengan kerjasama kelompok yang dilakukan dalam menyelesaikan
tugas terstruktur.
2. Bekerja sama guna penerapan praktis dari pengetahuan yang baru diketahui
siswa.
3. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti melalui kegiata yang beranfaat
untuk memenuhi kebutuhan dalam masyarkat( jasa layanan yang berkaitan dengan
tugas terstruktur).